Ketimpangan di Balik Dapur MBG

Jurnalis: Eko Hardianto
Editor: Muhammad Faizin

13 Jan 2026 08:20

Thumbnail Ketimpangan di Balik Dapur MBG
Oleh: Eko Hardianto*

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar ambisi politik. Kebijakan ini adalah mega-proyek nasional. Memutar roda ekonomi hingga ke pelosok desa. Melalui Badan Gizi Nasional (BGN), pemerintah menggelontorkan anggaran. Sifatnya sangat masif. Untuk memastikan setiap anak sekolah mendapatkan gizi yang layak. Namun, dibalik niat mulia Presiden Prabowo Subianto ini, muncul ironi ketika kita membedah rincian anggaran di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

Ya, ketimpangan yang begitu telanjang sedang terjadi. Di mana pemilik modal, atau yayasan seolah diposisikan sebagai "anak emas". Menerima aliran dana begitu fantastis. Sementara relawan sebagai tulang punggung seperti dipaksa mengalah. Dibiarkan mengais sisa-sisa anggaran dalam balutan bahasa "pengabdian".

Jika mengacu regulasi pendanaan MBG yang baru, struktur pembiayaan sepertinya hanya menguntungkan penyedia fasilitas. Ada angka Rp6.000.000 per hari. Uang itu dialokasikan sebagai biaya sewa tetap (fixed rent). Antara lain untuk sewa gedung berikut peralatan dapur. Ini sulit dinalar logika efisiensi anggaran negara. Tidak berhenti di situ, regulasi juga memberikan tambahan Rp2.000 per porsi sebagai biaya sewa variabel.

Mari kita bicara angka nyata. Simulasinya jika satu SPPG melayani 3.000 porsi per hari. Maka pemilik yayasan mendapatkan sewa tetap Rp6.000.000. Lalu sewa variabel Rp2.000 x 3.000 = Rp6.000.000. Dimana total pendapatan pemilik yayasan mencapai angka Rp12.000.000 per hari. Dalam satu bulan (asumsi 22 hari kerja), seorang pemilik yayasan bisa mengantongi Rp264.000.000.

Baca Juga:
Jangan Lampaui Batas: Peran Panti Rehabilitasi dalam Sistem Hukum Narkotika

Disebut sebagai kompensasi atas penyediaan gedung dan peralatan, memang benar. Investasi awal membangun dapur standar industri tidaklah murah. Namun, dengan skema pembayaran harian sebesar itu, pengembalian modal (break-even point) akan tercapai dalam waktu singkat. Tapi bagaimana setelah modal kembali ? Tentu uang rakyat praktis menjadi keuntungan bersih pribadi atau kas yayasan. Ini bentuk privatisasi keuntungan dari dana publik yang sangat mencolok.

Sekarang mari kita lirik nasib puluhan relawan. Manusia-manusia yang siang malam bekerja di dapur. Termasuk Asisten Lapangan (Aslap). Regulasi hanya mengalokasikan dana Rp3.000 per porsi. Dana itu untuk seluruh beban operasional di luar bahan baku. Dan dana inilah yang harus dibagi-bagi. Antara lain untuk gaji puluhan relawan. Sampai biaya pemeliharaan alat dapur (gas, listrik, air, service kompor, blender, dll).

Jika satu hari ada 3.000 porsi, maka tersedia dana Rp9.000.000 untuk operasional. Setelah dipotong biaya BBM, sewa mobil, dan utilitas, tentu sisa uang untuk relawan sangat minim. Bandingkan dengan Rp12.000.000 yang diterima satu orang pemilik yayasan hanya dari urusan "sewa-menyewa".

Di sinilah letak kritiknya. Mengapa penyedia benda gedung dan alat dibayar jauh lebih mahal daripada mereka yang memberikan "nyawa" dan keringat pada program ini? Penulis melihat dan merasakan relawan bekerja di bawah tekanan tinggi. Mulai mempersiapan bahan di dini hari. Proses memasak yang menguras fisik. Hingga memastikan standar sanitasi yang ketat. Menyebut mereka sebagai "relawan" seolah menjadi pembenaran bagi pemerintah dan mitra. Pembenaran untuk tidak memberikan upah layak sesuai standar hidup bermartabat.

Baca Juga:
Napak Tilas Sejarah NU, Kota Surabaya Layak Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Ke-35

Pemberian dana sewa Rp 6.000.000 per hari adalah potret nyata potensi pemborosan APBN. Jika pemerintah mampu membiayai sewa harian sebesar itu, mengapa tidak sejak awal dilakukan skema pengadaan aset milik negara? Dalam jangka panjang, membayar sewa harian kepada swasta atau yayasan adalah pemborosan sistemik. Uang seharusnya digunakan menambah kualitas gizi anak atau menyejahterakan buruh masak, justru menguap menjadi laba pemilik bangunan.

Hadirnya dana sewa variabel Rp2.000 per porsi, juga menciptakan insentif yang salah. Pemilik yayasan tentu selalu menginginkan jumlah porsi yang maksimal. Ini reaksi demi mengejar uang sewa. Ini adalah bentuk kapitalisme yang menyusup di dalam program sosial.

Kalau sudah demikian, sangat tidak etis jika pemilik yayasan atau mitra BGN tetap bersikap "serakah". Memendam sendiri dana sewa yang fantastis tersebut. Dengan pendapatan jutaan rupiah per hari tanpa memegang sutil panas, seharusnya menjadi kewajiban moral pemilik yayasan menambah insentif para relawan.

Jangan berlindung di balik kata "keikhlasan" para relawan. Keikhlasan tidak bisa membayar uang sekolah anak mereka. Atau membeli beras bagi keluarga mereka. Pemilik yayasan harus sadar bahwa keuntungan yang mereka nikmati berasal dari kerja keras relawan. Menyisihkan sebagian dari dana sewa Rp6.000.000 untuk menambah pendapatan relawan bukan hanya soal kedermawanan. Melainkan soal keadilan distributif.

Jika mitra tetap membiarkan relawan bekerja dengan upah minimalis sementara mereka sendiri bergelimang laba dari dana sewa, maka program MBG ini gagal secara etika. Kita tidak ingin generasi emas tumbuh dari hasil memeras keringat orang-orang kecil yang tidak dibayar layak.

Regulasi MBG harus segera dievaluasi. Badan Gizi Nasional tidak boleh membiarkan ketimpangan ini terus berjalan. Harus ada aturan yang mewajibkan mitra mengalokasikan persentase tertentu dari dana sewa sebagai bonus atau insentif bagi tenaga kerja.

Kepada para pemilik yayasan dan mitra SPPG, publik kini mengawasi. Dana yang anda terima adalah uang rakyat. Jangan jadikan piring anak-anak kami sebagai jembatan menuju kekayaan pribadi semata. Berikan hak relawan secara layak, bagikan keuntungan sewa tersebut untuk mereka yang bekerja. Lalu pastikan semangat "Gotong Royong" bukan hanya sekedar slogan untuk memeras tenaga rakyat kecil. Jika tidak, maka "G" dalam MBG bukan lagi berarti Bergizi, melainkan "Gaji" besar bagi pemilik modal dan "Gigit jari" bagi para relawan.

*) Eko Hardianto merupakan Wakil Ketua PWI Probolinggo Raya dan jurnalis Ketik.com

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

 

Baca Sebelumnya

Regenerasi Strategis Adhyaksa Sumsel, Ini List Lima Kajari Baru Resmi Mengemban Amanah

Baca Selanjutnya

Pelaku Jagal Sapi Surabaya Mogok, Minta Pemkot Segera Tanggapi Tuntutan

Tags:

Ketimpangan di Balik Dapur MBG Dapur MBG: Ketika Sewa Mengalahkan Dapur MBG: Sewa Fantastis Relawan Tertekan opini Artikel opini Eko Hardianto

Berita lainnya oleh Eko Hardianto

Nasib Tragis Angkot Probolinggo: Dulu Jadi Raja Jalanan, Kini Tinggal Kenangan

5 April 2026 16:37

Nasib Tragis Angkot Probolinggo: Dulu Jadi Raja Jalanan, Kini Tinggal Kenangan

Politik di Kota Probolinggo Tidak Rumit: Dekati, Dengar, Menang

27 Maret 2026 05:20

Politik di Kota Probolinggo Tidak Rumit: Dekati, Dengar, Menang

Rahasia Hemat BBM yang Sebenarnya Kota Probolinggo Punya

26 Maret 2026 18:44

Rahasia Hemat BBM yang Sebenarnya Kota Probolinggo Punya

PMR Probolinggo Bagikan Takjil di Tengah Ramainya Ngabuburit

13 Maret 2026 16:20

PMR Probolinggo Bagikan Takjil di Tengah Ramainya Ngabuburit

Mitra SPPG Ketapang 001 Kota Probolinggo Bantah Dapurnya Tak Ber-IPAL

11 Maret 2026 20:35

Mitra SPPG Ketapang 001 Kota Probolinggo Bantah Dapurnya Tak Ber-IPAL

BGN Hentikan 18 Dapur SPPG MBG di Probolinggo, Berikut Daftarnya dan Respon dari Pemerintah Daerah

11 Maret 2026 04:39

BGN Hentikan 18 Dapur SPPG MBG di Probolinggo, Berikut Daftarnya dan Respon dari Pemerintah Daerah

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar