Refleksi Mahasiswa terhadap UKT di Meja Perkopian

Editor: Mustopa

21 Mei 2024 11:58

Thumbnail Refleksi Mahasiswa terhadap UKT di Meja Perkopian
Oleh: Bagus Isnu H, S.Hum*

Siapapun pembaca tulisan ini, terima kasih anda telah melek terhadap isu-isu sosial. Sebab butuh peta gerakan luas dan energi yang lebih untuk mengajak teman atau mahasiswa untuk bisa peduli terhadap isu-isu kerakyatan. Seharusnya sedari awal memilih menjadi mahasiswa berarti memilih menjadi tombak pemikir: memberi kritik dan saran. Kepada siapa? Kepada setiap institusi pemangku kebijakan baik lokal maupun tataran nasional.

Bulan ini telah menjadi sejarah bagi kaum buruh atau pejuang nafkah. Di setiap tanggal 1 Mei, upaya persatuan buruh untuk menyampaikan aspirasi dengan tuntutan kenaikan upah hingga jaminan kesehatan para pekerja, namun lagi-lagi tuntutan itu hanya menjadi tambahan “busa” yang bermuara di institusi negara, yang nantinya hilang tergerus angin liar. Melihat kondisi tersebut, para pejabat hanya mendiskusikannya hingga larut namun keputusannya nihil alias tidak membawa perubahan.

Pada bulan Mei ini, saya juga mendapatkan telepon dari sahabat ngopi. Awalnya saya menduga telepon dari sahabat saya itu mengajak bertemu untuk ngopi, sebab beberapa bulan kami sudah tak pernah bertatap muka untuk sekadar minum kopi dan berdiskusi. 

Namun saya tersentak dengan awal obrolannya, setelah ucapan salam, ia langsung bertanya “Sam, kiro-kiro pembayaran ma’had iso dicicil ta? Soale muridku keterimo kuliah, tapi terkendala pembayaran ma’had seng langsung gedhene ngunu.” (Sam, kira-kira pembayaran ma’had bisa dicicil enggak? Soalnya muridku diterima kuliah tapi terkendala biaya ma’had yang nominalnya besar itu). 

Baca Juga:
Film Layak Dicintai, Bukan Ditakuti oleh Mereka yang Terpaksa

Sejenak saya berpikir lantas saya berucap dengan apa yang saya ketahui “sing tak ngerteni gaiso dicicil, Sam, soale bayar ma’had wes dadi sistem teko birokrasi kampus. Biaya ma’had e piro saiki, Sam?” (yang saya tahu tidak bisa dicicil, Sam. Soalnya pembayaran ma’had sudah tersistem oleh birokrasi. Berapa biaya ma’had sekarang?) dengan nada tinggi dan panik sahabatku menjawab “rong digit sam, 10 juta. Menowo ono iso ditolerir sam gawe awal pembayaran awal ma’had iki?” (dua digit sam, Rp. 10.000.000. siapa tahu bisa ditolerir untuk pembayaran awal ma’had ini?) dengan rasa yang kaget lantas saya jawab “pean coba ae hubungi pihak ma’had karo pihak kampus disek ae sam” (coba kamu hubungi pihak dari ma’had dan pihak dari keuangan kampus).

Percakapan kami berhenti sampai di situ. Lantas saya berpikir sejenak dan merenungkan atas musibah yang dialami calon mahasiswa sekarang, mereka ingin sekali menempuh pendidikan lebih tinggi tapi terhalang biaya yang mahal. Saya ingat, saat awal pendaftaran di kampus dengan kagetnya ada biaya untuk ma’had yang semahal itu (dulu masih 1 digit, Rp.7.500.000) dan sekarang tidak saya sangka ternyata bisa naik hingga 2 digit. ya tidak bisa dipungkiri ketika banyak calon mahasiswa yang gugur tidak melanjutkan hingga ke bangku perkuliahan. 

Atas kejadian sekarang ini, saya diingatkan kembali diskusi tahun kemarin (2023) dengan beberapa sahabat perkopian dengan topik pembahasan yang sama seperti peristiwa kenaikan UKT sekarang ini. Dengan pembahasan yang santai tapi serius ini, salah satu sahabat memberikan sebuah pernyataan bahwa isu kenaikan uang kuliah tunggal ini selalu menjadi isu tahunan yang selalu menjadi problem mahasiswa. Namun sahabat saya memberikan stigma yang lain atas peristiwa tersebut “apakah dengan kenaikan UKT ini akan menimbulkan tumpulnya pemikiran kritis? Dan apakah dengan kenaikan UKT ini, perminatan gabung kepada organisasi ekstra kampus akan melemah?  

Atas pertanyaan sahabat saya itu menghasilkan forum diskusi kecil-kecilan hingga larut malam. Belum sempat menjawab sahabat saya kemudian memberikan stimulus pertanyaan kembali dengan melontarkan pernyataan “masak iya, dengan dinaikkannya UKT itu menuntut kita agar cepat lulus saja lalu menjadi pengangguran dan minim pengalaman?” dengan wajah datar saya dengan sahabat yang lain memikirkan hal tersebut dan memang kita ingin berdiskusi itu untuk mendapatkan sebuah solusi yang tepat. Namun waktu terus berputar pertanyaan semua itu belum membuahkan hasil yang tepat, tapi saya yakin akan ada perubahan baik yang kembali diperjuangkan oleh kawanan mahasiswa. 

Baca Juga:
Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Mengingat amanah Undang-undang Dasar terkait kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang harus dilakukan oleh pemerintah sekarang. Jika uang kuliah tunggal dimahalkan secara tidak langsung pemerintah tidak mengemban amanah itu dengan baik, apalagi dengan pernyataan salah satu pejabat Kemendikbud Ristek yang mengatakan bahwa tertiary education tidak masuk dalam program wajib belajar. Hal ini sangat mencederai masyarakat Indonesia sebab masih banyak anak-anak yang mendapatkan fasilitas belajar yang memadai dan juga secara tidak langsung pejabat sekarang mengkhianati nilai-nilai yang dulu pernah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa.

Semoga nalar kritis mahasiswa selalu tajam, memberikan kritik dan pembelaan kepada masyarakat “lemah” dan semoga energi pada jiwa mahasiswa tetap menyala sebagaimana menyalanya energi para leluhur yang memperjuangkan kemerdekaan, kebebasan dan keadilan. Saya tutup tulisan ini dengan untaian bahasa latin “Vivere Militare Est” yang bermakna Hidup adalah Perjuangan.

*) Bagus Isnu H, S.Hum alumnus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan lulusan Pondok Pesantren Darun Nun.

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id

****) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Baca Sebelumnya

Rekrutmen PKD untu Pilkada Kota Batu Masih Sepi Peminat

Baca Selanjutnya

Ratusan Pelajar SMP se-Kabupaten Asahan Ikuti Sosialisasi Internet Sehat

Tags:

opini kenaikan UKT Bagus Isnu H

Berita lainnya oleh Mustopa

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

13 April 2026 21:26

Jaksa Agung Rotasi 14 Kajati, Termasuk Jawa Timur

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

11 April 2026 13:38

Satpam di Lingkungan Kemenag Kota Malang Ikuti Bimtek Layanan Publik

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

10 April 2026 22:10

Breaking News! Bupati Gatut Sunu Wibowo Terjaring OTT KPK di Tulungagung

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

10 April 2026 18:49

Danantara Indonesia Bentuk Denera untuk Kelola Proyek PSEL

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

8 April 2026 00:00

Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

7 April 2026 08:00

Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H