Sleman Tekan Stunting dan Fokus Tangani Kematian Ibu-Anak

Demi Siapkan Generasi Berprestasi

19 Agustus 2026 06:01 19 Agt 2026 06:01

Fajar Rianto, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Sleman Tekan Stunting dan Fokus Tangani Kematian Ibu-Anak

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman, dr Seruni Angreni Susila, MPH, memberikan keterangan pers mengenai penanganan stunting dan intervensi kesehatan ibu-anak di Sleman, Selasa 18 Agustus 2026. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

KETIK, SLEMAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman terus memperkuat fondasi kesehatan masyarakat sejak usia dini sebagai langkah strategis dan investasi jangka panjang dalam mewujudkan generasi yang berkualitas, cerdas, serta berdaya saing tinggi.

Komitmen tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Seruni Angreni Susila, MPH, Selasa, 18 Agustus 2026.

Dalam pemaparannya, dr Seruni menekankan pengawalan sektor kesehatan tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan harus dilaksanakan secara terintegrasi dari hulu ke hilir.

Siklus intervensi ini dimulai sejak masa persiapan kehamilan, pengawasan janin di dalam kandungan, masa balita, fase remaja, hingga memasuki usia produktif atau dewasa.

"Masa depan Sleman dimulai dari kualitas anak-anak hari ini," ujar dr Seruni menegaskan pentingnya investasi kesehatan sejak awal kehidupan.

Menurutnya, intervensi yang dilakukan hari ini akan menentukan seberapa besar kualitas dan arah masa depan generasi mendatang.

Tren Stunting Menurun, Kapanewon Ngaglik Catat Kasus Baru Tertinggi

Upaya penanganan stunting secara terpadu di Sleman menunjukkan perkembangan yang positif dan konsisten.

Berdasarkan olahan data Aplikasi Perekaman dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM), angka prevalensi stunting pada balita tercatat terus mengalami penurunan dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Angka stunting yang berada di posisi 6,88 persen pada tahun 2022 berhasil ditekan menjadi 4,51 persen pada 2023, kemudian melandai ke angka 4,41 persen pada 2024, hingga akhirnya menyentuh angka 4,29 persen pada akhir tahun 2025.

Kendati grafik keseluruhan menunjukkan tren penurunan yang menggembirakan, dr Seruni memberikan catatan mengenai ketimpangan risiko berdasarkan kelompok umur balita. Data menunjukkan bahwa balita pada kelompok usia 24 hingga 59 bulan memiliki tingkat risiko serta prevalensi stunting yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai 4,85 persen pada tahun 2025.

Angka ini terbilang cukup kontras jika dibandingkan dengan kelompok balita usia 0 hingga 23 bulan yang berada di angka 3,13 persen.

"Prevalensi stunting pada usia 24–59 bulan lebih tinggi dibanding usia 0–23 bulan. Perlu penguatan intervensi lanjutan pada balita," ungkap dr Seruni mewanti-wanti pentingnya pengawasan gizi di usia balita lanjut.

Di sisi lain, temuan kasus baru stunting (new stunting) dilaporkan masih terus bermunculan dan tersebar merata di seluruh kapanewon yang ada di Kabupaten Sleman. Proporsi temuan kasus baru ini bahkan menyumbang angka yang terbilang cukup signifikan, yakni mencapai 49,66 persen dari total seluruh kasus stunting yang terdata.

Berdasarkan pemetaan wilayah pada tahun 2025, Kapanewon Ngaglik mencatatkan angka kasus baru tertinggi dengan jumlah 108 kasus baru dari akumulasi total 176 kasus stunting.

Posisi berikutnya disusul oleh Kapanewon Kalasan yang mencatat 103 kasus baru dari total 135 kasus, Kapanewon Mlati dengan 86 kasus baru dari total 167 kasus, Kapanewon Berbah dengan 78 kasus baru dari total 95 kasus, serta Kapanewon Seyegan yang mencatatkan 74 kasus baru dari total akumulasi 139 kasus stunting.

Evaluasi Kasus Kematian Ibu, Neonatus, dan Bayi

Selain persoalan stunting, Dinas Kesehatan Sleman turut memaparkan rincian peta kondisi angka kematian ibu dan anak hingga periode Juli 2026. Sepanjang kurun waktu tersebut, tercatat terdapat 2 kasus kematian ibu hamil di mana seluruhnya disebabkan oleh faktor komplikasi medis preeklampsia.

Sementara itu, untuk angka akumulasi kematian neonatus dan bayi di wilayah Sleman hingga bulan Juli 2026 telah menyentuh angka 43 kasus. Jika dibedah berdasarkan kelompok usia, kasus kematian neonatus paling dominan terjadi pada rentang usia 0 hingga 6 hari, yakni sebanyak 22 kasus atau mengambil porsi sebesar 51 persen dari total keseluruhan kasus, dengan penyebab paling dominan adalah kondisi asfiksia.

Selanjutnya, pada kelompok usia 7 hingga 28 hari, tercatat terjadi sebanyak 13 kasus kematian (30 persen) yang mayoritas dipicu oleh faktor kelahiran prematur serta kondisi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).

Sedangkan pada kelompok bayi yang berusia 29 hari hingga 11 bulan, terdata sebanyak 8 kasus kematian (19 persen) yang didominasi oleh riwayat Penyakit Jantung Bawaan (PJB) serta indikasi kelainan kongenital. Mencermati data retrospektif tersebut, dr Seruni menegaskan arah kebijakan penanganan ke depan.

"Fokus intervensi kami adalah pencegahan preeklampsia, peningkatan kualitas persalinan dan resusitasi neonatal, serta deteksi dini dan penanganan kelainan kongenital dan penyakit jantung bawaan," jelasnya.

Penguatan 1.000 HPK dan Kolaborasi Lima Simpul

Sebagai pilar utama penanganan masalah mendasar ini, Dinas Kesehatan Sleman terus mendorong penguatan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang dimulai sejak awal masa konsepsi hingga anak berusia dua tahun.

Langkah ini diwujudkan melalui skema pemantauan kesehatan secara berkala bagi ibu hamil, penjaminan asupan gizi seimbang bagi ibu dan janin, pemberian ASI eksklusif, pemenuhan imunisasi dasar lengkap, hingga pelaksanaan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK).

Namun demikian, menurut dr Seruni Dinas Kesehatan menyadari betul bahwa pembangunan kesehatan masyarakat tidak bisa hanya dibebankan kepada jajaran medis semata. Diperlukan ekosistem pendukung yang solid melalui pendekatan kolaborasi lima simpul lingkungan.

"Kolaborasi membuat dukungan hadir sebelum masalah menjadi hambatan," ujar dr. Seruni menekankan pentingnya sinergi lintas sektor.

Disebutkan, lima simpul tersebut meliputi pilar Keluarga yang menjadi teladan pola hidup sehat, Sekolah melalui fasilitas UKS dan kantin sehat, Puskesmas sebagai pusat skrining dan rujukan, Komunitas serta Kader Posyandu yang aktif di lapangan, hingga elemen Pemuda sebagai mentor sebaya.

Melalui integrasi tersebut, dr Seruni optimistis target Pemkab Sleman dalam mencetak generasi unggul dapat tercapai.

"Bersama kita wujudkan Sleman yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Keluarga kuat, masyarakat sehat, Sleman hebat!" tegasnya menutup pemaparannya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Stunting Sleman Dinas Kesehatan Sleman Kesehatan Ibu Anak Angka Kematian Bayi Pemkab Sleman 1.000 hpk Pencegahan Stunting Kesehatan Masyarakat Preeklampsia Ibu Hamil Kematian Neonatus Gizi Balita E Ppgbm Sleman Kapanewon Ngaglik