Sekolah Rakyat Wujudkan Pendidikan Berkualitas Bagi ‘The Invisible People’

Api Harapan Masa Depan Anak-Anak Itu Kembali Menyala Bersama Sekolah Rakyat

24 Juni 2026 21:31 24 Jun 2026 21:31

Rahmat Rifadin, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Api Harapan Masa Depan Anak-Anak Itu Kembali Menyala Bersama Sekolah Rakyat

Andin Valentina, siswi kelas VII Sekolah Rakyat Jombang saat memimpin Apel Pembagian Rapor Semester Genap di Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)

KETIK, JOMBANG – "Saya ingin jadi Hakim," ucap Andin Valentina, siswi kelas VII Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang dengan mantap saat Ketik.com bertanya tentang cita-citanya.

Muhammad Adi Saputra beda lagi. Siswa kelas X itu ingin menjadi seorang teknisi. "Karena dulu ingin masuk SMK jurusan mekanik tapi ndak jadi," jelasnya.

Sabtu lalu, 20 Juni 2026, Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang menyelenggarakan acara Penerimaan Rapor Semester Genap. Kepada Ketik.com, Andik Minarto, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang bercerita tentang 100 anak didiknya setelah dua semester sekolah yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini berjalan.

Ketika kali pertama datang ke Sekolah Rakyat setahun lalu, Andik mengakui mayoritas anak-anak didiknya masih belum memiliki semangat seperti saat ini. Banyak dari mereka yang belum memiliki cita-cita. Hidup mereka seakan berjalan begitu saja. Tanpa harapan. Tanpa mimpi-mimpi besar selayaknya anak-anak seusia mereka.

“Dulu bisa dibilang 80 persen anak-anak masih ndak punya cita-cita. Ya mungkin karena hidup mereka susah. Nggak kepikiran cita-cita. Sekarang cita-cita mereka malah macam-macam,” jelasnya.

Andik menyebut tidak sedikit dari muridnya datang dengan masalah keluarga yang begitu kompleks. Hal itu yang membuat dirinya dan para guru sejak awal memang harus pandai-pandai dalam merangkul serta menumbuhkan kembali kepercayaan diri maupun semangat belajar para murid.

Foto Para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang saat melaksanakan apel, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)Para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang saat melaksanakan apel, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)

Dia lantas juga kembali mengingat-ingat satu momen saat awal-awal Sekolah Rakyat berjalan. Sabtu sore 11 Oktober 2025. Sesaat setelah rombongan Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyelesaikan kunjungan ke sekolahnya, dia mendapati salah satu murid menangis sesenggukan di salah satu sudut area sekolah. Andik yang melihat itu mendekati siswa kelas X tersebut dan bertanya apa yang terjadi.

Sebelumnya, saat Gus Ipul sapaan akrab Mensos Saifullah Yusuf tiba, murid laki-laki itu jadi salah satu siswa bersama rekan-rekannya menampilkan seni rebana untuk menyambut kedatangan sang menteri.

Andik seketika tertegun mendengar muridnya itu menyampaikan alasannya menangis. "Pak, sebelum ke sini (Sekolah Rakyat, red) saya ini sampah masyarakat. Tetangga, orang-orang sekitar saya, tidak ada yang suka sama saya. Sekarang kok bisa saya tampil dilihat sama menteri," ucap murid tersebut.

Andik mengaku tidak bisa berkata apa-apa mendengar kalimat yang terucap dari mulut muridnya tersebut. Dia hanya bisa menjawabnya dengan pelukan erat dan menepuk-nepuk pundak murid tersebut.

“Jadi istilah Sekolah Rakyat memuliakan wong cilik. Cerdas Bersama, Tumbuh Setara itu memang benar-benar terjadi di sini,” ucapnya.

Foto Para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang menyalami para guru usai Apel Pengambilan Rapor Semester Genap sebelum berlibur, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)Para siswa menyalami Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang Andik Minarto dan para guru usai Apel Pengambilan Rapor Semester Genap sebelum berlibur, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)

Gagasan Besar Presiden Prabowo

Sekolah Rakyat memang baru setahun terakhir hadir di tengah masyarakat sebagai Program Prioritas Presiden Indonesia Prabowo Subianto di sektor pendidikan. Kementerian Sosial menjadi koordinator pelaksana program bersama kementerian-kementerian dan lembaga negara terkait lainnya. Kolaborasi erat dengan pemerintah daerah juga dilakukan.

Kini sudah hadir 166 Sekolah Rakyat yang beroperasi di 34 Provinsi dan 131 Kabupaten/Kota seluruh Indonesia. Salah satunya di Jombang, Jawa Timur yang dipimpin Andik.

Setahun berjalan, gagasan besar Presiden Prabowo mewujudkan pendidikan berkualitas bagi The Invisible People (kelompok masyarakat miskin yang masih luput dari perhatian pemerintah maupun masyarakat, red) mulai menampakkan hasil. Api harapan anak-anak Indonesia dari keluarga miskin ekstrem yang sebelumnya mati bahkan terkubur itu kembali menyala di Sekolah Rakyat ini.

Para murid yang mendapatkan akses pendidikan Sekolah Rakyat adalah mereka yang berasal dari keluarga miskin maupun miskin ekstrem atau masuk dalam kategori Desil 1 dan 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Seleksi dilakukan masing-masing Pemerintah Daerah.

“Tidak ada syarat apapun selain berasal dari keluarga kategori Desil 1-2. Dan semua fasilitas yang ada di sini untuk murid gratis,” jelas Andik.

Foto Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang Andik Minarto menyampaikan sambutan dalam acara Penyerahan Rapor Akhir Semester Genap yang dihadiri para wali murid, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang Andik Minarto menyampaikan sambutan dalam acara Penyerahan Rapor Akhir Semester Genap yang dihadiri Kepala Dinas Sosial Jombang Agung Hariadi (depan) dan para wali murid, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)

Agung Hariadi, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Jombang menyebut Pemerintah Kabupaten Jombang sejak awal mendukung penuh program pemerintah pusat ini. Salah satu buktinya dengan percepatan proses hibah lahan strategis di sisi jalan nasional seluas 6 hektar untuk Sekolah Rakyat Permanen di desa Tunggorono Jombang.

Kini pembangunan Sekolah Rakyat permanen tersebut tengah dikebut Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan progresnya telah mencapai 80 persen. Para murid Sekolah Rakyat Jombang diharapkan bisa segera pindah ke lokasi tersebut dalam waktu dekat.

Pemkab Jombang juga serius menyeleksi penjaringan murid Sekolah Rakyat agar tepat sasaran. Agung mengaku menemui sendiri murid-murid yang sebelumnya harus hidup dengan penuh keterbatasan bersama orang tua mereka sebelum datang ke Sekolah Rakyat. “Ada yang sebelum di sini hidup dari bantuan tetangga setiap hari, tinggal di ponten umum bersama orang tuanya,” cerita Agung.

Proses perekrutan murid tidak selalu mulus. Terkadang masih ada penolakan dari pihak keluarga maupun calon murid sendiri. Salah satu alasannya tidak tega pisah dari anak karena sekolah asrama. Ada juga karena anaknya sendiri enggan melanjutkan sekolah.

“Ada satu kasus orang tua tidak mau anaknya masuk Sekolah Rakyat karena biasanya jadi alat mencari nafkah, diajak ngemis di jalanan. Setelah kami memberikan pemahaman dan pendekatan pelan-pelan, Alhamdulillah mau bergabung,” jelas Agung.

Keinginan Presiden Prabowo memutus mata rantai kemiskinan diwujudkan nyata melalui program ini dengan tuntas. Bukan hanya anaknya yang diberi akses pendidikan, namun orang tua mereka juga diberdayakan dengan bantuan-bantuan sosial.

Beberapa wali murid sekolah rakyat sudah mendapat bantuan Program RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) dan bantuan sosial lainnya. "Jadi tuntas. Anaknya diberi akses pendidikan, orang tuanya diberdayakan,” jelas Agung.

Fasilitas Pendidikan Berkualitas di Sekolah Rakyat

Kurikulum Sekolah Rakyat dengan sistem asrama ini telah dirancang rigid selama 24 jam. Para murid berada dalam pengawasan tenaga pendidik yang terdiri dari guru, wali asuh hingga wali asrama. Mereka beraktivitas sejak bangun pagi pukul 04.00 hingga istrirahat malam pada pukul 21.00.

Berbagai fasilitas disediakan. Setiap murid mendapatkan enam setel seragam harian siswa. Mulai dari seragam olahraga, sekolah, pramuka, hingga seragam pesiar yang biasa digunakan para murid Sekolah Rakyat dalam acara-acara resmi yang dilengkapi dengan jas dan baret. Belum lagi sepatu dan berbagai perlengkapan sekolah lainnya.

Para murid juga mendapat perlengkapan lengkap di asrama. Mulai kasur hingga bantal guling. Makan tiga kali sehari serta snack dua kali sehari juga tersedia.

Foto Para murid Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang saat berdoa sebelum makan siang, 18 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)Para murid Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang saat berdoa sebelum makan siang, 18 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)

Untuk mendukung pembelajaran di kelas, setiap murid juga disediakan laptop. Setiap kelas juga telah dilengkapi dengan Interactive Flat Panel (IFP) atau layar sentuh interaktif sebagai pendukung pembelajaran digital. “Bukan hanya satu. Setiap kelas kita sudah ada IFP-nya,” jelas Andik.

Sekolah Rakyat juga memiliki berbagai kegiatan ekstrakulikuler untuk mengembangkan bakat minat para murid. Mulai dari klub bahasa, olahraga, tari, Paskibra, membatik, paduan suara, hingga banjari.

Foto Salah satu hasil kesenian daur ulang siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang berupa foto Presiden Prabowo Subianto yang dipamerkan dalam acara Pembagian Rapor Semester Genap, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)Salah satu hasil kesenian daur ulang siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang berupa foto Presiden Prabowo Subianto yang dipamerkan dalam acara Pembagian Rapor Semester Genap, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)

“Alhamdulillah murid kami sekarang sudah berani berkompetisi dengan sekolah lain. Bahkan sudah juara,” ucap Andik, bangga.

Dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Kabupaten Jombang 2026, tiga murid Sekolah Rakyat Jombang berhasil meraih nomor dalam cabang olahraga panjat tebing. Siswi mereka Bernama Cheilla Meilisa Yudisna bahkan menyapu bersih juara satu dalam dua nomor sekaligus yakni speed dan lead.

Dua murid mereka Ayu Setya Shafania dan Ulil Izzati juga mendapat nomor dalam ajang Olimpiade Artificial Intelegent (AI) tingkat Kabupaten Jombang. Ulil meraih Juara 1 sementara Ayu Juara Harapan 1.

Foto Salah satu murid Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang memperagakan simulasi pembelajaran interaktif berbasis digital di depan para wali murid sebelum pembagian rapor, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)Salah satu murid Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang memperagakan simulasi pembelajaran interaktif berbasis digital di depan para wali murid sebelum pembagian rapor, 20 Juni 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)

Andik menyebut prestasi tersebut patut disyukuri. Terlebih, jika mengingat kondisi murid-muridnya saat awal bergabung ke Sekolah Rakyat.

“Dulu awal anak-anak datang ke sini banyak yang masih minder. Jangankan ikut lomba, ikut gerak jalan 17 Agustus saja, anak-anak itu nunduk semua sepanjang jalan dilihat orang-orang. Sekarang sudah nggak. Jalan mereka tegak. Kepercayaan diri mulai terbentuk. Semangat mereka sudah tumbuh,” cerita Andik.

Terima Kasih Pak Prabowo

Ulufun Nikmah, salah satu murid Sekolah Rakyat Jombang begitu bersyukur bergabung di Sekolah ini. Siswi kelas X itu sempat putus sekolah selama setahun setelah lulus SMP sebelum bergabung ke Sekolah Rakyat.

Dalam pembagian rapor semester genap Sabtu lalu, 20 Juni 2026, Nikmah mendapat predikat sebagai murid terbaik dalam bidang keasramaan di kelasnya. Siswi yang berasal dari Kecamatan Bandarkedungmulyo itu kini bercita-cita ingin mengabdi menjadi guru di Sekolah Rakyat suatu saat nanti.

“Sebagai rasa terima kasih saya kepada Pemerintah. Kalau bisa saya ingin jadi guru dan wali asrama di Sekolah Rakyat. Untuk membantu anak-anak lain seperti saya ini,” ucapnya.

Kholiyanto, salah satu wali murid Sekolah Rakyat Jombang juga begitu bersyukur buah hatinya bergabung di Sekolah Rakyat. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh tani itu, Sabtu sore itu, 20 Juni 2026, datang mengambil rapor akhir semester genap putrinya yang duduk di kelas VII, Devi Putri. “Sangat bersyukur sekali. Semua kebutuhan anak saya dipenuhi di sini,” ucapnya.

Foto Muhammad bersama putrinya Siti Nur Rohmatul, siswi kelas X Sekolah Rakyat Terintegarsi 8 Jombang. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)Muhammad bersama putrinya Siti Nur Rohmatul, siswi kelas X Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 Jombang. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)

Muhammad, wali murid dari siswi kelas X Sekolah Rakyat Jombang Siti Nur Rohmatul mengatakan hal serupa. Sama seperti Kholiyanto, tidak banyak kata-kata yang bisa terucap dari mulut pria yang berprofesi sebagai penarik becak itu saat diwawancarai Ketik.com.

Namun satu yang pasti, tatapan mata Muhammad siang itu begitu semringah saat melihat sang buah hati menghampirinya dengan seragam Sekolah Rakyat lengkap usai Apel pengambilan Rapor.

“Saya sangat, sangat, bersyukur sekali ada Sekolah Rakyat ini. Terima kasih Pak Prabowo,” ucapnya.

Siang itu Muhammad datang ke Sekolah Rakyat mengambil rapor anaknya dengan becak yang biasa dia gunakan mencari nafkah sehari-hari. Usai acara, dia mengayuh becak itu bersama sang buah hati duduk di kursi penumpang untuk berlibur sejenak ke rumah mereka sampai 4 Juli mendatang.

Muhammad tersenyum dan menunduk kecil ketika berpamitan kepada para guru saat keluar dari pintu gerbang sambil mengayuh becaknya. Senyum yang mewakili kesyukuran dan terima kasihnya yang tak terhingga, atas harapan masa depan anaknya yang kembali menyala bersama Sekolah Rakyat. (*)

Tombol Google News

Tags:

Sekolah Rakyat sekolah rakyat jombang Program Prioritas Prabowo Presiden Prabowo Kementerian Sosial The Invisible People