KETIK, JAKARTA – Penyanyi sekaligus konten kreator berusia 41 tahun, Andien Aisyah resmikan Sekolah Anak Percaya ke-5 yang ia dirikan bersama rekan-rekannya. Kali ini, dirinya mendirikan sekolah di Kampung Apung, Muara Angke yang mayoritas warganya bekerja sebagai pengupas kerang.
Andien membuka secercah cahaya di sana, dengan keterbatasan yang ada, dirinya membangun sekolah tersebut dengan menyediakan paket a, b dan c tanpa biaya sedikit pun. Pada 10 Oktober 2026, ia bersama teman-temannya mengalungkan tanda kepada siswa-siswi yang terdaftar pada sekolah saat itu juga.
Sebelumnya, Andien telah membangun sekolah di Kampung Pondok Kopi, Joglo, Jurang Mangu dan Rawa Bebek. Tercatat 505 siswa terdaftar dan 153 telah lulus pada 10 Desember 2024 lalu di Sekolah Anak Percaya.
Andien bersama anak-anak yang akan belajar di Sekolah Anak Percaya ke-5 nya di Kampung Apung, Muara Angke. (Tangkap layar Instagram @andien)
Sekolah tersebut memberikan pendidikan kognitif dan karakter, seperti asesmen sumatif, cara berkomunikasi, kepercayaan diri dan lain-lain. Para tenaga pendidik juga memiliki latar belakang di dunia pendidikan, sehingga diharapkan guru tersebut mengajar dengan kreatif dan dapat menyesuaikan siswa.
Proses belajar dilakukan dalam jaringan, dan hanya setiap Sabtu dilakukan pembelajaran tatap muka. Kombinasi proses belajar tersebut membuat para siswa dapat menyesuaikan kondisi di lokasi masing-masing.
Hal yang mendasari Andien dan rekannya membangun Sekolah Anak Percaya adalah ketimpangan sosial yang tercipta dalam kehidupan. Sehingga, hal itu juga meliputi akses terhadap pendidikan seseorang, maka dari itu dirinya ingin setiap anak merasakan haknya dalam hal pendidikan.
"Sebuah fragmen kecil dari kehidupan Kampung Apung, kampung pengupas kerang yang mengingatkanku bahwa ketimpangan sosial masih begitu dekat dengan keseharian kita. Termasuk dalam hal akses terhadap pendidikan," tulis Andien dalam unggahannya pada 12 Oktober 2026.
Terakhir, Andien ingin Sekolah Anak Percaya dapat menjadi ruang untuk pertumbuhan mimpi-mimpi yang tak lagi dibatasi keadaan. Meskipun pendidikan tidak menjamin kebahagiaan, setidaknya setiap orang bisa menemukan pintu menuju lebih banyak kemungkinan lewat sekolah yang dirinya bangun. (*)
