Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gelar Forum Rebuan, Ini Kata Bupati Situbondo

24 Juni 2026 23:32 24 Jun 2026 23:32

Adinda Octaviani, Heru Hartanto

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gelar Forum Rebuan, Ini Kata Bupati Situbondo

Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo saat memberikan paparan pada kegiatan Rabuan di depan Pendopo Rakyat Situbondo, Rabu malam 24 Juni 2026 (Foto: Adinda Octaviani/ketik.com)

KETIK, SITUBONDO – Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo kembali melaksanakan ruang kritik untuk masyarakat, melalui forum Rebuaan bertajuk “Kritik Aku Semampumu, Cintai Situbondo Sepenuhnya”. Dalam forum ini Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengajak publik untuk menyampaikan kritik, saran, hingga gagasan demi kemajuan Kabupaten Situbondo.

Kegiatan yang berlangsung di depan Pendopo Rakyat Situbondo, diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Situbondo ini, bukan sekadar forum seremonial. Tetapi, Mas Rio, panggilan akrab Bupati Situbondo meminta kepada masyarakat, mengkritik kepemimpinannya dan Mbak Ulfi.

Dalam pemaparannya, Mas Rio, tanpa tedeng aling-aling menerangkan tentang kondisi fiskal daerah, pembangunan, hingga sejumlah program prioritas yang sedang dan akan dijalankan Pemkab Situbondo.

“Pembangunan daerah tidak bisa lepas dari kemampuan fiskal Pemerintah Daerah Kabupaten Situbondo. Gerak pemerintah dalam membangun dilandasi dan atau bertumpu pada uang rakyat yang dikelola melalui APBD. Oleh karena itu, masyarakat juga perlu mengetahui kondisi keuangan daerah secara jujur dan terbuka,” beber Mas Rio dihadapan masyarakat Situbondo yang mengikuti Forum Rebuan.

Pembangunan pemerintah bergerak, kata Mas Rio, menggunakan hasil pajak rakyat. Karena itu masyarakat harus tahu kondisi fiskal Situbondo seperti apa. Kemampuan fiskal Situbondo dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2024, fiskal Situbondo hampir menyentuh Rp 2 triliun, lalu pada 2025 turun menjadi Rp 1,9 triliun, dan pada 2026 kembali turun menjadi sekitar Rp 1,58 triliun. Dari jumlah itu, separuh anggaran tersedot untuk belanja gaji pegawai.

Oleh karena itu, lanjut Mas Rio, pemerintah harus benar-benar selektif menentukan program prioritas pembangunan. “Salah satu yang dikejar yakni sektor infrastruktur melalui skema IJD atau Impres Jalan Daerah. Jalan Lingkar Utara menjadi solusi agar persoalan jalan di kawasan perkotaan bisa segera diatasi,” tuturnya.

Di sektor ekonomi, sambung Mas Rio, menekankan Situbondo tidak boleh hanya bergantung pada satu sektor. Pertumbuhan ekonomi akan berbahaya jika hanya ditopang satu bidang, karena itu struktur ekonomi daerah harus diperkuat lebih merata melalui pertanian, perikanan, UMKM, perdagangan, hingga pariwisata.

Mas Rio menambahkan, data pertumbuhan ekonomi Situbondo menunjukkan tren positif. Pada tahun 2021 pertumbuhan ekonomi tercatat 3,7 persen, kemudian naik menjadi 5,3 persen pada 2022, lalu 4,9 persen pada 2023, lantas 4,81 persen pada 2024, dan 5,28 persen pada 2025.

“Pada Tahun 2025 pertumbuhan ekonomi Situbondo mencapai 5,28 persen. Ini di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Tapi angka ini tidak boleh membuat kita puas, karena tugas kita memastikan pertumbuhan itu dirasakan oleh masyarakat,” tutur Mas Rio.

Selain itu, Mas Rio juga mengungkapkan bahwa perputaran uang di Situbondo dalam setahun sebenarnya cukup besar, yakni sekitar Rp 2,8 triliun. “Tantangan pemerintah memastikan uang yang beredar itu benar-benar memberi dampak pada ekonomi lokal, bukan justru lebih banyak mengalir ke luar daerah,” tegasnya.

Di bidang kesehatan, lanjut Mas Rio, Pemkab Situbondo mengalokasikan anggaran sekitar Rp 73 miliar. Sementara di sektor pendidikan, pemkab menyiapkan beasiswa S1 sampai S3 dengan skema yang disebut berbeda dari daerah lain.

“Jika di sejumlah daerah beasiswa hanya menanggung biaya kuliah, tapi di Situbondo akan menanggung hingga biaya hidup penerima manfaat, khususnya untuk jurusan STAM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Kalau di kota lain beasiswa itu biasanya hanya biaya kuliah. Di Situbondo, kami ingin tidak hanya kuliahnya, tapi juga biaya hidupnya,” jelas Mas Rio.

Bukan hanya itu, Pemkab Situbondo juga menyiapkan pembangunan Sekolah Rakyat yang direncanakan mulai dibangun pada bulan Oktober 2026 di Desa Seliwung. Program ini diharapkan menjadi jalan bagi masyarakat kurang mampu agar tetap memiliki akses pendidikan yang layak.

Mas Rio juga menyoroti tentang persoalan kebutuhan pangan di Situbondo. Daerah Situbondo masih kekurangan sekitar 12 ton telur per hari. Sementara untuk komoditas cabai, persoalannya bukan hanya produksi, tetapi juga distribusi. Banyak cabai dari Situbondo justru dijual ke luar daerah, sehingga pasokan di dalam daerah sendiri menjadi kurang.

“Situbondo kekurangan sekitar 12 ton telur setiap harinya, oleh karena itu pemerintah sedang menggalakan program akademi peternak muda. Untuk cabai juga begitu, banyak cabai Situbondo justru keluar daerah, akhirnya Situbondo sendiri kekurangan. Karena itu saya dorong gerakan menanam cabai di rumah. Ini sederhana, tapi dampaknya bisa besar untuk ketahanan pangan keluarga,” beber Mas Rio.

Mas Rio menyebut Situbondo memiliki pasar ikan pindang, termasuk produk ikan pindang dari Desa Ketah, Suboh, serta besek dari Taman Kursi yang selama ini dipasarkan hingga Bondowoso. Potensi semacam itu harus didorong agar tidak berhenti sebagai komoditas mentah, melainkan berkembang menjadi rantai ekonomi bernilai tambah.

Di sektor UMKM, imbuh Mas Rio, Kabupaten Situbondo diarahkan menjadi kabupaten UMKM. Salah satu instrumen yang didorong yakni dengan program Vorsa UMKM, pinjaman dari Perbakan tanpa pembayaran bunga bagi pelaku usaha. Namun, ia mengakui realisasi program ini masih menghadapi tantangan serius.

“Yang mendaftar program Vorsa UMKM sebanyak 3.675 orang, tapi yang lolos hanya 6 orang. Hal ini terjadi, karena mayoritas pengusaha UMKM terkendala dengan SLIK atau BI Checking. Mereka banyak yang tersangkut pinjol. Sehingga mau tidak mau, anggarannya ini, kita pangkas karena kalau tidak bisa dikira pemerintah gagal dalam perencanaan,” tegas Mas Rio.

Selain ekonomi rakyat, Pemkab Situbondo juga menyiapkan sektor pariwisata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Salah satunya dengan mendorong Wisata Pasir Putih menjadi sentra wisata yang dikembangkan lebih serius, bahkan diharapkan bisa tumbuh seperti kawasan wisata di Kota Batu.

Mas Rio juga memperkenalkan program Rio Calling, sebuah kanal agar bupati bisa mendengar langsung keluh kesah masyarakat. “Pola komunikasi langsung itu penting agar persoalan di lapangan bisa lebih cepat direspons dan ditangani pemerintah. Rio Calling itu saya buat supaya masyarakat bisa langsung menyampaikan keluh kesahnya secara langsung. Tujuannya sederhana, agar penanganan masalah bisa lebih cepat, tidak berputar-putar, dan pemerintah benar-benar hadir,” beber Mas Rio.

Sementara untuk kebutuhan bantuan rumah ibadah, Pemkab Situbondo menyiapkan layanan E-Berkah. Lewat program ini, tempat ibadah yang membutuhkan bantuan dipersilakan mengajukan permohonan secara resmi melalui sistem yang telah disiapkan pemerintah.

Forum “Kritik Aku Semampumu, Cintai Situbondo Sepenuhnya” lebih dari sekadar panggung diskusi. Di forum itu, Mas Rio tidak hanya mengajak masyarakat mengkritik, tetapi juga membeberkan secara terbuka tantangan besar yang dihadapi Situbondo, mulai dari keterbatasan fiskal, kebutuhan pangan, kualitas SDM, persoalan UMKM, hingga upaya mencari pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

“Pesan yang dibawa dalam forum ini cukup jelas yakni mencintai Situbondo tidak cukup hanya dengan pujian. Tapi, daerah ini juga membutuhkan kritik yang jujur, gagasan yang sehat, dan keterlibatan publik agar Situbondo benar-benar bisa naik kelas,” pungkas Bupati Situbondo, Mas Rio. (*)

Tombol Google News

Tags:

Bupati Situbondo Forum Rebuan Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Ini Kata