Gelar sarjana tidak otomatis membuat seseorang sukses, kaya, apalagi bahagia. Wisuda hanyalah garis akhir pendidikan formal sekaligus garis awal perjuangan menghadapi kehidupan nyata. Setelah bertahun-tahun belajar di perguruan tinggi, para lulusan kini dihadapkan pada tantangan yang sesungguhnya: mencari pekerjaan, membangun usaha, memperoleh penghasilan, dan menemukan arah hidup.
Di tengah persaingan kerja dan ketidakpastian masa depan, muncul pertanyaan mendasar: setelah ini, ke mana saya harus melangkah?
Sebagian lulusan segera memperoleh pekerjaan dan mulai meniti karier. Sebagian lainnya harus mengirim lamaran ke berbagai perusahaan, mengikuti seleksi berulang kali, atau mencoba mencari peluang usaha. Ada pula yang masih bertanya-tanya tentang potensi dirinya dan jalan hidup yang ingin ditempuh.
Padahal, mereka mungkin berasal dari perguruan tinggi yang sama, memiliki gelar yang setara, bahkan memperoleh prestasi akademik yang tidak jauh berbeda. Mengapa perjalanan mereka setelah lulus bisa begitu beragam? Mengapa ada yang cepat menemukan peluang, sementara yang lain masih berjuang mencari pijakan?
Pertanyaan inilah yang kembali mengusik pikiran saya setelah mengikuti Workshop Kekuatan Mindset: Menjadi Muslim Kaya dan Bahagia pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Unit Pengabdian dan Kewirausahaan Fakultas Syariah tersebut diikuti ratusan mahasiswa.
Lebih dari sekadar memberikan motivasi kewirausahaan, workshop ini mengajak peserta memahami pentingnya kemandirian, keberanian mengambil peluang, dan membangun pola pikir yang tepat dalam menghadapi kehidupan.
Refleksi itu terasa semakin relevan ketika saya menuliskannya untuk para mahasiswa Fakultas Syariah yang hari ini mengikuti Yudisium ke-61 tanggal 12 Oktober Tahun 2026. Yudisium bukanlah garis akhir perjalanan akademik, melainkan gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Setelah meninggalkan ruang kuliah, para lulusan akan berhadapan dengan dunia yang menawarkan beragam peluang sekaligus tantangan. Ada yang akan meniti karier profesional, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, atau mengabdikan diri di tengah masyarakat.
Di titik inilah, bekal ilmu saja tidak selalu cukup. Para lulusan juga membutuhkan keberanian untuk melangkah, kemampuan beradaptasi, kemandirian dalam mengambil keputusan, dan keyakinan bahwa kesuksesan dapat ditempuh melalui banyak jalan. Sebab, menjadi sarjana bukan semata-mata tentang gelar yang disandang, melainkan tentang bagaimana ilmu, nilai, dan kemampuan yang diperoleh selama kuliah dapat menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang bermakna.
Dalam kegiatan itu, narasumber Dr. H. Djoni Sudjatmoko, S.E., M.M., yang akrab dipanggil Abah Joni, pemilik NK Cafe Malang, menguraikan filosofi berenang, berkuda, dan memanah sebagai prinsip dalam membangun kemandirian.
Bagi saya, ketiga filosofi tersebut relevan bagi siapa pun yang sedang mencari arah kehidupan, terutama anak muda yang baru memasuki dunia setelah bangku kuliah. Ketiganya bukan sekadar gambaran tentang keterampilan fisik, melainkan juga pelajaran tentang ketangguhan, pengendalian diri, dan kemampuan menentukan tujuan.
Berenang mengajarkan pentingnya terus bergerak dan tidak mudah menyerah. Dalam kehidupan, kita tidak selalu memperoleh kesempatan sesuai harapan. Lamaran pekerjaan bisa ditolak, rencana usaha dapat menemui hambatan, dan jalan menuju kesuksesan terkadang lebih panjang daripada yang dibayangkan.
Namun, kegagalan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti. Ketika satu pintu belum terbuka, kita perlu mengevaluasi langkah, meningkatkan keterampilan, dan mencari kemungkinan lain. Pantang menyerah bukan berarti terus melakukan hal yang sama, melainkan tetap berusaha sambil bersedia memperbaiki cara.
Bagi mahasiswa yang baru lulus, pelajaran ini penting. Jangan sampai penolakan pertama membuat kita merasa tidak mampu, atau belum memperoleh pekerjaan membuat kita menganggap pendidikan yang telah ditempuh sia-sia. Bisa jadi, kita hanya perlu memperbaiki strategi, menambah kompetensi, memperluas jaringan, atau menemukan bidang yang lebih sesuai dengan potensi diri.
Berkuda mengajarkan pentingnya mengendalikan diri. Dunia setelah wisuda sering menghadirkan tekanan, terlebih ketika melihat teman sebaya telah bekerja, memiliki penghasilan, atau merintis usaha. Tanpa pengendalian diri, perbandingan semacam itu dapat melahirkan kecemasan dan membuat seseorang merasa tertinggal.
Padahal, setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, dan perjalanan yang berbeda. Yang lebih penting bukanlah seberapa cepat kita menyamai pencapaian orang lain, melainkan bagaimana kita mengembangkan potensi dan menjalani proses dengan sungguh-sungguh.
Kecerdasan emosional, kemampuan bekerja sama, dan kesediaan menerima kritik juga menjadi bekal penting dalam menghadapi dunia kerja maupun membangun usaha. Kita perlu belajar mengelola rasa kecewa, menahan diri dari keputusan yang terburu-buru, dan tetap berpikir jernih ketika menghadapi tekanan.
Tidak semua orang harus sukses pada usia yang sama. Tidak semua lulusan harus segera memiliki pekerjaan bergengsi. Ada proses yang perlu dijalani, keterampilan yang harus dibangun, dan pengalaman yang hanya bisa diperoleh melalui keberanian mencoba.
Sementara itu, memanah mengingatkan kita tentang pentingnya menentukan sasaran. Tidak semua orang harus menempuh jalan yang sama setelah lulus kuliah. Ada yang berkembang melalui pekerjaan profesional, ada yang memilih berwirausaha, dan ada pula yang memadukan keduanya.
Kita tidak harus mengetahui seluruh jawaban tentang masa depan sejak awal. Namun, kita perlu mulai mengenali kemampuan, menentukan tujuan yang realistis, dan mengambil langkah kecil untuk mendekatinya. Tanpa arah yang jelas, kita mudah menghabiskan waktu untuk mengejar sesuatu hanya karena orang lain melakukannya.
Bagi seorang sarjana, ijazah dan ilmu pengetahuan merupakan modal awal. Namun, modal itu perlu diolah menjadi kemampuan yang bermanfaat. Pengetahuan harus diterapkan, keterampilan harus diasah, dan peluang harus dipelajari.
Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti sebagai pencapaian akademik, tetapi berlanjut menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Pelajaran tersebut membawa saya pada pertanyaan lain: apa sebenarnya arti menjadi kaya dan bahagia?
Selama ini, kekayaan kerap diukur melalui uang, rumah mewah, mobil mahal, dan berbagai simbol keberhasilan lainnya. Padahal, kekayaan tidak semestinya berhenti pada apa yang terlihat. Kemampuan memenuhi kebutuhan hidup, memperoleh penghasilan halal, menjaga kesehatan, membangun keluarga yang harmonis, serta memiliki kesempatan berbagi juga merupakan bagian penting dari kehidupan yang sejahtera.
Seseorang bisa memiliki banyak harta, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana dapat merasakan kebahagiaan karena mampu memenuhi kebutuhannya, memiliki hubungan yang baik dengan keluarga, dan menjalani hidup dengan rasa syukur. Tentu, kondisi idealnya adalah mampu membangun kesejahteraan sekaligus menjaga ketenangan batin.
Dalam perspektif Islam, menjadi kaya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan dengan kesalehan. Seorang Muslim boleh bekerja keras, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan. Harta dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menolong sesama, mendukung pendidikan, dan memperluas manfaat bagi masyarakat.
Yang perlu dijaga adalah cara memperoleh harta, cara mengelolanya, serta manfaat yang dihadirkannya bagi orang lain. Kekayaan semestinya diperoleh melalui jalan yang halal, dikelola dengan amanah, dan tidak menjauhkan pemiliknya dari tanggung jawab kepada Allah maupun sesama manusia.
Surah Al-Qashash ayat 77 mengingatkan kita agar mengupayakan kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian di dunia, serta berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita. Pesan ini mengajarkan bahwa pencapaian duniawi dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab moral dan spiritual.
Karena itu, motivasi menjadi Muslim kaya dan bahagia semestinya tidak berhenti pada keinginan memiliki banyak harta. Lebih dari itu, ia menjadi dorongan untuk mandiri, bekerja secara jujur, mengembangkan kemampuan, dan menjadikan keberhasilan sebagai jalan untuk memberikan manfaat.
Bagi mahasiswa yang baru lulus kuliah dan masih mencari arah, barangkali langkah pertama bukanlah menunggu datangnya kesempatan sempurna, melainkan mulai bergerak dengan apa yang dimiliki hari ini. Belajar keterampilan baru, memperluas jaringan, mencoba peluang yang realistis, dan berani mengevaluasi kegagalan merupakan bagian dari proses tersebut.
Jika belum mendapatkan pekerjaan, manfaatkan waktu untuk meningkatkan kompetensi dan mencari alternatif yang sesuai. Jika ingin berwirausaha, mulailah dengan memahami kebutuhan pasar, menghitung risiko, dan menguji gagasan dalam skala yang terjangkau. Tidak semua usaha harus dimulai dengan modal besar.
Sering kali, keberanian belajar dan kecermatan membaca peluang menjadi langkah awal yang menentukan.
Kita juga perlu menyadari bahwa keberhasilan tidak sepenuhnya ditentukan oleh mindset. Kesempatan kerja, kondisi ekonomi, akses terhadap modal, dan dukungan lingkungan turut berpengaruh.
Tidak semua orang memulai perjalanan dari titik yang sama. Namun, pola pikir yang sehat dapat membantu kita menghadapi keadaan dengan lebih tangguh, mengenali peluang yang tersedia, dan terus berusaha tanpa kehilangan harapan.
Dengan demikian, kecerdasan, gelar akademik, dan pengetahuan akan menemukan maknanya ketika semuanya digunakan untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Wisuda bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk membuktikan bagaimana ilmu diterapkan dalam kehidupan nyata.
Sebab, kesuksesan bukan sekadar tentang seberapa cepat kita memperoleh pekerjaan, seberapa tinggi jabatan yang diraih, atau seberapa banyak harta yang dikumpulkan. Kesuksesan juga tentang keberanian menemukan arah, ketekunan menjalani proses, dan kemampuan menjaga nilai-nilai yang kita yakini.
Teruslah bergerak seperti orang yang berenang, kendalikan diri seperti penunggang kuda, dan tetapkan sasaran seperti pemanah. Tidak semua perjalanan akan berlangsung mulus, tetapi setiap langkah yang disertai ikhtiar, pembelajaran, dan doa dapat menjadi bagian dari proses menuju kehidupan yang lebih mandiri dan bermakna.
Menjadi Muslim kaya dan bahagia bukan hanya tentang memiliki lebih banyak, melainkan tentang menjadi pribadi yang mampu mengelola apa yang dimiliki, mensyukurinya, dan menggunakannya untuk kebaikan.
Dengan demikian, gelar sarjana menunjukkan apa yang telah kita pelajari, sedangkan cara kita menjalani kehidupan menunjukkan apa yang mampu kita lakukan dengan ilmu tersebut. Maka, jangan berhenti pada kebanggaan mengenakan toga. Jadikan ilmu sebagai bekal untuk berkarya, kemandirian sebagai tujuan yang diperjuangkan, kekayaan sebagai sarana kebaikan, dan kebahagiaan sebagai perjalanan yang senantiasa mendekatkan kita kepada Allah.
Di situlah kesuksesan menemukan maknanya: bukan sekadar berhasil mencapai tujuan, tetapi juga memahami untuk apa tujuan itu diperjuangkan.
*) Dr. H. Miftahul Huda, SHI., M.H. adalah Dosen Fakultas Syariah UIN Malang.
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis.
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
Panjang naskah maksimal 800 kata
Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
Hak muat pada redaksi
