Marwah sebuah bahasa di lingkungan universitas selayaknya tercermin dalam kehidupan intelektual yang tumbuh melaluinya. Bahasa Arab telah memperoleh martabat luhur di perguruan tinggi Islam. Namun, martabat tersebut menyisakan pertanyaan mendasar: seberapa besar pengaruhnya terhadap cara sivitas akademika membaca, meneliti, dan menghasilkan pengetahuan?
Dies Natalis ke-65 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang merupakan momentum untuk mengajukan pertanyaan itu secara terbuka. Bahasa Arab telah menjadi bagian penting dari identitas pendidikan Islam. Tantangan berikutnya ialah memastikan bahwa kedudukan tersebut memiliki daya akademik: memperdalam pemahaman, memperluas cakrawala, dan melahirkan pemikiran yang dibutuhkan masyarakat.
Sejarah peradaban Islam memperlihatkan hubungan erat antara kehidupan bahasa dan perkembangan ilmu. Pada masa keemasannya, bahasa Arab menjadi medium perjumpaan sarjana dari beragam bangsa dan agama. Pengetahuan diterjemahkan, dipelajari, diperdebatkan, serta dikembangkan melintasi batas budaya. Warisan intelektual yang dihasilkannya kemudian turut memperkaya peradaban dunia.
Pelajaran terpenting dari sejarah tersebut terletak pada kebiasaan intelektual yang menghidupkannya. Keterbukaan terhadap pengetahuan, ketekunan memeriksa sumber, dan keberanian mengembangkan pemikiran merupakan mesin penggerak peradaban. Kebanggaan terhadap masa lalu akan produktif apabila mendorong perguruan tinggi menghidupkan kebiasaan-kebiasaan tersebut dalam konteks sekarang.
Dalam Al-Mustashfa, al-Ghazali menempatkan pengetahuan bahasa dan nahwu sebagai bagian penting dari kecakapan seorang mujtahid. Penekanannya terletak pada kemampuan memahami tuturan, membedakan lapisan makna, dan menangkap maksud secara cermat. Untuk keperluan itu, seseorang tidak harus mencapai tingkat kepakaran al-Khalil atau Sibawaih. Pandangan ini memberikan landasan untuk menilai pendidikan bahasa berdasarkan kedalaman pemahaman yang dimungkinkannya.
Dalam konteks perguruan tinggi, penguasaan kaidah semestinya berkembang menjadi kemampuan menelaah gagasan. Mahasiswa yang mampu menentukan kedudukan gramatikal sebuah kata perlu memperoleh kesempatan untuk menjelaskan argumentasi penulis, memeriksa dasar pemikirannya, dan menghubungkannya dengan persoalan penelitian. Ketelitian berbahasa menemukan makna akademiknya melalui kegiatan tersebut.
Karena itu, evaluasi pembelajaran bahasa Arab perlu menjangkau perjalanan mahasiswa setelah program bahasa berakhir. Apakah kemampuan yang diperoleh masih digunakan dalam perkuliahan? Apakah sumber berbahasa Arab memperkaya tugas akhir? Apakah mahasiswa menemukan alasan intelektual untuk terus mengembangkan kemahirannya? Pertanyaan demikian lebih jauh menjelaskan keberhasilan pendidikan daripada nilai ujian semata.
Bagi UIN Malang, agenda strategisnya ialah membangun kesinambungan antara pembelajaran bahasa, pendalaman bidang studi, dan produksi pengetahuan. Program bahasa dan program studi perlu merancang jalur penggunaan bahasa yang berkelanjutan. Kemampuan dasar memperoleh penguatan melalui kelompok baca; kegiatan membaca berkembang menjadi diskusi; diskusi melahirkan pertanyaan penelitian dan karya ilmiah.
Kebutuhan setiap bidang tentu berbeda. Mahasiswa syariah memerlukan ketelitian membaca argumentasi hukum, sedangkan mahasiswa pendidikan membutuhkan akses terhadap pemikiran dan penelitian pembelajaran. Dalam bidang lain, bahasa Arab dapat membuka kajian sejarah, filsafat, maupun etika keilmuan. Perbedaan tersebut menuntut tujuan pembelajaran yang terarah dan bahan bacaan yang relevan.
Namun, tanggung jawab universitas melampaui kemampuan mengakses pemikiran. PTKIN perlu memperbesar kontribusinya dalam menghasilkan gagasan yang diperhitungkan dunia. Pengalaman tentang pesantren, pendidikan Islam, kehidupan keagamaan dalam masyarakat majemuk, dan perjumpaan agama dengan kebudayaan layak memperoleh pembaca yang lebih luas.
Atas dasar itu, UIN Malang dapat mempertimbangkan pembentukan Rumah Terjemah dan Transformasi Peradaban. Wadah ini mempertemukan ahli bahasa, peneliti berbagai disiplin, mahasiswa, dan mitra internasional untuk mengembangkan pertukaran pengetahuan dua arah. Karya penting berbahasa Arab diterjemahkan ke bahasa Indonesia, sementara penelitian terpilih tentang Indonesia disunting dan diterbitkan dalam bahasa Arab.
Keberhasilannya dapat dinilai dari mutu karya, jangkauan pembaca, tanggapan akademik, dan penelitian lanjutan yang tumbuh darinya. Internasionalisasi memperoleh isi ketika pemikiran yang lahir di Malang dibaca, diperiksa, serta dikembangkan oleh masyarakat akademik di tempat lain. Hubungan kelembagaan pun memiliki job intelektual yang jelas untuk dilaksanakan bersama.
Kehadiran kecerdasan artifisial semakin menegaskan pentingnya agenda tersebut. Kemudahan menghasilkan teks menuntut pendidikan yang lebih serius dalam melatih penilaian. Mahasiswa perlu mampu menjelaskan pilihan istilah, menelusuri sumber, memeriksa konteks, dan mempertanggungjawabkan penafsirannya. Kelancaran kalimat harus disertai ketelitian memahami dan memproduksi.
Perubahan ini juga membuka kerja sama antara kepakaran bahasa Arab, studi Islam, dan informatika. Pengembangan korpus, penerjemahan berbasis teknologi, serta pengujian ketepatan perangkat bahasa dapat menjadi agenda penelitian bersama. Universitas memiliki peluang untuk menghasilkan sumber pengetahuan teruji sekaligus membentuk pengguna teknologi yang memiliki kemandirian intelektual.
Pada usia ke-65, arah pengembangan bahasa Arab di UIN Malang patut dirumuskan melalui ukuran yang semakin substantif: kedalaman bacaan, mutu argumentasi, keberlanjutan penelitian, dan sumbangan karya. Ukuran tersebut menempatkan bahasa Arab dalam tanggung jawab utama universitas sebagai lembaga ilmu.
Masa depan itu dapat bermula dari peristiwa sederhana: seorang mahasiswa membaca karya berbahasa Arab, menemukan persoalan yang belum terjawab, kemudian menelitinya dengan tekun. Ketika pengalaman tersebut menjadi kebiasaan akademik yang meluas, bahasa Arab memperoleh kehidupan intelektualnya. Melalui kehidupan itulah identitas mengakar, ilmu berkembang, dan tanggung jawab peradaban diteruskan. (*)
*) Prof. Dr. H. R. Taufiqurrochman, M.A., Guru Besar Pendidikan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis.
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat pada redaksi
