Gus Imdad Robbani: Musuh Terbesar Santri Hari Ini Bukan Penjajah, tapi Zona Nyaman

22 Oktober 2026 09:05 22 Okt 2026 09:05

Ponirin, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Gus Imdad Robbani: Musuh Terbesar Santri Hari Ini Bukan Penjajah, tapi Zona Nyaman

Gus Mohammad Imdad Robbani Wakil Kepala Pesantren 1 PPNJ (Foto: Ponirin Mika/Ketik.com)

KETIK, PROBOLINGGO – Wakil Kepala Pesantren 1 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Gus Mohammad Imdad Robbani, mengajak santri menjadikan peringatan Hari Santri sebagai momentum melawan hawa nafsu dan zona nyaman. Ajakan itu disampaikan dalam taujihat pada munajat malam Hari Santri, Rabu malam (21/10/2026), yang diikuti pengurus dan seluruh santri.

Dalam taujihatnya, Gus Imdad mengajak hadirin berdoa agar menjadi penerus perjuangan para ulama dan pejuang yang melahirkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Resolusi itu kemudian menginspirasi pertempuran 10 November di Surabaya. Beliau juga mengajak santri mendoakan para pendahulu yang telah berjasa.

“Yang kita peringati bukan semata seremoninya. Kita sedang menumbuhkan warisan perjuangan para pendahulu yang melahirkan Hari Santri,” ujarnya.

Gus Imdad menjelaskan bahwa Resolusi Jihad menegaskan kewajiban seluruh umat Islam untuk melawan penjajah. Menurutnya, musuh pada masa itu jelas terlihat, yakni militer Belanda dan sekutu yang hendak kembali menjajah Indonesia. Setelah kemerdekaan, tantangan yang dihadapi bangsa justru lebih sulit karena musuhnya tidak tampak.

“Musuh kita hari ini adalah diri kita sendiri, yaitu merasa nyaman di zona nyaman, tidak mau maju, tidak mau berkembang, dan tidak mau berubah menuju yang lebih baik,” tuturnya.

Karena itu, ia mengartikan semangat perjuangan sebagai kerelaan melakukan hal yang berat bagi diri sendiri demi memperoleh hal yang lebih baik. Menurutnya, perjuangan itu harus dimulai dari hal-hal kecil, termasuk menahan keinginan berbicara di masjid saat wirid dan pengajian.

“Kalau tidak bisa melawan diri sendiri, kita pasti kalah melawan orang lain. Maka mulailah semangat perjuangan itu dari diri sendiri,” katanya.

Gus Imdad mengajak santri saling mengingatkan dengan cara yang santun. Jika melihat teman berbicara saat wirid atau mengaji, santri cukup menegur dengan isyarat tanpa suara. Menurutnya, teguran yang bersuara justru membuat suasana semakin gaduh.

“Kalau gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi,” pesannya.

Ia mengingatkan bahwa pesantren adalah medan perjuangan bagi santri, guru, maupun pengurus, dan perjuangan itu pasti terasa berat. Ia berharap seluruh yang hadir dikumpulkan bersama para wali Allah, tidak hanya di dunia tetapi juga di surga.

Menjelang munajat, beliau meminta santri mengikuti rangkaian doa dengan khusyuk dan menjadikannya awal pembuktian semangat perjuangan. Ia juga menyampaikan bahwa munajat malam itu menjadi bagian dari persiapan menjelang apel akbar Hari Santri pada keesokan harinya, Kamis (22/10/2026). (*)

Tombol Google News

Tags:

Gus Imdad Robbani Munajat Santri HSN