KETIK, GIANYAR – Piala Presiden 2026 kembali menegaskan bahwa ajang ini bukan lagi sekadar turnamen pramusim. Selain menghadirkan persaingan yang semakin kompetitif dengan keikutsertaan klub-klub luar negeri, turnamen ini juga mencatat rekor penonton, dukungan sponsor, serta memberikan dampak ekonomi.
Piala Presiden edisi kali ini dimenangkan Persebaya Surabaya. Klub kebanggaan Bonek dan Bonita tersebut keluar sebagai juara setelah mengalahkan Persib Bandung dalam drama adu penalti di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali pada Kamis malam, 6 Agustus 2026.
Partai final yang mempertemukan Persib kontra Persebaya berlangsung cukup sengit sejak awal. Tak heran, pertandingan harus dilanjutkan hingga 120 menit dan berakhir dengan adu tos-tosan untuk mencari pemenang.
Sejak fase grup, Piala Presiden 2026 selalu menghadirkan sejumlah pertandingan menarik. Keikutsertaan tim-tim luar negeri semakin menambah gengsi turnamen yang hampir selalu digelar sebelum kompetisi resmi bergulir.
Pada Piala Presiden edisi kali ini, ada tiga klub luar negeri yang ambil bagian yakni Port FC (Thailand), DPMM FC (Brunei Darussalam) dan Tampines Rovers (Singapura).
Dari tiga tim tersebut, Port FC merupakan salah satu klub papan atas Thailand yang rutin tampil di kompetisi antarklub Asia.
Kehadiran mereka menjadi indikator meningkatnya daya tarik Piala Presiden di mata klub-klub luar negeri. Persaingan antarklub pun semakin kompetitif karena peserta tidak lagi hanya berasal dari Liga Indonesia.
Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait mengatakan bahwa Piala Presiden tak lagi hanya sebatas turnamen pramusim. Sebab, persaingan untuk menjadi juara bukan perkara mudah.
Menurut Ara, sapaan akrabnya, para kontestan Piala Presiden 2026 tidak hanya datang untuk sekadar bertanding. Mereka benar-benar serius dalam mengarungi setiap laga dengan menunjukkan karakter masing-masing.
“Setiap klub datang bukan untuk sekadar bertanding tapi untuk menunjukkan karakter, kualitas dan semangat terbaiknya untuk menjadi juara,” ungkap Ara dalam sambutannya usai partai final Piala Presiden 2026.
“Bagi kami Piala Presiden bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi. Piala Presiden adalah tentang sebuah nilai luhur yang harus kita pertahankan,” lanjut Ara.
Nilai-nilai yang dimaksud Ara adalah nilai sportivitas, daya juang, dan konsistensi. Serta kepedulian terhadap lingkungan dengan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan keberpihakan kepada ekonomi kerakyatan dengan mengangkat UMKM daerah.
Piala Presiden 2026 mampu menggerakkan perekonomian lokal di setiap kota penyelenggara melalui hotel, tempat makan, kafe, restoran, transportasi dan juga para penjual kostum dari klub-klub yang mengikuti Piala Presiden.
“Pada akhirnya nilai yang kita representasikan adalah kepercayaan. Kepercayaan tidak mungkin dibangun dalam semalam, apalagi dalam olahraga,” jelasnya.
Dikatakan Ara, untuk membangun kepercayaan ada proses yang harus diikuti. Mulai dari tata kelola yang baik, transparansi, serta konsistensi delapan kali menyelenggarakan sebuah turnamen tanpa menggunakan dana APBN, APBD maupun BUMN.
Dalam gelaran Piala Presiden 2026, penyelenggara mendapat kepercayaan dari sponsor dengan dukungan dana hingga Rp100 miliar.
“Untuk kedelapan kalinya Pilpres kembali diselenggarakan dan kepercayaan ini menjadi fondasi utama dan kita bagaimana menghargai sponsor yang men-support acara ini,” terang Ara.
Catatkan Rekor Penonton
Lebih lanjut, Ara memaparkan bahwa Piala Presiden 2026 berhasil mencatatkan sejumlah rekor baru. Salah satunya adalah TV rating sebesar 4,3 dan TV share 24,5 yang artinya turnamen ini ditonton sekitar 172 juta orang.
“Ini mengalami peningkatan yang besar sekitar 16% dari tahun 2025. Artinya trennya positif. Hal ini membuktikan bahwa Presiden terus menghadirkan tontonan sepak bola yang berkualitas dan semakin dicintai masyarakat,” ungkap Ara.
Tidak hanya hiburan, Piala Presiden 2026 juga mampu menggerakkan perekonomian dengan melibatkan ratusan UMKM di tiga lokasi penyelenggaraan.
“Sesuai arahan Bapak Presiden harus menggerakkan ekonomi kerakyatan dan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan. Kami melibatkan 165 UMKM di Bandung, Surabaya dan Bali dengan nilai transaksi yang makin meningkat sepanjang turnamen ini,” bebernya.
Pihaknya juga menjaga komitmen soal kebersihan dengan melibatkan berbagai komunitas lokal di setiap kota penyelenggara seperti Metamorfosa, Rumah Bintang Bandung, Nol Sampah Surabaya, dan Trace Ranger Bali.
“Sebanyak 325 personel kebersihan terlibat dan seluruh sampah dipilah untuk didaur ulang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” pungkasnya.(*)
