KETIK, MALANG – Pengunjung Lanzhou Ramen di Kota Malang lebih akrab mengenal pemiliknya dengan nama Yahya. Namun, tak banyak yang mengetahui bahwa pria Muslim asal Tiongkok tersebut juga memiliki nama resmi Ma Yulong.
Owner Lanzhou Ramen Malang, Yahya, menjelaskan bahwa umat Islam Tionghoa umumnya memiliki dua nama, nama keagamaan dan nama resmi. Kedua nama tersebut digunakan dalam situasi yang berbeda sesuai kebutuhan sehari-hari.
"Umat Islam Tionghoa umumnya memiliki dua nama, yaitu nama keagamaan dan nama resmi. Di rumah, mereka biasanya menggunakan nama Islami tradisional mereka, seperti Yahya. Misalnya ketika pergi ke sekolah atau bekerja, mereka menggunakan nama resmi mereka, Ma Yulong," ujar Yahya saat dihubungi tim Ketik, Jumat 24 Juli 2026.
Menurutnya, tradisi tersebut berkaitan dengan sistem penamaan yang berlaku di Tiongkok. Setiap warga umumnya memiliki nama keluarga atau marga sebagai identitas resmi. Jika nama Islami digabungkan dengan nama keluarga tersebut, jumlah karakternya menjadi lebih panjang sehingga sulit diucapkan. Karena itu, umat Islam Tionghoa umumnya menggunakan dua nama untuk menyesuaikan kebutuhan sehari-hari.
"Alasannya adalah bahwa di Tiongkok, orang umumnya memiliki nama keluarga sendiri. Jika digabungkan dengan nama Islami kami, jumlah total karakternya akan terlalu banyak dan sulit diucapkan. Karena itu, kami memiliki dua nama," jelasnya.
Yahya mengatakan dirinya menggunakan nama Ma Yulong saat berada di lingkungan sekolah maupun untuk keperluan administrasi resmi. Sementara itu, nama Yahya digunakan sebagai nama keagamaan di lingkungan keluarga dan komunitas Muslim.
Tradisi tersebut, lanjutnya, masih dipertahankan oleh banyak keluarga Muslim Tionghoa sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus keagamaan. Penggunaan dua nama adalah cara untuk menyesuaikan sistem penamaan di Tiongkok tanpa meninggalkan identitas sebagai seorang Muslim.
Sebelumnya, Yahya memilih menetap dan membuka Lanzhou Ramen di Kota Malang karena tertarik dengan keramahan masyarakat, budaya lokal, serta iklim yang dinilainya nyaman.
Selain menghadirkan mi tarik daging sapi halal khas Lanzhou, ia juga membawa cerita mengenai salah satu tradisi umat Islam Tionghoa yang belum banyak diketahui masyarakat Indonesia, yakni penggunaan dua nama dalam kehidupan sehari-hari.
