KETIK, SIDOARJO – Sampah telah menjadi masalah darurat di Indonesia, bahkan di level global. Berbagai pihak berinisiasi untuk turut serta mencarikan memecahkannya. Pemerintah, akademisi, peneliti, dan masyarakat luas bergerak aktif menciptakan inovasi pengelolaan sampah. Kolaborasi global jadi pilihan solusi.
LPM Universitas Airlangga (Unair) dan World University Association for Community Development (WUACD) menginisiasi dua konferensi internasional tentang dialektika persampahan di Sidoarjo pada Sabtu (25 April 2026).
Konferensi tersebut memfasilitasi kolaborasi lintas sektor dalam merumuskan solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk dua tantangan besar. Yaitu, pengembangan masyarakat dan pengelolaan sampah.
”Kolaborasi kami tidak sebatas mitra universitas, tetapi juga perluasan kolaborasi menggunakan multi-heliks,” jelas Sekretaris Eksekutif World University Association for Community Development (WUACD) Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih MSi dalam paparannya.
Dalam konferensi bertajuk Community Development dan Waste to Wealth itu, Prof Ni Nyoman menjelaskan keberlanjutan program Equity yang bekerja sama dengan pemerintah. Program itu mengedepankan prinsip Waste to Wealth. Yaitu, mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomis dengan teknologi.
Ada lima aspek rumusan Waste Management Ladder yang menjadi pendukung konsep Waste to Wealth itu. Masing-masing adalah aspek teknis, regulasi, institusional, pembiayaan (budgeting), serta partisipasi masyarakat (participatory).
Partisipasi masyarakat merupakan faktor yang sangat penting. Menurut Asisten II Setda Sidoarjo Bidang Pembangunan dan Perekonomian Dr Moh Bahrul Amig, partisipasi masyarakat menjadi kunci penting keberhasilan dalam menangani persoalan sampah.
Pemkab Sidoarjo, lanjut Amig, sangat serius dalam menangani pengelolaan sampah. Komitmen itu terbukti dengan pembentukan 209 (tempat pengolahan sampah reduce, reuse, and recycle). Jumlah itu terbanyak di Indonesia untuk daerah setingkat kabupaten. Semuanya menggunakan sistem sistem sanitary landfill.
”Kami sangat berkomitmen demi keberlanjutan lingkungan hidup jangka panjang. Kita tidak bisa main-main dengan persoalan sampah,” tegas Bahrul Amig, yang mantan kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo itu.
Bahrul Amig menambahkan, keterlibatan dunia pendidikan juga penting untuk turut memberikan sumbangsih saran dalam menjaga kelestarian lingkungan. ”Sinergi dengan para akademisi ini diharapkan menghasilkan pemikiran strategis jangka pendek, menengah, hingga panjang untuk keberlanjutan lingkungan kita,” tandasnya.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development (RICD) UNAIR Prof Muhammad Miftahussurur menyampaikan bahwa pengelolaan sampah adalah masalah global yang semakin mendesak. Produksi sampah global telah mencapai miliaran ton per tahun. Volume itu terus meningkat.
”Di Indonesia, keterbatasan tempat pembuangan akhir semakin mengkhawatirkan. Sampah tidak hanya menimbulkan pencemaran, tetapi juga menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim,” jelasnya.
Pendekatan ekonomi sirkular, kata dia, penting dalam pengelolaan sampah. Sampah dilihat bukan sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan.
”Dengan inovasi yang tepat, sampah bisa diubah menjadi energi, bahan industri, dan produk bernilai tambah lainnya," tambahnya. (*)
