KETIK, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) Forest akan mendatangkan 23 spesies tanaman ficus dari Pusat Ficus Nasional sebagai sumber pakan untuk satwa serta upaya mempertahankan hutan lindung untuk tetap menjadi hutan primer.
Universitas Brawijaya (UB) terus mengukuhkan posisinya sebagai kampus yang mempertahankan kealamian hutan sebagai laboratorium alam yang dapat digunakan peneliti para mahasiswa. Dengan menghadirkan UB Forest, kampus ini turut berpartisipasi dalam memberikan ilmu pengelolaan hutan lindung agar tetap asli dan asri.
Kepala UPT Pengelola Kawasan Hutan Universitas Brawijaya (UB) Dr. Mochammad Roviq, S.P., M.P., mengungkapkan bahwa salah satu upayanya adalah dengan menghadirkan 23 spesies tanaman ficus dari Pusat Ficus Nasional (PFN) sebagai pakan alami satwa hingga biodiversitas datang dan tidak menyerang agroforestri milik warga.
Ini dilakukan oleh UB untuk menciptakan lingkungan alami hutan yang ramah akan satwa-satwanya. Sehingga, ekosistem hutan lindung tetap terjaga.
"Kami sekuat tenaga untuk mempertahankan hutan lindung itu tetap menjadi hutan primer. Kami mencoba menambah tanaman baru, seperti kami kemarin berkunjung ke Pusat Ficus Nasional dalam rangka untuk mendapatkan spesies baru, dan Pusat Ficus Nasional juga berkenan membantu kami nanti," ungkapnya.
Selain itu, ficus juga menjadi tanaman yang dapat menangkap dan bisa terus menyerap air. Sehingga, tanaman ini sangat bermanfaat dan efektif dalam mencegah banjir ketika musim hujan datang.
Roviq juga menjelaskan jika tanaman ficus memiliki manfaat di sabuk-sabuk utama hutan lindung karena kelembaban. Ia menyebut penanaman tanaman ficus ini juga akan diusahakan untuk tetap terjaga dari bahaya kebakaran, di mana kawasan UB Forest sama seperti kawasan Arjuno yang hampir tiga tahun sekali terjadi kebakaran besar akibat tumpukan serasah dan didominasi oleh vinus atau getah tanaman ficus yang mudah terbakar.
"Itu yang kami sekuat tenaga untuk mengupayakan akan tetap menjadi hutan primer," ucap Roviq.
Menurutnya, ketika hutan memiliki tanaman yang beragam, spesies fauna akan lebih banyak dan dapat berkembang biak dengan baik. Roviq juga menyampaikan jika UB Forest memiliki kegiatan bersama Perhutanan Sosial (PS) Kehutanan untuk inventarisasi flora dan fauna.
"Terus memantau apakah misalnya lutung masih ada di situ, kemudian satwa baik itu predator puncak maupun sumber makanan di jejaring makanan itu masih lengkap di situ atau tidak," tutur Roviq.
"Elang itu masih menjadikan hutan lindung sebagai daerah jelajah, itu kan indikasi berarti rantai makanannya masih tersedia di situ karena keragamannya kan spesiesnya masih cukup banyak," imbuhnya
Ketika menjaga keasrian hutan, tentunya UB Forest memiliki tantangan yang besar. Roviq menyampaikan bahwa saat hutan lindung hidup berdampingan dengan masyarakat, tentunya dari pihak pengelola UB Forest tidak bisa mengabaikan kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Sehingga, upaya dalam menjaga hutan lindung adalah memperbanyak spesies sebagai sumber makanan untuk hewan agar mereka tidak menyerang ke daerah hutan produksi. Selain itu, UB Forest juga mengurangi aktivitas yang bisa merusak hutan, seperti larangan melakukan off-road.
"Tapi memang tantangannya besar. Tantangan kami, saya kira semua hutan yang itu perdampingan dengan masyarakat. Masyarakat ada tuntutan ekonomi, kami tidak mengabaikan itu. Kami kemudian mencari titik tengah bahwa hutan lindung ini harus kita jaga, harus spesiesnya banyak, ada sumber makanan untuk hewan satwa, sehingga mereka tidak akan menyerang ke daerah hutan produksi," jelas Roviq.
Melalui penanaman 23 spesies tanaman ficus, UB Forest terus berkomitmen untuk terus menjaga keasrian dan keaslian hutan lindung dengan beragam satwa yang menjadi penghuni asli.(*)
