Benang Emas, Saat Mesin Jahit Mengubah Nasib Ratusan Warga MBR Surabaya

Jurnalis: Shinta Miranda
Editor: Aziz Mahrizal

28 Okt 2025 18:57

Thumbnail Benang Emas, Saat Mesin Jahit Mengubah Nasib Ratusan Warga MBR Surabaya
UKM Benang Emas di bawah naungan Koperasi Sumber Barokah (SMB). (Foto: Humas Pemkot Surabaya)

KETIK, SURABAYA – Deru mesin jahit terdengar tiada henti dari sebuah rumah sederhana di Jalan Tambak Wedi, Surabaya. Suara jarum menembus kain berpadu dengan tawa para penjahit yang tengah bergotong-royong menyelesaikan pesanan seragam sekolah.

Di balik kesibukan itu, tersimpan kisah tentang bagaimana kerja keras, gotong royong, dan dukungan pemerintah mampu mengubah hidup banyak orang.

Selama empat tahun berdiri, UKM Benang Emas di bawah naungan Koperasi Sumber Barokah (SMB) telah menjadi tumpuan ekonomi bagi 114 anggotanya.

Bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi juga wadah yang menumbuhkan harga diri dan rasa percaya diri warga masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Surabaya.

Baca Juga:
Penemuan Jenazah di Bawah Jembatan Tol Wonocolo Surabaya, Tim 112 Segera Evakuasi

Ketua Koperasi SMB, Uci Fatimatuzzahro, mengatakan UKM ini berdiri dengan semangat sosial dan bisnis.

“Fokus utama kami adalah progres dan pertumbuhan berkelanjutan. Kami hadir untuk menaungi ibu-ibu dan bapak-bapak yang ingin menambah penghasilan dan menjadikan aktivitas menjahit sebagai second engine (mesin kedua) dalam ekonomi keluarga,” ujar Ning Uci sapaan akrabnya, Selasa, 28 Oktober 2025.

Semangat pemberdayaan ini sejalan dengan kebijakan pro-UMKM Pemkot Surabaya.

Dukungan pemerintah melalui proyek seperti seragam gratis bagi siswa MBR menjadi pijakan penting bagi keberlangsungan usaha para penjahit Benang Emas. Dari pekerjaan yang semula dianggap sampingan, kini menjadi sumber penghasilan utama yang stabil.

Baca Juga:
Kota Surabaya dan Malang Diprakirakan Cerah 14 April 2026, Cek Info Cuaca Jawa Timur

Namun, bagi Ning Uci, perubahan terbesar bukan di angka omzet, melainkan pada pembangunan mental dan harga diri para anggotanya. Melalui Sekolah Tangguh UKM Tangguh Surabaya (Setara), setiap penjahit dilatih disiplin dan tanggung jawab profesional.

“Anggota diajarkan prinsip deadline yang tak bisa ditawar, bahkan menerapkan tanggung renteng saling bantu menyelesaikan pesanan demi menjaga kualitas bersama. Selain skill, yang paling ditanamkan adalah disiplin dan tanggung jawab profesional. Jika ada satu penjahit yang kesulitan menyelesaikan pesanan, anggota lain akan segera membantu,” imbuhnya.

Dari ruang kecil di Tambak Wedi itu pula lahir kisah-kisah perubahan hidup. Salah satunya melalui program Tabungan Hari Raya (Tahara), di mana anggota menabung dari hasil kerja mereka sendiri. Menjelang Ramadan, pencairan dana tabungan itu menjadi momen istimewa, simbol kemandirian.

“Kemandirian mental inilah, yang bahkan menyelamatkan seorang ibu dari niat ekstrem untuk menjual ginjal demi biaya kuliah anaknya, menunjukkan bahwa UKM Benang Emas berhasil mengubah nasib dan membangun harapan nyata bagi warganya,” terang Ning Uci.

Salah satu yang merasakan perubahan besar adalah Makruf (46). Penyandang disabilitas asal Semampir ini menjadi penanggung jawab proses pemotongan kain di Benang Emas. Dulu ia bekerja di konveksi dengan penghasilan pas-pasan, sering berhutang untuk makan sehari-hari.

“Setelah di bergabung Benang Emas, pendapatan melonjak tajam. Saya mengelola tim kecil yang terdiri dari empat orang. Sekali pencairan upah seminggu sekali, berbeda dengan penjahit yang dua kali seminggu. Upah bersih bisa sampai angka Rp10 juta hingga Rp12 juta,” ungkap Makruf.

Kini, Makruf bisa bernapas lega.

"Di sini untungnya lebih besar. Keluarga tidak lagi berhutang untuk makan sehari-hari, itu perubahan paling besar. Alhamdulillah, kini saya bisa menyekolahkan anak di ponpes, beli sepeda motor, dan paling penting, bisa melunasi sisa cicilan pembangunan rumah yang dulu sampai dititipkan suratnya di bank," ujarnya.

Cerita serupa datang dari Suliha (45), penjahit asal Tambak Wedi Baru. Ia dikenal cekatan dan bisa menyelesaikan hingga 20 potong baju dalam sehari. Dulu, upah kecil dari tempat kerja lamanya hanya cukup untuk makan.

Kini, ia bisa menatap masa depan dengan lebih optimis.

“Dulu hanya cukup untuk makan. Sekarang saya sangat senang karena hasilnya memuaskan. Alhamdulillah saya sudah bisa beli motor, memperbaiki rumah, dan mencukupi anak-anak,” ujar Suliha.

Pendapatan yang kini jauh lebih besar membuat Suliha bisa menabung dan memberi kebahagiaan bagi keluarganya.

“Senang sekali, karena hasilnya memuaskan. Alhamdulillah di sini saya bisa membantu keluarga saya. Selama bekerja di sini, respons dari keluarga sangat positif, dan hasilnya dinilai sangat memuaskan,” tutupnya.

Di Benang Emas, setiap jahitan bukan sekadar benang yang menghubungkan potongan kain, melainkan kisah perjuangan dan harapan. (*)

Baca Sebelumnya

Lulus 100 Persen, Universitas Ma Chung Lahirkan Apoteker Baru

Baca Selanjutnya

Jual Ribuan Obat Keras Ilegal, Pria Banyuasin Terancam Hukuman Maksimal 12 Tahun Penjara

Tags:

Pemkot Surabaya benang emas warga MBR Surabaya UKM UMKM Surabaya UKM Benang Emas smb surabaya

Berita lainnya oleh Shinta Miranda

Banyaknya Keluhan Masyarakat Soal Motor Brebet, DPRD Surabaya Dorong Pertamina Tak Hanya Minta Maaf

30 Oktober 2025 15:28

Banyaknya Keluhan Masyarakat Soal Motor Brebet, DPRD Surabaya Dorong Pertamina Tak Hanya Minta Maaf

Pendidikan untuk Siapa? Petani Kedung Cowek Terancam Tergusur Demi Sekolah Rakyat

29 Oktober 2025 05:15

Pendidikan untuk Siapa? Petani Kedung Cowek Terancam Tergusur Demi Sekolah Rakyat

Makna Baru Sumpah Pemuda Menurut Yona Bagus: Gen Z Hadapi Perang Pikiran dan Inovasi

28 Oktober 2025 21:11

Makna Baru Sumpah Pemuda Menurut Yona Bagus: Gen Z Hadapi Perang Pikiran dan Inovasi

Marak Konten Mihol, Pemkot Surabaya Minta Influencer Tak Jadi Corong Iklan

28 Oktober 2025 19:05

Marak Konten Mihol, Pemkot Surabaya Minta Influencer Tak Jadi Corong Iklan

Benang Emas, Saat Mesin Jahit Mengubah Nasib Ratusan Warga MBR Surabaya

28 Oktober 2025 18:57

Benang Emas, Saat Mesin Jahit Mengubah Nasib Ratusan Warga MBR Surabaya

[FOTO] Ketika Spesialis Mall Bangun Rumah Sakit, Begini Tampilan Istimewa Siloam Hospitals Surabaya, Gak Ada Bau Obat!

27 Oktober 2025 16:00

[FOTO] Ketika Spesialis Mall Bangun Rumah Sakit, Begini Tampilan Istimewa Siloam Hospitals Surabaya, Gak Ada Bau Obat!

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar