KETIK, BATU – Kota Batu tidak hanya mengandalkan wisata alam dan buatan untuk menarik kunjungan wisatawan, tetapi juga mulai memperkuat potensi wisata berbasis sejarah dan warisan budaya.
Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu berupaya mengembangkan destinasi heritage dengan menambah jumlah cagar budaya yang ditetapkan sekaligus memperkenalkan bangunan dan situs bersejarah kepada wisatawan, termasuk dari mancanegara.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, mengatakan pengembangan wisata heritage masih memerlukan upaya lebih lanjut mengingat jumlah cagar budaya yang telah mendapatkan penetapan belum terlalu banyak. Meski demikian, kunjungan wisatawan asing ke Kota Batu menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.
"Memang untuk cagar budaya yang telah ditetapkan belum terlalu banyak, makanya kami terus berupaya agar destinasi wisata heritage berkembang. Untuk kunjungan wisatawan dari luar negeri trennya naik dari tahun ke tahun," ujarnya.
Berdasarkan data Disparta Kota Batu, saat ini terdapat 29 objek yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Jumlah tersebut terdiri dari 12 benda, 10 bangunan, dan tujuh situs.
Di luar objek yang sudah ditetapkan, terdapat 78 objek diduga cagar budaya (ODCB). Rinciannya meliputi 44 benda, 26 bangunan, tujuh situs, dan satu kawasan.
Disparta Kota Batu juga menargetkan penetapan lima objek sebagai cagar budaya pada 2026. Kelimanya berada di kawasan Candi Songgoriti, yakni Yoni Kawasan Cottage Songgoriti, Jaladwara Polos Area Candi Songgoriti, Jaladwara Ornamen Area Candi Songgoriti, Arca Ganesha Area Candi Songgoriti, serta Struktur Candi Songgoriti.
Upaya pengembangan wisata heritage tersebut juga didukung peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara. Selama Januari hingga September 2026, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Kota Batu mencapai 41.721 orang.
Capaian tersebut telah melampaui total kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 yang tercatat sebanyak 39.362 orang.
Onny menyebut wisatawan asal Taiwan dan Malaysia menjadi penyumbang kunjungan terbanyak pada tahun ini. Sementara itu, pada tahun sebelumnya, wisatawan dari Malaysia dan Thailand mendominasi kunjungan wisatawan asing.
"Paling tinggi (tahun ini) dari Taiwan dan Malaysia. Kalau tahun lalu dari Malaysia dan Thailand," ungkapnya.
Daftar Wisata Heritage di Kota Batu
Sejumlah bangunan dan situs bersejarah di Kota Batu memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata heritage. Berikut beberapa di antaranya:
1. Candi Songgoriti
Candi yang berada di Kelurahan Songgokerto ini merupakan peninggalan era Mataram Kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-10 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Mpu Sindok. Bangunan bersejarah ini memiliki fungsi sebagai petirtaan atau tempat pemandian dan penyucian.
Candi Songgoriti, peninggalan era Mataram Kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-10 Masehi. (Foto: Dendy Ganda Kusumah/ketik.com)
Salah satu keunikan kompleks candi tersebut terletak pada bagian pondasinya yang memiliki dua sumber mata air berdampingan dengan karakteristik suhu berbeda. Satu sumber mengeluarkan air panas yang mengandung belerang, sedangkan sumber lainnya menghasilkan air dingin.
2.Taman Rekreasi Selecta dan Villa Bima Shakti
Berada di Desa Tulungrejo, Selecta didirikan oleh warga Belanda bernama Ruyter de Wildt dalam kurun waktu 1920-1928. Pada awal pembangunannya, kawasan tersebut dirancang sebagai tempat peristirahatan eksklusif bagi kalangan elite kolonial.
Di dalam kompleks Selecta terdapat Villa Bima Shakti yang sebelumnya dikenal dengan nama Villa De Brandarice. Bangunan bergaya arsitektur Eropa klasik tersebut memiliki catatan sejarah karena pernah menjadi tempat menginap Presiden Ir. Soekarno dan Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta.
Keduanya tercatat pernah menginap sekaligus merumuskan sejumlah keputusan penting terkait perjuangan bangsa pada periode 1947-1955.
3.Kawasan Bangunan Kolonial yang Tersebar di Beberapa Wilayah
Kota Batu memiliki jejak perkembangan sebagai kawasan peristirahatan sejak era kolonial Belanda. Sejak akhir abad ke-19, wilayah ini dijuluki De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Jawa karena kondisi iklimnya yang sejuk.
Jejak sejarah tersebut masih dapat dijumpai melalui sejumlah bangunan peninggalan kolonial dengan karakter arsitektur Indische Empire Style dan Art Deco. Beberapa di antaranya adalah Gedung St. Simon Stock serta peninggalan Kompleks Vila Dinger.
Bangunan-bangunan tersebut menjadi bagian dari gambaran perkembangan tata Kota Batu sebagai kawasan peristirahatan pada era 1900-an.
4. éL Hotel Kartika Wijaya
éL Hotel Kartika Wijaya, di Jalan Panglima Sudirman, merupakan salah satu bangunan bersejarah peninggalan kolonial yang berdiri sejak 1891. Awalnya, bangunan tersebut merupakan vila peristirahatan milik keluarga pengusaha Armenia, Sarkies Bersaudara, yang juga dikenal sebagai pemilik Raffles Hotel Singapura dan Hotel Majapahit Surabaya.
Bangunan ini mengusung arsitektur Indische Empire dan hingga kini masih mempertahankan bentuk aslinya meskipun telah beralih fungsi menjadi hotel.
Daya tarik utamanya terletak pada karakter bangunan kolonial abad ke-19, interior klasik yang dilengkapi koleksi foto-foto lama, serta taman luas dengan latar Gunung Panderman.
Selain nilai sejarah dan arsitekturnya, hotel ini juga menyediakan sejumlah fasilitas, di antaranya restoran klasik, kolam renang luar ruangan, taman bermain, dan area joging.(Adv)
