KETIK, SURABAYA – Surabaya beberapa hari ini mengalami intensitas hujan yang tinggi, padahal saat ini masuk musim kemarau. Akibatnya, sejumlah wilayah di Kota Pahlawan mengalami kebanjiran hingga menganggu aktivitas warga.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya, Irvan Widyanto menjelaskan, banjir yang menggenangi sejumlah wilayah di Kota Pahlawan karena curah hujan tinggi dan kondisi pasang air laut.
"Berdasarkan prakiraan pasang surut di Pelabuhan Tanjung Perak, kejadian genangan pada 22 Juni 2026 dipengaruhi oleh kombinasi curah hujan dan kondisi pasang laut sedang yang menghambat pembuangan air," katanya dikutip keterangan resmi.
Berdasarkan koordinasi BMKG Kelas I Juanda dan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya, diketahui bahwa hujan lebat terjadi dipicu oleh fenomena konvergensi angin atau pertemuan massa udara dari dua arah berlawanan.
Fenomena ini mengakibatkan perlambatan kecepatan angin dan memaksa massa udara kaya uap air terangkat vertikal (konveksi). Kondisi inilah yang membuat pembentukan awan, sehingga menimbulkan hujan lebat.
"Pola angin konvergensi yang didukung kondisi atmosfer yang labil dan lembap dari lapisan bawah hingga menengah, sehingga mendukung terjadi pertumbuhan awan Cumulonimbus yang signifikan dan menghasilkan hujan sedang hingga lebat di Wilayah Surabaya," katanya.
Lebih lanjut, selain faktor cuaca. Banjir di Surabaya juga dipengaruhi genangan dari pasang surut air laut yang saat ini masuk kategori pasang sedang.
"Kondisi ini berpotensi meningkatkan efek backwater pada sistem drainase Kota Surabaya dan memperbesar risiko genangan, terutama apabila bertepatan dengan hujan intensitas sedang hingga tinggi," ungkapnya. (*)
.png)