KETIK, SURABAYA – Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa kini tengah menghadapi ancaman ekologis yang kian mengkhawatirkan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti kombinasi fatal antara penurunan muka tanah (land subsidence), kenaikan permukaan air laut, serta degradasi ekosistem mangrove yang mempercepat laju abrasi di sepanjang pesisir utara.
Untuk memetakan dan memitigasi dampak bencana tersebut secara akurat, BRIN menegaskan pentingnya pemanfaatan teknologi informasi geospasial. Teknologi ini dinilai menjadi kunci utama dalam merumuskan kebijakan penyelamatan wilayah Pantura yang dihuni oleh jutaan jiwa.
Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Rokhis Khomarudin, mengungkapkan bahwa pemantauan berbasis data spasial sangat krusial untuk melihat perubahan garis pantai dan kondisi hutan mangrove dari waktu ke waktu.
"Pemanfaatan teknologi geospasial, seperti penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG), memungkinkan kita melakukan monitoring secara berkala dan presisi tinggi guna mendeteksi area yang paling rentan," ujar Rokhis dikutip dari laman resmi brin.go.id pada Selasa, 26 Mei 2026.
Mangrove Rusak: Benteng Alami Pantura yang Perlahan Sirna
Kawasan Pantura Jawa selama ini sangat bergantung pada ekosistem mangrove sebagai benteng alami dari amukan ombak air laut. Sayangnya, alih fungsi lahan yang masif untuk kawasan industri, pemukiman, dan tambak telah memicu degradasi mangrove skala besar.
Hutan Mangrove di pesisir pantai sebagai tembok abrasi untuk perkampungan sekitar (Foto:Pixabay)
Ketika hutan mangrove rusak, tanah pesisir kehilangan cengkeraman alaminya. Kondisi ini diperparah oleh eksploitasi air tanah secara berlebihan yang membuat daratan di kota-kota besar Pantura seperti Jakarta, Semarang, dan Demak terus amblas setiap tahunnya.
Para peneliti BRIN memaparkan sejumlah urgensi penggunaan teknologi geospasial dalam menangani krisis ini. Yakni mulai dari Identifikasi Zona Kritis, untuk memetakan titik-titik pesisir yang mengalami penurunan muka tanah paling ekstrim.
Selain itu juga Evaluasi Reboisasi, untuk memantau tingkat keberhasilan penanaman kembali (restorasi) mangrove secara real-time.
Juga Prediksi Banjir Rob, untuk menyusun model simulasi genangan air laut di masa depan guna meminimalkan kerugian ekonomi warga.
Kolaborasi Lintas Sektor Demi Solusi Berkelanjutan
BRIN menegaskan bahwa penyelamatan Pantura Jawa tidak bisa bertumpu pada pembangunan tanggul laut raksasa (sea wall) semata. Solusi berbasis alam (nature-based solutions) seperti pemulihan ekosistem mangrove harus berjalan beriringan.
Oleh karena itu, BRIN membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan kementerian terkait, pemerintah daerah, akademisi, hingga komunitas lokal untuk mengintegrasikan data riset ini ke dalam aksi nyata di lapangan.
Melalui penerapan teknologi geospasial yang tepat, diharapkan langkah intervensi dan mitigasi bencana di Pantura Jawa dapat berjalan lebih efisien, terukur, dan mampu menyelamatkan kawasan pesisir dari risiko tenggelam di masa depan.(*)
