Muslimat NU Jatim Ubah Strategi Dakwah, Fokus Perkuat Konten Digital untuk Generasi Z

11 Juli 2026 18:34 11 Jul 2026 18:34

Dafa Wahyu P., Aziz Mahrizal

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Muslimat NU Jatim Ubah Strategi Dakwah, Fokus Perkuat Konten Digital untuk Generasi Z

Silaturahim Hidmat Muslimat NU dan IHM NU yang diselenggarakan di Royal Orchids Garden Hotel, Kota Batu, Sabtu, 11 Juli 2026. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

KETIK, BATU – Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur mendorong perubahan pola dakwah dari metode konvensional menuju dakwah digital agar mampu menjangkau generasi muda.

Seruan tersebut mengemuka dalam kegiatan Silaturahim Hidmat Muslimat NU dan IHM NU bertema “Muslimat Berhijrah dari Dakwah Konvensional Menuju Dakwah Digital dalam Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban” yang digelar di Royal Orchids Garden Hotel, Kota Batu, Sabtu, 11 Juli 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan PW Muslimat NU Jawa Timur itu diikuti para Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur sebagai forum penguatan peran organisasi dalam menjawab tantangan dakwah di era digital.

Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur, Dra. Hj. Masruroh Wahid, M.Si., mengatakan perubahan pola komunikasi masyarakat, khususnya di kalangan Generasi Z dan milenial, mengharuskan metode dakwah ikut beradaptasi.

Menurutnya, dakwah yang selama ini dilakukan secara konvensional tetap penting, tetapi perlu dikembangkan melalui media digital agar pesan keagamaan lebih mudah diterima generasi masa kini.

“Dakwah yang selama ini kita lakukan harus berubah agar bisa didengar, dibaca, dan disenangi oleh masyarakat, terutama karena lebih dari separuh penduduk Indonesia saat ini merupakan generasi Z dan milenial,” ujarnya.

Masruroh menjelaskan, karakter generasi muda saat ini lebih dekat dengan berbagai platform digital dibandingkan metode ceramah konvensional.

Karena itu, organisasi keagamaan perlu menghadirkan konten dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

“Mereka sangat akrab dengan gadget dan berbagai konten digital. Kalau kita tidak berubah, jangan salahkan apabila mereka tidak mendapatkan siraman keagamaan seperti yang kita harapkan. Karena itu, cara dan sarana dakwah juga harus menyesuaikan perkembangan zaman,” katanya.

Ia menilai Al-Qur’an telah memberikan pedoman bahwa dakwah tidak cukup hanya berbekal iman dan ilmu, tetapi juga harus dilakukan dengan hikmah, yakni melalui pendekatan, metode, dan media yang tepat sesuai kondisi masyarakat.

“Saya semakin meyakini bahwa Al-Qur’an itu luar biasa. Berdakwah tidak cukup hanya dengan iman dan ilmu, tetapi juga harus menggunakan hikmah, yakni kebijaksanaan dalam memilih cara, metode, serta sarana yang sesuai dengan zamannya. Hari ini kita hidup di era digital, maka arah dakwah juga harus mengikuti perkembangan tersebut,” tuturnya.

Masruroh menyadari tidak semua anggota Muslimat NU memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi digital. Karena itu, ia mengajak kader muda Nahdlatul Ulama, khususnya Fatayat NU dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), untuk berkolaborasi mendampingi para anggota Muslimat dalam proses digitalisasi dakwah.

“Kalau ibu-ibu merasa belum terbiasa dengan teknologi digital, kita memiliki Fatayat dan IPPNU. Saya titipkan kepada seluruh cabang agar mereka diajak bekerja sama, membimbing, sekaligus memberdayakan Muslimat sehingga kita bisa bersama-sama berhijrah menuju dakwah yang lebih bijaksana dan lebih bermanfaat,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

muslimat nu Muslimat Nu Jatim dakwah digital Info Kota Batu Berita Kota Batu Masruroh Wahid nahdlatul ulama