Kondisi Pasar Godean Jelang Setahun Ditempati

Megah di Luar, Lesu di Dalam: 61 Persen Kios Belum Beroperasi

16 September 2026 11:16 16 Sep 2026 11:16

Fajar Rianto, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Megah di Luar, Lesu di Dalam: 61 Persen Kios Belum Beroperasi

Megahnya wajah Pasar Godean yang berdiri tiga lantai di jalan Godean, jalur utama Sleman–Kulon Progo. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

KETIK, SLEMAN – Berdiri megah tiga lantai dengan arsitektur modern berkonsep ramah lingkungan. Pasar Godean tampil mencolok di Jalan Godean Km 0,9, jalur utama Sleman – Kulon Progo. Bangunan bernilai Rp89,9 miliar tersebut dirancang sebagai pusat ekonomi kerakyatan yang mampu menampung hingga 1.800 pedagang.

Wajah baru pasar tradisional ini sebelumnya di resmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 28 Agustus 2024 lalu.

Harapan tinggi pun kian memuncak saat prosesi kepindahan pedagang digelar pada 29 Oktober 2025 melalui Kirab Budaya Bedhol Projo Hanggayuh Rejo. Arak-arakan sembilan gunungan komoditas pasar kala itu menyimbolkan optimisme ribuan pedagang meninggalkan lokasi relokasi sementara di Sidoluhur menuju gedung baru yang lebih representatif.

Namun, menjelang setahun masa operasional saat ini, gempita tersebut perlahan luntur berganti riak kecewa sebagian pedagang. Bukannya meramai, aktivitas perdagangan di bangunan bernilai puluhan miliar yang berkapasitas 1.800 pedagang ini justru diwarnai sepinya pembeli dan banyaknya tempat usaha yang tutup. Sebanyak 114 dari total 186 kios yang tersedia atau sekitar 61,3 persen saat ini belum beroperasi.

Foto Kondisi lantai 3 Pasar Godean yang tampak kosong melompong tanpa adanya pedagang apalagi aktivitas jual beli. (Foto: Fajar R/Ketik.com)Kondisi lantai 3 Pasar Godean yang tampak kosong melompong tanpa adanya pedagang apalagi aktivitas jual beli. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

Kondisi sepi penghuni tak hanya terjadi pada area kios. Berdasarkan data UPTD Pelayanan Pasar Wilayah I Disperindag Sleman, sebanyak 11 unit dari total 1.010 los yang ada di dalam pasar juga tercatat belum difungsikan. Jika lantai dasar masih diselimuti aktivitas transaksi bahan pangan segar, kondisi lantai dua dan tiga justru mengkhawatirkan.

Bahkan, area lantai tiga saat beberapa kali didatangi media ini tampak kosong melompong dari pergerakan transaksi harian. Lorong-lorong lapak konveksi, barang kelontong, hingga sentra kuliner di kawasan atas tampak lengang.

Di lapangan, sejumlah pedagang mengeluhkan penurunan omzet drastis hingga mencapai 50 persen. Penataan zonasi yang dirancang Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman dituding alpa memperhitungkan tabiat belanja warga lokal yang enggan menaiki tangga. Pelanggan usia lanjut pun enggan mampir karena keterbatasan aksesibilitas vertikal.

Biaya Operasional dan Hambatan Regulasi

"Keluhan yang sering muncul dari pedagang adalah kesulitan beradaptasi dengan tempat baru, terutama untuk akses lebih dari satu lantai. Selain itu, mereka mengeluhkan daya beli masyarakat yang menurun serta transaksi pembeli kulakan yang belum maksimal," ujar Kepala UPTD Pelayanan Pasar Wilayah I, Robertus Esthi Raharja Prasetya, Selasa, 15 September 2026.

Sepinya transaksi jual-beli ini dirasakan hampir di tiap lantai. Namun, menggali keluh kesah pedagang bukanlah perkara mudah. Ada kesan ketakutan dan enggan terbuka yang diperlihatkan para pedagang saat diwawancarai.

Ketika mengobrol sesama pedagang atau melayani calon pembeli, mereka begitu blak-blakan menumpahkan kekecewaan. Namun, begitu mengetahui lawan bicaranya adalah wartawan, sikap mereka mendadak berubah irit bicara dan terkesan memilih diam ketimbang memberikan keterangan secara terbuka.

Foto Aktivitas pedagang di salahsatu lorong Pasar Godean, Selasa 15 September 2026, yang tampak lengang dari lalu lalang pembeli.
(Foto: Fajar R/Ketik.com)Aktivitas pedagang di salahsatu lorong Pasar Godean, Selasa 15 September 2026, yang tampak lengang dari lalu lalang pembeli. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

Kendati demikian, realitas pahit di lapangan tak bisa ditutupi. Dewi (bukan nama sebenarnya), seorang pedagang peralatan dapur di lantai satu, tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya. Ia mengaku beberapa waktu terakhir omzet penjualannya sepi. Bahkan beberapa kaki tidak ada pemasukan sama sekali akibat ketiadaan pembeli. Padahal, untuk sampai di pasar setiap harinya, ia harus mengeluarkan biaya transportasi.

"Berbeda dengan kondisi sebelumnya. Kadang sama sekali tidak ada yang beli. Padahal buat berangkat ke sini saya butuh ongkos, harus naik ojek atau diantar. Kalau tidak ada pembeli begini, buat nutup ongkos jalan saja rugi," keluh Dewi.

Kondisi tak kalah berat dirasakan Ratmi (bukan nama sebenarnya), pedagang yang menempati lapak di lantai dua. Sepinya pembeli di lantai atas membuat beban usahanya makin membengkak karena ia harus mengeluarkan ongkos ekstra untuk jasa kuli angkut demi membawa barang dagangannya dari area bawah.

"Kini pasar ini sepi, pembeli enggan naik ke atas. Sudah sepi pembeli, pengeluaran justru bertambah karena saya harus bayar kuli angkut buat bawa dagangan ke atas tempat saya jualan," ungkap Ratmi yang kini pilih bawa bekal nasi bungkus untuk makan siang dari rumah ini.

Selain lesunya daya beli dan beban retribusi harian serta utilitas yang menekan, pedagang juga terbentur aturan kaku. Banyak pedagang kesulitan menata barang dagangan karena dilarang melakukan perombakan fisik pada bangunan kios.

Larangan tersebut terjadi lantaran status gedung Pasar Godean saat ini masih tercatat sebagai Barang Milik Negara (BMN) dan belum diserahterimakan menjadi Barang Milik Daerah (BMD).

Kondisi dilematis ini membuat banyak pedagang memilih menunda membuka kiosnya. Tanpa evaluasi menyeluruh terhadap zonasi, sirkulasi pengunjung, dan fleksibilitas regulasi dari Pemkab Sleman, gedung bernilai Rp89,9 miliar ini berisiko menjadi monumen megah yang kehilangan fungsi utamanya. Ketik.com telah berupaya mengonfirmasi Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman Aris Herbandang terkait persoalan ini. Namun, konfirmasi tertulis yang dikirimkan sejak Selasa pagi 15 September 2026 hanya dibalas singkat, "Tak takokne bidang yang nangani ya Mas,".

Saat ditanyakan kembali pada sore harinya, ia baru memberikan jawaban pada malam harinya. "Baru dibuatkan Mas," jawabnya ringkas. (*)

Tombol Google News

Tags:

Setahun Beroperasi Pasar Godean Lesu Pasar Revitalisasi Pasar Pemkab Sleman Disperindag Sleman Kios Mangkrak Pasar Sepi Aris Herbandang Pasar Tradisional Pasar Godean Sepi Pedagang Pasar Godean Revitalisasi Pasar Godean Keluhan Pedagang Pasar Tradisional Sleman