Bidik Pasar Tembakau Jatim, Pakistan Ditantang Berbagi Teknologi Budidaya dan Bibit

21 Oktober 2026 19:16 21 Okt 2026 19:16

Putri Nabilla S., Fiqih Arfani

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Bidik Pasar Tembakau Jatim, Pakistan Ditantang Berbagi Teknologi Budidaya dan Bibit

Kunjungan industri Pakistan ke Graha Kadin Jatim dalam rangka menjajaki peluang kerja sama perdagangan tembakau dan pengembangan teknologi budidaya di Jawa Timur.(Foto: Humas Kadin Jatim)

KETIK, SURABAYA – Peluang impor tembakau Virginia dari Pakistan ke Jawa Timur terbuka seiring tingginya kebutuhan industri hasil tembakau (IHT) di daerah tersebut. Namun, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur berharap kerja sama perdagangan itu tidak sebatas mendatangkan bahan baku, tetapi juga mencakup transfer teknologi, pengembangan bibit, dan kerja sama budidaya agar memberikan nilai tambah bagi industri tembakau dalam negeri.

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto mengatakan Jawa Timur merupakan salah satu sentra utama tembakau nasional sekaligus provinsi dengan jumlah industri hasil tembakau terbanyak di Indonesia. Di sisi lain, kebutuhan tembakau Virginia untuk industri rokok di Jatim masih belum sepenuhnya terpenuhi dari produksi dalam negeri.

“Boleh-boleh saja mereka masuk ke sini. Namun, kami berharap ada tukar teknologi. Jadi, tidak hanya membawa tembakau dari negara tertentu, tetapi juga ada kerja sama budidaya, pengembangan bibit, dan teknologinya,” ujar Adik Dwi Putranto saat menerima kunjungan industri Pakistan di Graha Kadin Jatim pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Menurut Adik, tembakau Virginia menjadi salah satu komoditas yang berpeluang dikembangkan melalui kerja sama dengan negara pemasok. Selain Pakistan, Brasil dan Zimbabwe juga menjadi negara pemasok tembakau Virginia untuk Indonesia.

Negara-negara tersebut memiliki potensi pasokan karena produksi tembakau Virginia di negara asal relatif melimpah. Sementara itu, industri hasil tembakau di Jawa Timur membutuhkan pasokan dalam jumlah besar, tetapi produksi lokalnya masih terbatas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, produksi tembakau Jawa Timur pada 2025 mencapai 148,77 ribu ton dengan luas panen 125,54 ribu hektare. Jumlah tersebut menyumbang 46,22 persen dari total produksi tembakau nasional yang mencapai 321,90 ribu ton.

Jawa Timur juga memiliki beragam varietas tembakau yang dikembangkan sesuai dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan industri. Di antaranya, Besuki Na Oogst dari wilayah Jember dan Bondowoso yang banyak dimanfaatkan untuk cerutu ekspor, Kasturi dan Virginia yang dibudidayakan di sejumlah wilayah, termasuk Madura dan Situbondo, serta White Burley dari Lumajang untuk kebutuhan rokok putih mesin.

Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) Kementerian Perindustrian hingga akhir 2024, jumlah industri hasil tembakau di Jawa Timur mencapai 1.352 unit. Besarnya basis industri tersebut menjadikan Jawa Timur pasar potensial bagi pemasok tembakau dari luar negeri.

Adik menilai, peluang perdagangan tembakau impor seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan produksi dalam negeri. Salah satu tantangannya adalah mengembangkan varietas Virginia yang sesuai dengan kondisi agroklimat Indonesia agar ketergantungan terhadap pasokan impor dapat dikurangi.

“Ini bisa menjadi bahan kajian bagi kampus yang memiliki basis pertanian, balai penelitian, maupun lembaga riset lainnya. Bagaimana menghasilkan tembakau Virginia yang benar-benar bisa dibudidayakan di Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, Kadin Jatim juga tengah menjajaki kerja sama dengan salah satu negara yang belum dapat disebutkan namanya. Penjajakan tersebut mencakup pengembangan budidaya, penyediaan bibit, dan transfer teknologi, termasuk peluang pembangunan pabrik di Jawa Timur.

Menurut Adik, pola kerja sama tersebut akan memberikan manfaat lebih luas dibandingkan perdagangan bahan baku semata. Selain membuka peluang investasi, kerja sama itu berpotensi meningkatkan kemampuan petani dan pelaku industri lokal dalam mengembangkan tembakau Virginia.

Sementara itu, Chief Executive Officer Nsyniyaz Tobacco Company, Shaheer Kham, mengatakan perusahaannya telah menjalin komunikasi bisnis dengan Indonesia selama sekitar dua tahun. Kunjungan terbarunya merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan dengan calon pembeli sekaligus menjajaki peluang perdagangan tembakau Pakistan.

“Kami sangat senang dengan upaya yang telah dilakukan untuk menjalin hubungan dengan pembeli di sini. Kami menantikan peluang bisnis dengan pasar Indonesia, khususnya pembeli di industri tembakau,” ujarnya.

Shaheer menilai Indonesia merupakan pasar yang menjanjikan seiring berkembangnya industri tembakau. Perusahaannya ingin memperkenalkan produk tembakau Pakistan kepada pembeli Indonesia sekaligus membangun hubungan bisnis jangka panjang.

Ia mengakui bahwa tembakau Pakistan masih perlu memperluas pengenalan pasar di Indonesia. Menurutnya, harga menjadi salah satu tantangan dalam persaingan dengan produk dari negara lain, termasuk India dan Bangladesh. Meski demikian, ia mengklaim tembakau Pakistan memiliki kualitas lebih baik.

Shaheer menyebut perbedaan harga atau nilai produk tembakau Pakistan dengan produk Bangladesh dapat mencapai sekitar 25–30 persen. Namun, perbandingan tersebut perlu mempertimbangkan jenis, kualitas, dan spesifikasi produk yang diperdagangkan.

“Kami ingin membangun hubungan dengan pembeli Indonesia. Masyarakat di sini sangat ramah dan menyambut kami dengan baik. Kami berharap dapat mengembangkan bisnis bersama mereka,” katanya.

Bagi Kadin Jatim, masuknya pemasok tembakau dari Pakistan maupun negara lain dapat menjadi peluang untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri. Namun, kerja sama tersebut diharapkan berkembang menjadi kemitraan strategis melalui transfer pengetahuan, teknologi, dan pengembangan budidaya di dalam negeri. (*)

Tombol Google News

Tags:

Kunjungan Industri Pakistan Graha Kadin Jatim Adik Dwi Putranto Kadin Jatim Kota Surabaya