KETIK, PACITAN – Hidup Ganang Febriana (22) sehari-hari tak jauh dari bau kandang dan aktivitas mengurusi ayam.
Mahasiswa STKIP PGRI asal Desa Bangunsari, Pacitan itu dikenal sebagai penjual ayam jago yang sudah ia geluti sejak beberapa tahun terakhir.
Setiap pagi, Ganang biasa berkutat dengan pesanan ayam dari pelanggan tetap.
Rutinitas itu berjalan stabil, meski tak selalu memberi keuntungan besar.
Namun, di balik kesibukannya, pemuda Nahdliyyin itu menyimpan keinginan mencoba peluang lain-meski belum tahu harus mulai dari mana.
Momentum itu datang saat gelaran Syawalan Fest Pacitan 2026 yang digelar 10–19 April 2026 di Lapangan PETA Sidoharjo, Pacitan.
Melihat ramainya acara tahunan tersebut, Ganang mulai berpikir untuk ikut membuka lapak.
Tapi alih-alih menjual ayam seperti biasanya, ia justru mengambil langkah yang berbeda.
“Masak ya diacara festival keagamaan saya jual ayam, kan kurang cocok. Akhirnya kepikiran jual es saja, yang penting nyoba dulu,” ujarnya, Sabtu, 18 April 2026.
Dengan modal seadanya sekitar Rp500 ribu, Ganang membeli bahan sederhana-es batu, gula, teh, susu, dan beberapa topping buah.
Ia lalu membuka lapak kecil dengan nama 'Barokah Sinoman PMII'.
Nama Barokah Sinoman PMII sendiri dipilih bukan lantaran Ganang juga aktif di organisasi kemahasiswaan.
Hari pertama, ia mengaku masih canggung.
Berbeda dengan jual ayam yang sudah jadi rutinitas, melayani pembeli minuman di tengah keramaian festival jadi pengalaman baru.
"Ya awal-awal memang agak kesulitan pas ngatur takaran minuman biar pas," imbuhnya.
Namun, situasi cepat berubah.
Suhu panas dan membludaknya pengunjung membuat lapak minumannya diserbu pembeli.
Es teh jumbo dan minuman segar racikannya jadi primadona.
“Awalnya deg-degan, takut nggak laku. Tapi ternyata malah ramai terus sejak hari pertama,” ucapnya.
Dalam satu malam, Ganang bisa menjual ratusan gelas minuman.
Dengan harga berkisar Rp3 ribu hingga Rp10 ribu, omzet hariannya diperkirakan tembus Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.
Bahkan, beberapa kali ia harus menutup lapak lebih awal karena stok es batu habis.
“Pernah belum selesai acara tapi sudah habis semua. Mantap wes,” katanya dengan wajah berseri.
Kesuksesan mendadak ini menjadi titik balik bagi Ganang.
Dari yang awalnya hanya mengandalkan usaha ayam, kini ia mulai melihat peluang di sektor minuman segar.
Meski begitu, ia mengaku tidak akan meninggalkan usaha lamanya.
Justru, pengalaman di Syawalan Fest menjadi pelajaran penting untuk mengembangkan usaha ke depan.
“Yang penting berani coba dulu. Ternyata rezeki bisa datang dari mana saja,” pesan menutup.(*)
