KETIK, MALANG – Di tengah menjamurnya kedai kopi modern, Klojen Djaja hadir dengan nuansa vintage yang mengajak pengunjung bernostalgia ke era 1950-an.
Klojen Djaja yang berdiri pada 2022 menawarkan pengalaman ngopi dengan konsep tempo dulu. Konsep tersebut terinspirasi dari bangunan yang ditempatinya, yakni bekas toko daging legendaris yang telah berdiri sejak 1956.
Berlokasi di Jalan Cokroaminoto, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Klojen Djaja tak hanya menjadi tempat menikmati secangkir kopi, tetapi juga menghadirkan suasana yang membawa pengunjung merasakan kembali nuansa Malang di masa lampau.
Sejak pukul 06.30 WIB, Klojen Djaja mulai ramai dikunjungi para orang tua yang singgah usai berbelanja di Pasar Klojen. Memasuki malam hingga pukul 23.00 WIB, giliran mahasiswa dan anak muda memenuhi kedai, bahkan kerap melampaui kapasitas, sehingga menjadikannya salah satu ruang berkumpul favorit di kawasan Klojen.
nuansa sederhana dari dekor dan hiasan dinding kuno dan Rabu, 22 Juli 2026 (Foto:nisa/ketik.com)
Pada awal pembukaan, mayoritas pengunjung merupakan warga yang datang setelah berbelanja di pasar. Namun seiring waktu, konsep vintage yang diusung Klojen Djaja semakin menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga mahasiswa.
Dekorasi bergaya kuno, seperti meja-meja klasik, hingga hiasan dinding yang masih mempertahankan kesan autentik membuat siapa pun seolah kembali ke masa lalu. Kesederhanaan tersebut justru menjadi daya tarik utama yang membedakan Klojen Djaja dari kedai kopi modern lainnya.
"Konsep ini memang sengaja dibuat karena tempatnya memang sederhana dan itu salah satu branding kita dari kedai kopi modern lainnya, selain itu poster bioskop juga menjadi ikon coffee, sehingga bagi orang yang baru keluar dari stasiun langsung mengenali tempat,” ujar andre, selaku barista Klodjen Djaja.
Tak hanya konsep, menu khas juga menjadi bagian dari identitas kedai, salah satunya Kopi Tubruk dan Kopi SKJ (Susu Klojen Jaya). Meski pilihan menu terus berkembang mengikuti kebutuhan pelanggan, konsep utama kedai tetap dipertahankan agar tidak kehilangan karakter yang telah dibangun.
Meski demikian, suasana yang dihadirkan tetap sama sehingga pelanggan masih dapat merasakan pengalaman menikmati kopi dengan nuansa klasik. (*)
