KETIK, BANGKALAN – Pertandingan turnamen sepak bola amatir Soekarno Cup di Stadion Gelora Bangkalan, Jawa Timur pada Kamis 13 Agustus 2026 berubah tegang. Laga antara Banteng Papua Tengah kontra Banteng Yogyakarta diwarnai aksi pemukulan terhadap wasit, bahkan kericuhan kembali pecah setelah pertandingan berakhir.
Insiden terjadi ketika pertandingan memasuki menit ke-69. Protes keras dari kubu Banteng Papua Tengah terhadap keputusan wasit membuat suasana di tengah pertandingan semakin panas. Sejumlah ofisial tim kemudian mendatangi wasit. Dalam situasi yang memanas tersebut, seorang ofisial Banteng Papua Tengah diduga memukul wajah wasit hingga terhuyung.
Demi menghindari situasi yang semakin buruk, petugas keamanan langsung mengevakuasinya menuju ruang ganti dengan pengawalan ketat.
Match Commissioner atau pengawas pertandingan Soekarno Cup, Ahmad Subahri, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, pertandingan harus dihentikan sementara sebelum akhirnya dilanjutkan menggunakan wasit pengganti.
“Intinya ada pihak yang tidak terima keputusan wasit. Terjadi pergantian wasit setelah aksi pemukulan yang dilakukan ofisial Papua. Laga sempat terhenti pada menit ke-69 selama kurang lebih 15 menit. Pada akhir pertandingan kembali ricuh karena pihak Yogya juga tidak terima keputusan wasit,” ungkap Ahmad Subahri.
Setelah jeda sekitar 15 menit, pertandingan kembali digelar. Banteng Jogjakarta langsung memperoleh penalti yang kemudian berhasil dieksekusi menjadi gol. Skor berubah menjadi 2-1 untuk keunggulan Jogjakarta.
Pertandingan pun berjalan semakin sengit. Banteng Papua Tengah terus berupaya mengejar ketertinggalan hingga akhirnya berhasil mencetak gol penyeimbang pada masa injury time. Kedudukan 2-2 bertahan hingga penghujung laga.
Drama justru kembali terjadi setelah wasit meniup peluit panjang. Ketidakpuasan terhadap kepemimpinan wasit pengganti diduga memicu emosi kubu Banteng Yogyakarta. Kericuhan kemudian pecah dan melibatkan pemain serta ofisial dari kedua tim.
Dalam situasi tersebut, wasit pengganti harus berlari menuju lorong stadion untuk menghindari amukan massa. Petugas keamanan kembali turun tangan dan mengevakuasi sang wasit keluar dari arena pertandingan.
Di sisi lain, Asisten Pelatih Banteng Papua Tengah, Moses Nazareth, menjelaskan bahwa keberatan timnya bukan terkait keputusan penalti. Ia menyebut kekecewaan terutama muncul setelah kiper mereka mendapat kartu kuning kedua yang berujung kartu merah.
“Kami kurang puas dengan keputusan wasit mengenai alasan diganjarnya kartu kuning kedua (kartu merah) untuk kiper kami. Bola itu sifatnya fifty-fifty dan bukan pelanggaran keras. Kalau soal hukuman penalti, kami akui itu memang murni penalti,” kata Moses Nazareth.
Laga Banteng Papua Tengah versus Banteng Jogjakarta akhirnya bukan hanya menyajikan persaingan skor hingga menit terakhir, tetapi juga meninggalkan catatan serius terkait keamanan perangkat pertandingan dan sportivitas dalam turnamen Soekarno Cup. (*)
