KETIK, PACITAN – Pohon bidara putih atau tapak ndoro putih di pematang sawah Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, terselip misteri yang bikin penasaran.
Konon, daun yang gugur dari pohon tersebut tak akan jatuh begitu saja di bawahnya.
Daun-daun itu dipercaya terbang terbawa angin menuju Keraton Surakarta, tempat asal bibit bidara putih tersebut diperoleh.
Selain dikeramatkan, pohon istimewa yang disebutkan dalam Al-Qur'an itu juga lekat dengan kisah seorang ksatria yang menolak hadiah jabatan dan tanah luas dari Sri Susuhunan Pakubuwana VII.
Lantas, bagaimana asal-usul pohon yang tumbuh di pematang sawah di sebelah utara Jalur Lintas Selatan (JLS) Pacitan itu?
Berdasarkan penelusuran Ketik.com, sosok yang diyakini sebagai orang yang menanam pohon tersebut bernama Ki Madiman.
Dia merupakan prajurit yang pernah menjadi bagian dari laskar Pangeran Diponegoro sebelum akhirnya melarikan diri dan menetap di Pacitan.
Salah satu ahli waris sekaligus keturunan Ki Madiman generasi kelima, Bambang Supriyono (56), menuturkan, keberadaan pohon bidara putih berkaitan dengan perjalanan leluhurnya.
Menurutnya, Ki Madiman meninggalkan daerah asalnya setelah kekalahan pasukan Pangeran Diponegoro melawan Belanda pada Perang Jawa pada 1825–1830.
“Setelah Pangeran Diponegoro tertangkap, laskar prajuritnya itu berpencar, menyelamatkan diri, lari ke daerah-daerah, termasuk salah satunya Ki Madiman. Akhirnya babad alas di Pacitan. Rumahnya tepat di utara lokasi pohon bidara itu,” kata Bambang, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Ia kemudian menetap di kawasan pesisir Pacitan dan membuka permukiman di wilayah yang kini dikenal sebagai Kelurahan Ploso.
Bambang menyebut, lokasi pohon bidara putih yang sekarang berada di pematang sawah dahulu merupakan halaman rumah Ki Madiman.
“Di sini dulu rumah Ki Madiman. Jika digali di sawah itu ada sisa-sisa perabotan rumah beliau,” ujarnya.
Dari cerita yang diwariskan keluarga, Ki Madiman kemudian menikah.
Salah satu keturunannya yang dikenal dalam cerita keluarga adalah Mbah Ngominah, yang kemudian menikah dengan Ranu Wijoyo, buyut Bambang.
Asal-usul Bidara Putih dari Keraton Surakarta
Bambang Supriyono, keturunan Ki Madiman generasi kelima, menunjukkan lokasi pohon bidara putih. Pohon tersebut menyimpan cerita turun-temurun keluarga dan kaitannya dengan Keraton Surakarta. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.com)
Cerita mengenai pohon bidara putih tidak berhenti pada sosok Ki Madiman.
Diperolehnya bibit pohon yang kala itu masih langka, bermula dari sebuah sayembara yang diselenggarakan oleh Keraton Surakarta untuk mendapatkan benda bertuah bernama Tangkur Bromo.
Benda yang disayembarakan itu dipercaya sebagai jimat kejantanan laki-laki.
Tangkur Bromo digambarkan berukuran kecil, kira-kira sebesar ibu jari, dan disebut berada di tengah laut di dalam tubuh ikan besar.
"Kraton Surakarta mempunyai sultan yang banyak selirnya waktu itu. Karena banyak selirnya, sehingga untuk bisa melayani selir segitu banyak, harus ada semacam ajimat, namanya Tangkur Bromo," ungkapnya.
Kabar sayembara itu dikisahkan menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk kawasan Ponorogo dan Wonogiri.
Sejumlah orang yang dianggap memiliki kemampuan khusus berusaha mendapatkan benda tersebut, termasuk diantaranya adalah Ki Madiman.
Selang waktu, lanjut Bambang, Ki Madiman berhasil memperoleh Tangkur Bromo dan membawanya pulang ke rumah.
Keberhasilan itu kemudian membuat pihak Keraton Surakarta mengutus tujuh prajurit untuk mengambil benda tersebut.
Namun, ketujuh prajurit itu disebut tidak berhasil mengangkat Tangkur Bromo meskipun ukurannya kecil.
"Setelah prajurit beristirahat satu hari, satu malam, akhirnya tujuh prajurit tadi bergegas untuk pulang, terus pengin membawa barang itu. Tapi ternyata barang itu tidak bisa diangkat walaupun kecil, karena begitu saktinya barang itu," lanjutnya.
Mereka akhirnya kembali ke keraton untuk menyampaikan laporan.
Keraton Surakarta kemudian mengutus seorang prajurit untuk meminta Ki Madiman datang langsung membawa benda tersebut.
Setelah tiba di keraton, Ki Madiman bertemu dengan raja dan ditawari hadiah berupa jabatan serta tanah yang luas sebagai imbalan atas keberhasilannya.
Alih-alih menerima hadiah tersebut, Ki Madiman justru hanya meminta bibit tanaman bidara putih.
“Setelah menolak hadiah, akhirnya ditanya ingin meminta apa. Saya ingin meminta petetan (potongan benih) doro putih. Doro putih kan cuma semacam tumbuhan, pohon. Hanya itu,” tutur Bambang mengisahkan.
Permintaan itu disetujui pihak keraton Surakarta.
Bibit bidara putih tersebut berasal dari kawasan Arab Saudi dan merupakan pemberian seorang musafir yang berkunjung ke lingkungan Keraton sebagai bahan obat-obatan.
Bibit itulah yang kemudian dibawa ke Pacitan dan ditanam di halaman rumah Ki Madiman.
Keluarga meyakini pilihan tersebut bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, melainkan berkaitan dengan tolak bala dan keselamatan wilayah Pacitan.
“Kalau Ki Madiman memikirkan harta benda, keturunannya sampai sekarang mungkin masih mempunyai tanah yang luas. Namun, karena memikirkan keselamatan bumi Pacitan, akhirnya dipilihlah tanaman itu,” kata Bambang.
Pohon Penjaga Teluk Pacitan
Usut punya usut, kepercayaan mengenai pohon bidara putih sebagai penolak bala itu juga berkaitan dengan letak penanamannya.
Lokasi tersebut diyakini sebagai pusaran Teluk Pacitan.
Bambang menuturkan, pohon tersebut dimaknai sebagai simbol perlindungan wilayah Pacitan dari ancaman yang datang dari laut.
Pohon itu bahkan dipercaya memiliki ajimat yang kemampuan bisa berubah menjadi hewan besar ketika bencana laut datang.
“Nah, kalau menurut cerita, bahwasanya pohon ini kalau ada bencana yang dari laut, dia berubah menjadi semacam katak besar. Yang menutupi teluk supaya airnya tidak mengalir ke daratan,” ungkapnya.
Selain cerita tentang perlindungan teluk, keluarga juga menyebut adanya sejumlah sosok ular dan benda pusaka yang dipendam di sekitar lokasi pohon tersebut.
Bambang mengatakan, sejumlah jimat tersebut pernah dicoba diambil oleh paranormal dari luar keluarga, namun tidak berhasil.
“Itu pernah diambil tapi tidak kuat, dikembalikan lagi sama orang yang ngambil. Dibawahnya ada wayang sekotak, keris kiai nagasasra, besi kuning, batu yang bentuknya menyerupai katak, diantarnya itu," ungkapnya.(*)
