Popas Lipu Bacan, Doa Tua untuk Negeri yang Dijaga

16 Juni 2026 21:04 16 Jun 2026 21:04

Thumbnail Popas Lipu Bacan, Doa Tua untuk Negeri yang Dijaga

Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba dan Wakil Bupati Helmi Umar Muchsin di dampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Halmahera Selatan Saiful Djafar Arfa saat mengikuti Popas Lipu Selasa 16 Juni 2026 (Foto: Mursal/Ketik.com)

KETIK, HALMAHERA SELATAN – Di Masjid Kesultanan Bacan, Selasa, 16 Juni 2026, doa-doa dipanjatkan dengan pelan. Dari ruang sakral itu, sebuah tradisi tua kembali bergerak. Namanya Popas Lipu, pembersihan negeri. Sebuah prosesi adat yang hidup di antara keyakinan, ingatan leluhur, dan harapan agar tanah Halmahera Selatan tetap dijaga dari mara bahaya.

Bupati Halmahera Selatan, Hasan Ali Bassam Kasuba, hadir dalam prosesi itu. Ia tidak hanya datang sebagai kepala daerah. Bassam juga menyandang gelar adat Ompu Datuk Sapanggala. Di sisinya hadir Wakil Bupati Halmahera Selatan, Helmi Umar Muchsin, yang juga sebagai Wakil Ompu Datuk Sapanggala. Bersama Sultan Bacan Dede Irsyad Maulana Sjah, keduanya mengikuti denyut tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan Kesultanan Bacan.

Prosesi dimulai dari pembacaan doa di Masjid Kesultanan Bacan. Setelah itu, perangkat adat, pemerintah daerah, dan masyarakat bergerak dalam arak-arakan adat. Mereka berjalan mengikuti tata cara yang diwariskan turun-temurun. Tidak banyak yang berlebihan. Tidak ada yang dibuat-buat. Semua berlangsung dalam irama yang tenang, seperti negeri yang sedang menundukkan kepala.

Hadir pula Ketua TP PKK Halmahera Selatan, Ny. Hj. Rifa’at Al-Sa’adah Bassam, Ketua Gabungan Organisasi Wanita Halmahera Selatan Mardiana Helmi, Kepala kantor Kementerian Agama Halmahera Selatan Saiful Djafar Arfa, jajaran kepala OPD, perangkat adat Kesultanan Bacan, serta masyarakat yang turut menyatu dalam prosesi tersebut.

Bagi Sultan Bacan Dede Irsyad Maulana Sjah, Popas Lipu tidak hanya sebagai ritual biasa. Ia menyebut prosesi ini sebagai ikhtiar bersama. Sebuah cara manusia memohon perlindungan kepada Allah SWT agar negeri dijauhkan dari berbagai bencana.

“Prosesi adat ini menjadi salah satu langkah ikhtiar untuk menghindari bencana. Kita tidak bisa memungkiri dan bersikap takabur, karena musibah seperti banjir maupun kekeringan bisa terjadi akibat kelalaian kita sendiri,” ujar Sultan.

Foto Ketua TP-PKK Halmahera Selatan Rifa’at Al-Sa’adah dan Ketua Gabungan Organisasi Wanita Halmahera Selatan Mardiana Helmi saat mengikuti ritual Popas Lipu (Foto: Mursal/Ketik.com)Ketua TP-PKK Halmahera Selatan Rifa’at Al-Sa’adah dan Ketua Gabungan Organisasi Wanita Halmahera Selatan Mardiana Helmi saat mengikuti ritual Popas Lipu (Foto: Mursal/Ketik.com)

Kalimat itu seperti mengingatkan bahwa adat tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga menegur masa kini. Dalam Popas Lipu, negeri dibersihkan bukan hanya secara simbolik, tetapi juga secara batin. Ada ajakan untuk kembali merawat alam, menjaga sikap, dan tidak merasa lebih besar dari kuasa Tuhan.

Sultan berharap ritual peninggalan leluhur Kesultanan Bacan itu tetap menjadi pegangan bersama. Bukan hanya bagi perangkat adat, tetapi juga pemerintah dan masyarakat. Sebab, di dalam tradisi itu tersimpan doa panjang tentang keselamatan, keberkahan, dan perlindungan Allah SWT.

Bupati Hasan Ali Bassam Kasuba melihat Popas Lipu sebagai bagian dari syiar Islam yang telah menyatu dengan adat Kesultanan Bacan. Menurut dia, tradisi tersebut bukan sesuatu yang berdiri jauh dari nilai agama, melainkan tumbuh bersama keyakinan masyarakat Bacan selama bertahun-tahun.

“Prosesi adat ini merupakan bentuk syiar Islam yang menjadi bagian dari adat yang telah berjalan cukup lama di lingkungan Kesultanan Bacan. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga nilai-nilai tersebut dan mewariskannya kepada generasi penerus,” kata Bassam.

Momentum Tahun Baru Hijriah, kata Bassam, menjadi ruang untuk melakukan refleksi. Bukan hanya bagi pribadi, tetapi juga bagi daerah. Ia menyebut tahun baru Islam sebagai kesempatan menata kembali diri dan negeri agar Halmahera Selatan senantiasa berada dalam ridha Allah SWT.

“Secara ikhtiar, di tahun Hijriah ini kita menata kembali diri dan daerah kita agar Halmahera Selatan menjadi daerah yang mendapat ridha Allah dan dijauhkan dari segala bentuk bencana,” ujarnya.

Dalam prosesi itu, Popas Lipu terasa seperti jembatan halus antara adat dan agama. Ia tidak datang sebagai pertunjukan, tetapi sebagai pengingat. Bahwa sebuah negeri tidak cukup hanya dibangun dengan jalan, gedung, dan angka pertumbuhan. Negeri juga membutuhkan doa, ingatan, kerendahan hati, dan kebersamaan.

Bassam berharap seluruh masyarakat Halmahera Selatan selalu diberikan keberkahan, kesehatan, dan rahmat. Dengan itu, pemerintah dan masyarakat dapat terus berjalan bersama membangun daerah.

“Kami pemerintah daerah akan selalu berkomitmen untuk bergandengan tangan dan bahu-membahu membangun lipu atau negeri Halmahera Selatan yang kita cintai ini,” pungkasnya.

Tombol Google News

Tags:

Popas Lipu Kesultanan Bacan Dede Irsyad Maulana Sjah Hasan Ali Bassam Kasuba Helmi Umar Muchsin Halmahera Selatan Maluku Utara