KETIK, SLEMAN – Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Sujito, mengingatkan tekanan ekonomi yang terus berlangsung berpotensi berkembang menjadi krisis sosial bahkan politik apabila tidak segera diantisipasi pemerintah.
Menurutnya, pelemahan rupiah dan tekanan ekonomi global saat ini tidak lagi hanya menjadi persoalan pasar keuangan, tetapi telah memengaruhi stabilitas sosial masyarakat secara lebih luas.
Arie menjelaskan, ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, dampaknya tidak lagi terbatas pada ekonomi rumah tangga. Situasi tersebut dapat memicu penurunan rasa aman dan memperbesar kerentanan sosial di tengah masyarakat.
“Kalau sudah masuk ke kebutuhan primer itu akan punya dampak secara sosial,” jelasnya, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia menilai tekanan ekonomi global, termasuk konflik geopolitik internasional seperti perang Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat beserta sekutunya, turut memperbesar tantangan ekonomi Indonesia. Kondisi tersebut disebut berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan berbagai biaya kebutuhan di dalam negeri.
Arie juga menyoroti berkurangnya kapasitas fiskal pemerintah pusat maupun daerah. Menurutnya, penurunan transfer fiskal membuat banyak daerah mulai kesulitan membiayai pembangunan dan pelayanan publik.
Dampaknya mulai dirasakan di sejumlah sektor, termasuk pendidikan yang menghadapi keterbatasan anggaran dan pembiayaan. Dalam situasi tersebut, berbagai institusi dipaksa bertahan di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat.
Ia menilai pemerintah memang telah menjalankan sejumlah program perlindungan sosial. Namun, kebijakan tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif menjawab krisis yang terjadi di masyarakat.
“Terjadi diskoneksi antara upaya-upaya program yang dilakukan itu dengan krisis yang terjadi,” ujarnya.
Di sisi lain, Arie menilai kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampak pelemahan rupiah. Menurutnya, kenaikan biaya hidup membuat masyarakat perkotaan harus menghitung ulang pengeluaran rumah tangga dan mulai mengurangi kebutuhan sekunder.
Ia menjelaskan kondisi tersebut perlahan menggerus rasa aman ekonomi masyarakat karena nilai tabungan dan cadangan finansial mereka ikut mengalami penurunan.
“Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun,” tandasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo menyebut pelemahan rupiah terhadap dollar AS bukan masalah besar bagi banyak masyarakat. Sebab masyarakat di desa tidak berbelanja menggunakan uang dolar. (*)
