Mengolah Ikan Wagal Jadi Cuan, GABON Dorong Potensi Pangan Lokal Ngawi

22 Agustus 2026 04:10 22 Agt 2026 04:10

Sartika Julia D., Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Mengolah Ikan Wagal Jadi Cuan, GABON Dorong Potensi Pangan Lokal Ngawi

Produk GABON (Wagal Abon) dipasarkan melalui warung lokal sebagai salah satu upaya meningkatkan nilai tambah ikan wagal. (Foto : Dokumentasi pribadi Sartika Julia Dwijayanti untuk Ketik.com)

KETIK, NGAWI – Potensi ikan wagal yang selama ini banyak ditemukan di aliran Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, khususnya di wilayah Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi, mulai dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah. Melalui inovasi GABON (Wagal Abon), ikan wagal diolah menjadi abon bercita rasa pedas dan gurih dengan perpaduan rempah khas Nusantara.

Selama ini, ikan wagal umumnya dijual dalam kondisi segar atau langsung dikonsumsi sehingga pemanfaatannya masih terbatas. GABON hadir dengan menawarkan cara baru dalam mengolah komoditas lokal tersebut menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan daerah.

GABON memadukan ikan wagal dengan berbagai rempah, seperti cabai, kemiri, kunyit, jahe, lengkuas, dan serai. Perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa pedas dan gurih yang menjadi karakter utama produk.

Mengandalkan Teknologi Pengolahan dan Konsep Zero Waste

Tidak hanya mengandalkan bahan baku lokal, GABON juga dikembangkan dengan inovasi pada proses pengolahannya. Salah satunya melalui penerapan teknologi Two Stage Cooking (TWC) yang membagi proses pemasakan menjadi dua tahap.

Pada tahap pertama, bumbu dimasak pada suhu sekitar 100–120 derajat Celsius. Sementara itu, minyak yang mengandung omega ditambahkan pada tahap berikutnya dengan suhu sekitar 60–70 derajat Celsius. Pemisahan proses tersebut dirancang untuk membantu mempertahankan kualitas kandungan omega dalam produk.

Inovasi GABON juga menerapkan konsep zero waste atau minim limbah. Tidak hanya daging ikan yang dimanfaatkan sebagai bahan utama abon, bagian tulang ikan wagal juga diolah kembali. Tulang dikeringkan dan dihaluskan menjadi bubuk kaldu tulang ikan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium.

Pendekatan tersebut membuat pemanfaatan ikan menjadi lebih optimal. Dengan demikian, inovasi GABON tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga mendorong pemanfaatan bahan baku secara lebih menyeluruh.

Dari Riset hingga Masuk Tahap Komersialisasi

Sebelum dipasarkan, GABON melalui sejumlah tahapan pengembangan. Proses tersebut mencakup riset bahan baku, formulasi rempah, pengembangan teknologi Two Stage Cooking, penerapan konsep zero waste, hingga uji prototipe dan organoleptik.

Foto GABON (Wagal Abon) turut dipasarkan melalui gerai oleh-oleh bersama beragam produk pangan lokal lainnya.GABON (Wagal Abon) turut dipasarkan melalui gerai oleh-oleh bersama beragam produk pangan lokal lainnya.

Setelah melalui berbagai tahapan tersebut, GABON kini memasuki tahap komersialisasi. Produk telah diluncurkan dan mulai dipasarkan melalui sejumlah saluran, mulai dari distributor, media daring, bazar, hingga jaringan pemasaran lainnya.

GABON dipasarkan dengan harga sekitar Rp30.000 per kemasan. Harga tersebut membuat produk relatif terjangkau bagi konsumen sekaligus membuka peluang bagi pengembangan usaha berbasis potensi pangan lokal.

Melibatkan Masyarakat dalam Rantai Ekonomi Lokal

Pengembangan GABON tidak berhenti pada penciptaan produk. Model bisnisnya juga melibatkan masyarakat, salah satunya penjaring ikan wagal di kawasan Bengawan yang berperan sebagai pemasok bahan baku.

Selanjutnya, produk dapat dipasarkan melalui berbagai jaringan, seperti warung makan lokal, toko oleh-oleh, platform pemasaran, reseller, distributor, maupun kegiatan bazar.

Keterlibatan masyarakat juga terbuka dalam proses pengolahan. Teknologi yang digunakan relatif mudah dipelajari oleh ibu rumah tangga maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga berpotensi menciptakan peluang usaha baru di tingkat lokal.

Rantai tersebut membentuk sebuah ekosistem ekonomi yang mempertemukan penjaring ikan, pengolah, distributor, pelaku usaha, hingga konsumen. Konsep ini sekaligus menunjukkan bahwa inovasi pangan dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan nilai ekonomi sumber daya yang tersedia di daerah.

Berpeluang Menjadi Produk Unggulan Daerah

Dengan mengangkat ikan wagal sebagai bahan utama, GABON memiliki peluang untuk berkembang tidak hanya sebagai produk pangan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas kuliner kawasan Bengawan Solo dan Bengawan Madiun.

Pengembangannya dapat diperluas dari pasar lokal di wilayah Ngawi, Madiun, Ponorogo, dan Bojonegoro menuju pasar regional Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pemanfaatan media daring dapat memperluas jangkauan promosi, sementara bazar dan kegiatan luring menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenal sekaligus mencicipi produk secara langsung.

Di sisi lain, jaringan distributor dan berbagai saluran pemasaran dapat membantu membuat GABON semakin mudah dijangkau konsumen. Strategi tersebut tidak hanya menjual produk, tetapi juga membawa cerita mengenai potensi bahan baku lokal, inovasi pengolahan, serta manfaat ekonomi yang dapat dikembangkan dari sumber daya daerah.

Pada akhirnya, GABON menunjukkan bahwa bahan pangan lokal yang sebelumnya memiliki nilai jual terbatas dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui inovasi. Ikan wagal dari kawasan Bengawan diolah menjadi abon dengan cita rasa khas, teknologi pengolahan, serta konsep pemanfaatan bahan secara lebih optimal.

Dengan penguatan kualitas produk, konsistensi produksi, perluasan jaringan distribusi, dan pembangunan identitas merek, GABON memiliki peluang untuk berkembang sebagai salah satu produk unggulan berbasis potensi lokal. (*)

*Penulis Sartika Julia Dwijayanti, trainer double track tata boga

Tombol Google News

Tags:

Ikan Wagal double track Pemasaran Gabon