Jejak Kepemimpinan Kadis Kesehatan Sleman dr Cahya Purnama, Menyatukan Generasi, Melayani Sepenuh Hati

30 Agustus 2026 09:52 30 Agt 2026 09:52

Fajar Rianto, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Jejak Kepemimpinan Kadis Kesehatan Sleman dr Cahya Purnama, Menyatukan Generasi, Melayani Sepenuh Hati

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr Cahya Purnama dalam balutan busana adat Jawa. Memasuki purna tugas September ini, ia memegang teguh filosofi keris sebagai cerminan seni memimpin dan menyatukan generasi. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

KETIK, SLEMAN – Mengelola sektor kesehatan publik di tingkat kabupaten bukan urusan administratif meja saja. Di tengah himpitan regulasi ketat dan dinamika politik dinamis, seorang birokrat kerap terjebak rutinitas kaku.

Namun, cara pandang berbeda dipilih Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Cahya Purnama, MKes,   yang bersiap menapaki purna tugas pada awal September tahun ini.

Bagi Cahya Purnama yang akrab dipanggil Pak Cahyo, merombak birokrasi kesehatan bukan sebatas migrasi sistem dari manual ke digital. Lebih dari itu, dirinya meyakini reformasi sejati harus menyentuh akar budaya kerja secara menyeluruh, yakni dengan menempatkan nilai-nilai kemanusiaan di garda terdepan pelayanan publik.

Keteladanan Mengakar dan Titik Balik Integritas

Menurutnya, transformasi kultur kerja instansi pemerintah tidak efektif jika berhenti sebatas imbauan tertulis. Pak Cahyo meyakini, perubahan fundamental wajib dimulai dari puncaknya lewat pendekatan tone of the top.

"Dengan tone of the top atau keteladanan dari atas untuk menunjukkan sikap, tindakan, dan nilai-nilai integritas dalam membangun budaya kerja Dinkes yang gercep, etis, transparan, dan taat aturan," ujarnya, Sabtu 29 Agustus 2026.

Di tengah dinamika birokrasi yang dibayangi tekanan anggaran, ia mengakui menjaga tim tetap di atas rel bersih adalah ujian paling mematangkan. Keteladanan langsung tersebut mendongkrak etos kerja, meruntuhkan sekat hierarki kaku. Serta merajut ikatan emosional kuat di internal dinas.

Bagi Pak Cahyo, capaian terbesar seorang pemimpin tidak diukur dari materi atau deretan penghargaan semata. Ukuran sejati baginya adalah sejauh mana manusia di dalam organisasi itu bertumbuh.

Di atas fondasi kekeluargaan yang kokoh, kebahagiaan tertingginya bersemi tatkala ia diakui secara tulus sebagai "Bapak" oleh seluruh jajarannya. Rasa bangga itu kian lengkap ketika melihat para stafnya berdiri tegak, melangkah dengan keyakinan penuh hingga melampaui batas kemampuan yang diperkirakan.

Menembus Batas Prestasi dan Mitigasi Tantangan

Di bawah kepemimpinannya, Dinas Kesehatan Sleman menorehkan rekam jejak prestasi gemilang. Mulai dari STBM Awards terbaik nasional, Top 99 Inovasi Pelayanan Publik, Swasti Saba, Nakesdan teladan tingkat nasional, hingga Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI-WBK).

Penerapan ZI-WBK diakuinya sebagai terobosan berkesan karena menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat luas. Program strategis ini mendongkrak kualitas layanan publik transparan, sekaligus membersihkan tata kelola dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Sedangkan menyongsong enam pilar transformasi kesehatan demi visi Indonesia Emas 2045, Pak Cahyo menerapkan prinsip tegas: "No One Left Behind" (tidak ada seorang pun yang tertinggal).

Prinsip ini memastikan tidak ada wilayah tertinggal dalam akses layanan kesehatan baik dalam memangkas kesenjangan infrastruktur, mengatasi kekurangan tenaga medis, menepis keterbatasan literasi digital, maupun menghadapi tekanan efisiensi anggaran.
 

Filosofi Bilah Keris dan Regenerasi Birokrasi

Di balik kesibukan mengawal tata kelola birokrasi, Pak Cahyo memiliki sisi lain sarat nilai filosofis: kegemarannya mengoleksi keris. Baginya, pusaka leluhur bukan sekadar benda seni, melainkan cerminan seni memimpin.

"Dalam tradisi Nusantara, keris erat kaitannya dengan kepemimpinan para raja. Ia lahir dari perpaduan serasi antara besi bumi dan logam meteorit dari langit. Filosofi keris di atas dapat saya artikan bahwa perbedaan lintas generasi dapat dipadukan menjadi satu kekuatan yang selalu bersinergi, untuk menjaga integritas dengan penerapan ZI-WBK dan meningkatkan pelayanan dengan standar mutu," jelas Pak Cahyo.

Baginya, merawat keris menuntut ketelatenan dan ketulusan. Semangat itulah yang ia bawa dalam membimbing regenerasi ASN di penghujung masa purna tugas.

Ia menegaskan kembali bahwa pemimpin harus mampu mengembangkan potensi abdi negara muda jauh melebihi ekspektasinya. Estafet kepemimpinan harus dipersiapkan matang. Agar roda birokrasi berputar dinamis, membawa Kabupaten Sleman semakin maju dan Sembada.

"Pemimpin harus dapat mengembangkan potensi ASN muda jauh melebihi ekspektasinya dan mempersiapkan regenerasi birokrasi dengan baik agar Kabupaten Sleman semakin Sembada," tegasnya.

Menutup pengabdian panjangnya, Pak Cahyo merangkum filosofi kerjanya ke dalam prinsip hidup sederhana namun bertenaga: "By Heart". Sebuah pengingat bahwa apa pun tugas yang dikerjakan setulus hati, pada akhirnya akan sampai di hati masyarakat. (*)

Tombol Google News

Tags:

dr Cahya Purnama Dinkes Sleman Kadis Kesehatan Sleman Kabupaten Sleman Bupati Sleman Harda Kiswaya Purna Tugas Birokrasi Kesehatan Zona Integritas Pelayanan Publik Kepemimpinan Humanis Filosofi Keris Transformasi kesehatan Budaya Kerja