Pena dan Cinta dari Ploly

Editor: Mursal Bahtiar

12 Des 2025 20:44

Thumbnail Pena dan Cinta dari Ploly
Asbar Ikram (Foto: Mursal/Ketik.com)

Di sebuah desa kecil bernama Ploly, Pulau Makian Halmahera Selatan, tempat matahari sering turun lebih cepat dari jam dinding tetangga. Lahirlah seorang anak lelaki yang kelak menulis jalan hidupnya dengan tinta keras kepala: Asbar Ikram. Anak kampung dari keluarga sederhana, yang lebih dulu mengenal cangkul daripada pena, lebih hafal suara parang menebas rumput daripada deru keyboard redaksi.

Masa kecil Asbar adalah buku tebal berisi bab-bab sederhana. Setiap pagi ia membantu orang tuanya di kebun: menyiangi, menanam, memikul hasil panen. Jika kebun sedang sepi, ia turun ke sungai atau pantai menjadi penambang pasir kecil, kadang mengeruk sendiri, kadang menjadi tenaga angkut para penambang dewasa. Upahnya? Hanya cukup untuk membeli buku tulis tipis atau sekotak pensil yang lebih sering patah daripada ambisinya.

Namun di tengah rutinitas tanah, pasir, dan keringat, ia justru menemukan dunia lain yang tak kasat mata: kertas. Bagi Asbar kecil, kertas bukan sekadar tempat menulis tugas sekolah, tetapi ruang aman untuk mencatat hal-hal yang tak bisa ia ucapkan. Dari situlah jejak jurnalistiknya bermula, bukan dari kamera mahal atau ruang redaksi mentereng, melainkan dari rasa ingin tahu yang tumbuh tanpa diminta.

Perjalanan pendidikan mengantarnya ke sebuah universitas di Maluku Utara. Kampus itu tidak mewah, tetapi cukup untuk membuka matanya bahwa hidup dapat dibaca dari berbagai arah. Di sana, ia aktif menulis di mading kampus. Tulisan-tulisannya yang sederhana menjadi pemanasan menuju dunia yang kelak ia tekuni: jurnalistik.

Baca Juga:
Plt Wali Kota Madiun Lantik 15 Kepala Sekolah SD dan SMP

Langkahnya berlanjut hingga ke sebuah media nasional. Dari anak kampung yang dulu menulis di buku lusuh, kini ia berhadapan dengan realita lapangan yang tak bisa dipoles. Integritas menjadi tembok pertamanya. Ia dikenal sebagai wartawan yang enggan dipoles amplop, menolak godaan yang kerap datang halus di lapangan. Baginya, berita tetap berita, bukan titipan, bukan pesanan.

Reputasinya kemudian membawa namanya ke Haliyora, salah satu media terkemuka di Maluku Utara. Di sana, ia semakin dikenal: lewat tulisan yang terukur, lewat keberaniannya membuka tabir kasus yang kerap ditutup rapat, dan lewat konsistensinya menjaga akurasi.

Namun perjalanan itu tidak berhenti di redaksi orang lain. Ia mendirikan media sendiri: Salawaku.id. Sebuah nama yang berarti perisai, dan memang itulah yang ia cita-citakan. Perisai terhadap hoaks, terhadap informasi yang dipelintir, terhadap kepentingan yang menyaru sebagai kebenaran. Di era ketika kebohongan bisa viral lebih cepat dari fakta, Salawaku.id berdiri sebagai benteng kecil yang ia bangun dengan tekad besar.

Jejaknya di Halmahera Selatan dikenal baik. Ia merawat jaringan pertemanan tanpa memandang jabatan, latar belakang, atau gengsi. Ia bisa berbicara formal dengan pejabat, namun pada malam yang sama tertawa lepas bersama sesama wartawan. Ketegasannya di lapangan dibarengi humor yang menjadi nafasnya untuk tetap bertahan.

Baca Juga:
Tampil Beda! PKS Trenggalek Ajak Awak Media Diskusi Semarakkan Ramadan

Dan di tengah perjalanan profesional itu, hidup kembali menyelipkan kejutan. Tepat pada 17 Mei 2024, di sebuah turnamen sepak bola tarkam di Desa Indong, Kecamatan Mandioli Utara, lembar baru dimulai. Pertemuan sederhana di tepi lapangan itu menjadi catatan awal yang kelak berlanjut panjang. Saat itu, Asbar dan sosok perempuan yang kini menjadi pioihan hidupnya sama-sama hadir sebagai pemain di tim masing-masing. 

Di tengah riuh penonton, tatapan keduanya bersinggungan tanpa sedikit pun menduga bahwa momen itu akan menjadi pembuka cerita yang lebih besar.

Pertemuan kedua menyusul sebulan kemudian, pada 19 Juli, di acara pembukaan Popda di aula kantor Bupati. Suasana lebih formal, ruang lebih tertata, namun sambutan hangat antar keduanya terasa lebih akrab. Dari sinilah komunikasi mulai terjalin. Mereka mulai saling melempar pesan, berbagi cerita ringan di WhatsApp, dan tanpa sadar kedekatan itu tumbuh konsisten seperti berita yang disunting perlahan namun pasti.

Pada 7 Desember, keduanya sepakat bertemu di Kafe Bilqis Shop. Pertemuan itu bukan peristiwa besar, namun suasananya terasa berbeda. Di meja sederhana dan obrolan hangat, keduanya menemukan kenyamanan yang tak mereka rencanakan. 

Seminggu kemudian, 15 Desember, mereka kembali bertemu di Kafe Stereck Tomori. Di pertemuan itulah hubungan mulai mendapat bentuk yang lebih jelas. Kepercayaan dibangun, harapan dititipkan, dan keduanya sama-sama menyadari bahwa mereka sedang menuju arah yang sama.

Memasuki awal 2025, hubungan itu semakin solid. Seperti seorang wartawan yang memastikan akurasi informasi sebelum publikasi, Asbar mulai mengenal keluarga pasangannya. Ia bersilaturahmi, menyapa, dan memahami lingkungan tempat perempuan itu tumbuh. Pada Rabu, 19 November, ia resmi meminangnya di kediaman keluarga di Desa Hidayat. Lamaran diterima, dan langkah menuju bab baru pun disepakati.

Kini, keduanya bersiap melangkah ke tahap paling sakral. Insya Allah, pernikahan akan dilangsungkan pada Rabu, 17 Desember 2025, di Desa Hidayat. Sebuah tanggal yang bukan hanya menjadi penanda acara, tetapi juga titik temu dua perjalanan panjang yang dipertemukan oleh waktu, kesederhanaan, dan kejujuran.

Dari anak penambang pasir kecil di Pulau Makian, menjadi wartawan yang berpegang teguh pada integritas, hingga pendiri media yang berdiri melawan hoaks dan akhirnya menuliskan bab cinta dalam hidupnya sendiri. Asbar Ikram membuktikan satu hal: bahwa hidup adalah rangkaian berita yang ditulis oleh keberanian.

Dan bahwa di tengah kesibukan mengejar fakta, manusia tetap membutuhkan rumah untuk kembali dalam bentuk seseorang yang membuat perjalanan itu layak diperjuangkan.

Pena yang lahir di Ploly kini menulis kisah yang paling personal: kisah tentang kerja keras, tentang kebenaran, dan tentang cinta yang menemukan jalannya sendiri.

Baca Sebelumnya

Sebingkai Humanisme di Halaman Kantor Bupati Halmahera Selatan

Baca Selanjutnya

MWCNU Robatal Sambut Baik Kegiatan Turba Nusantara PCNU Sampang

Tags:

Asbar Ikram Jurnalis Desa Ploly Cinta integritas Cita cita mulia

Berita lainnya oleh Mursal Bahtiar

Polres Halmahera Selatan Tak Kendur Tangani Tambang Ilegal

16 April 2026 17:43

Polres Halmahera Selatan Tak Kendur Tangani Tambang Ilegal

Nasyir Koda Ingin Bangunan Warga Halmahera Selatan Cepat Legal

14 April 2026 09:50

Nasyir Koda Ingin Bangunan Warga Halmahera Selatan Cepat Legal

Sianida di Halmahera Selatan Hanya Lewat Satu Tangan

14 April 2026 06:53

Sianida di Halmahera Selatan Hanya Lewat Satu Tangan

Total 361 Koperasi Tercatat di Halmahera Selatan

13 April 2026 19:02

Total 361 Koperasi Tercatat di Halmahera Selatan

Bassam ke KNPI Halsel: Kritis Saja Tak Cukup, Pemuda Harus Bawa Solusi

12 April 2026 17:06

Bassam ke KNPI Halsel: Kritis Saja Tak Cukup, Pemuda Harus Bawa Solusi

Taslim Abdurrahman Resmi Pimpin KNPI Halmahera Selatan

12 April 2026 16:36

Taslim Abdurrahman Resmi Pimpin KNPI Halmahera Selatan

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H