KETIK, JEMBER – Permasalahan limbah yang terus meningkat di Indonesia mendorong lahirnya berbagai inovasi berbasis teknologi. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) berhasil mengembangkan insinerator yang mampu mengolah sampah menjadi energi listrik.
Inovasi ini menawarkan solusi praktis untuk mengurangi penumpukan limbah sekaligus menghasilkan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
Adapun inovasi tersebut dikembangkan oleh Aditya Bintang Imani dan Muhammad Reihan Rafsanzani, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Keperawatan (FKep) UNEJ. Keduanya merancang insinerator dengan sistem pembakaran terkendali yang mampu mengolah limbah padat, baik organik maupun non-organik rumah tangga, dengan emisi yang relatif rendah.
“Kami melihat bahwa permasalahan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar, terutama limbah anorganik yang sulit terurai. Di sisi lain, kebutuhan energi terus meningkat,” ungkap Reihan saat diwawancarai, Sabtu, 12 April 2026.
Desain insinerator pengolah limbah menjadi energi listrik, milik mahasiswa UNEJ. (Istimewa/Humas Unej)
Melalui pendekatan tersebut, mereka mencoba menghadirkan solusi terintegrasi yang dapat menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan limbah dan kebutuhan energi.
“Dari situ kami mencoba menggabungkan dua solusi dalam satu inovasi, yaitu mengolah limbah menjadi energi listrik melalui sistem insinerator yang dirancang agar lebih efisien dan minim emisi. Menurut kami, pendekatan ini menarik karena dapat menjawab dua masalah sekaligus yaitu pengelolaan limbah dan kebutuhan energi terbarukan,” imbuh Reihan.
Tak berhenti pada inovasi pengolahan limbah, kepedulian terhadap isu lingkungan dan kesehatan masyarakat juga mendorong pengembangan teknologi lainnya. Reihan diketahui tengah merancang perangkat deteksi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan penyakit berbasis vektor yang memanfaatkan data kondisi cuaca secara real-time di seluruh Indonesia.
“Perangkat ini mengintegrasikan AI yang nantinya sumber data out-source akan dianalisa untuk memberikan prediksi cuaca dan intervensi apa yang perlu dilakukan,” jelasnya.
Ia menambahkan, teknologi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai alat pemetaan data, tetapi juga dapat menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan dalam menentukan langkah penanganan.
“Hal ini bukan hanya untuk memberikan berita dan memitigasi KLB, tapi juga memberikan intervensi bagi pemangku kepentingan mengenai apa tindakan yang harus dilakukan kedepannya,” tambahnya.
Kualitas inovasi yang dikembangkan mahasiswa FKep UNEJ ini juga tercermin dari capaian prestasi yang diraih dalam waktu singkat. Sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026, keduanya berhasil mengoleksi enam penghargaan dari berbagai ajang, baik tingkat regional, nasional, maupun internasional.
Prestasi tersebut antara lain Juara 1 Lomba Social Project tingkat nasional pada 11 Januari 2026, Juara 1 dan 3 Lomba Esai AKSIEssay tingkat nasional pada 28 Januari 2026, serta Juara 1 Lomba Esai Green Generation yang diselenggarakan DLH dan Dinas Pendidikan Lampung pada 6 Februari 2026.
Selain itu, mereka juga meraih Juara 3 Lomba Esai IPECH tingkat internasional pada 13 Februari 2026, Juara 1 Lomba Esai UMMAD tingkat nasional pada 16 Februari 2026, serta Juara 3 Lomba Esai METDAY Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 3 Maret 2026.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa inovasi mahasiswa UNEJ memiliki potensi besar untuk menjawab persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Integrasi teknologi pengolahan limbah dengan sistem deteksi berbasis kecerdasan buatan diharapkan mampu menekan dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. (*)
