Kompas Umat di Tengah Dunia yang Terbakar

17 April 2026 09:47 17 Apr 2026 09:47

Thumbnail Kompas Umat di Tengah Dunia yang Terbakar

Oleh KH. Ahmad Ghozali Fadli*

Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Konflik bersenjata di berbagai belahan bumi, dari Timur Tengah hingga kawasan lain, memperlihatkan satu realitas pahit: manusia semakin maju secara teknologi, tetapi belum tentu dewasa secara moral.

Perang tidak lagi sekadar soal wilayah, tetapi juga kepentingan, pengaruh, dan bahkan narasi kebenaran yang saling dipertentangkan.

Di tengah situasi ini, umat Islam menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, ada dorongan emosional untuk bereaksi terhadap ketidakadilan global. Di sisi lain, ada risiko kehilangan arah, terjebak pada kemarahan, propaganda, atau bahkan sikap berlebihan yang justru menjauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Di sinilah pentingnya menghadirkan kembali “kompas umat”, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Furqan ayat 1. Ayat ini bukan sekadar pengingat spiritual, tetapi pedoman strategis dalam membaca dan merespons realitas dunia.

Pertama, kompas itu dimulai dari orientasi ilahiyah. Kata tabāraka menegaskan bahwa sumber kekuatan sejati adalah Allah, bukan semata kekuatan militer, ekonomi, atau politik. Dalam konteks perang hari ini, ini menjadi koreksi penting. Banyak pihak mengandalkan superioritas teknologi dan aliansi kekuatan, tetapi melupakan dimensi moral dan keberkahan.

Bagi umat Islam, kesadaran ini melahirkan sikap yang lebih jernih. Bahwa membela kebenaran tidak boleh mengorbankan nilai. Bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal mengalahkan lawan, tetapi juga menjaga prinsip. Tanpa orientasi ilahiyah, perjuangan mudah berubah menjadi balas dendam yang tak berujung.

Kedua, Al-Qur’an sebagai Al-Furqan, pembeda antara yang hak dan batil. Di era perang modern, pertempuran tidak hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga di ruang informasi. Narasi dipelintir, fakta dimanipulasi, dan opini dibentuk untuk memenangkan persepsi publik.

Dalam kondisi seperti ini, umat tidak boleh menjadi korban arus informasi. Al-Qur’an harus menjadi standar dalam menilai: mana yang adil, mana yang zalim; mana yang benar, mana yang sekadar dibungkus retorika. Tanpa pijakan ini, umat mudah terprovokasi, bahkan bisa tanpa sadar membela sesuatu yang bertentangan dengan nilai Islam.

Ketiga, identitas penghambaan sebagai fondasi moral. Dalam ayat tersebut, Nabi Muhammad disebut sebagai hamba-Nya, bukan dengan gelar kekuasaan. Ini pesan penting di tengah dunia yang mengagungkan dominasi dan kekuatan.

Perang sering kali melahirkan kesombongan kolektif, merasa paling benar, paling berhak, dan paling layak menentukan nasib orang lain. Padahal, Islam justru menanamkan kerendahan hati di hadapan Allah. Identitas sebagai hamba menjaga manusia agar tidak melampaui batas, bahkan dalam kondisi konflik sekalipun.

Dari sinilah lahir etika: tidak melampaui batas, tidak menzalimi, dan tetap menjunjung tinggi keadilan. Sebab tanpa kontrol moral, kekuatan justru menjadi alat kerusakan.

Keempat, misi universal sebagai arah akhir. Ayat ini menegaskan bahwa risalah Islam ditujukan untuk seluruh alam. Ini berarti Islam tidak hadir untuk memperluas konflik, tetapi untuk menghadirkan rahmat.
Dalam konteks perang global, umat Islam dituntut untuk tampil sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar reaksi. Mendorong perdamaian yang adil, membela yang tertindas tanpa melanggar prinsip, serta menghadirkan nilai kemanusiaan di tengah krisis.

Ini memang tidak mudah. Dibutuhkan kedewasaan, keteguhan, dan kejernihan berpikir. Namun justru di sinilah letak peran strategis umat: menjadi penyeimbang di tengah dunia yang ekstrem.

Akhirnya, kompas ini mengajarkan satu hal penting: arah lebih utama daripada kecepatan. Dalam situasi dunia yang panas dan penuh tekanan, reaksi cepat tanpa arah justru berbahaya. Sebaliknya, sikap yang terukur, berpijak pada wahyu, dan berorientasi pada kemaslahatan akan menjaga umat tetap berada di jalur yang benar.

Perang mungkin tidak bisa dihindari sepenuhnya dalam sejarah manusia. Namun kehilangan arah adalah pilihan, dan itu yang harus dihindari.

Maka, di tengah dunia yang seakan terbakar, umat Islam tidak boleh ikut larut dalam kobaran tanpa kendali. Ia harus tetap berjalan dengan kompasnya: menuju kebenaran, keadilan, dan rahmat bagi seluruh alam. (*)

*) KH. Ahmad Ghozali Fadli adalah Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Alquran Wonosalam Jombang dan Rois Syuriah MWC NU Wonosalam Jombang

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

kompas umat keutamaan alquran KH. Ahmad Ghozali Fadli opini jumat nu jombang