Tinjau Living Lab Summit di UB, Wamen Diktisaintek Minta Kampus Turun Tangan Atasi Masalah Daerah

30 Oktober 2026 11:22 30 Okt 2026 11:22

Lutfia Indah, Dendy Ganda K.

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Tinjau Living Lab Summit di UB, Wamen Diktisaintek Minta Kampus Turun Tangan Atasi Masalah Daerah

Wamendiktisaintek Prof Fauzan saat meninjau Living Lab Summit di UB, mendorong kampus turun tangan atasi masalah di daerah. (Foto: Lutfia/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) RI, Prof. Fauzan, meninjau pelaksanaan Living Lab Summit 2026 di Universitas Brawijaya (UB), Jumat, 30 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, Prof. Fauzan meminta perguruan tinggi mengoptimalkan perannya dalam membantu mengatasi persoalan di daerah.

Living Lab Summit 2026 digelar melalui kolaborasi UB, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI. Menurut Prof. Fauzan, kampus harus mampu memanfaatkan pengetahuan dan hasil riset untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

"Living Lab Summit ini untuk menguatkan peran-peran perguruan tinggi atau menguatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap problem-problem sosial yang dihadapi oleh masyarakat," ujar Prof. Fauzan.

Setiap daerah memiliki persoalan berbeda dengan tingkat kompleksitas masing-masing. Karena itu, perguruan tinggi perlu mengidentifikasi persoalan sebelum menentukan bentuk intervensi atau solusi yang tepat.

"Memang problematika yang dihadapi oleh masyarakat itu rentangannya luar biasa jauhnya. Masing-masing kampus diharapkan untuk melihat problem daerahnya. Diharapkan kampus langsung terjun untuk terlibat mengatasi permasalahannya," katanya.

Sementara itu, Rektor UB Prof. Widodo menjelaskan bahwa kerja sama dengan pemerintah daerah menjadi salah satu upaya untuk menjawab persoalan, khususnya di bidang ketenagakerjaan. Perguruan tinggi berperan menggali dan menerapkan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan masalah di masyarakat.

"Untuk menyelesaikan masalah di masyarakat itu tidak bisa perguruan tinggi sendiri. Kita bekerja sama dengan berbagai mitra, misalnya dengan pemerintah daerah, kemudian dengan mitra-mitra industri yang berkepentingan," kata Prof. Widodo.

UB juga memiliki sejumlah desa binaan yang menjadi laboratorium hidup (living laboratory). Melalui program tersebut, UB berupaya membantu menyelesaikan persoalan berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat.

"Sudah kita lakukan, baik ada di Kota Malang, Kabupaten Malang pun kita berusaha hadir. Kita ada yang kemarin agak besar itu di NTT sama NTB membentuk konsorsium. Teman-teman dengan penelitian jagung ditanam di lahan kering NTT, kemudian bekerja sama dengan pemerintah daerah," jelasnya.

Tombol Google News

Tags:

Universitas Brawijaya UB Wamen Diktisaintek Ri Prof Fauzan