KETIK, JAKARTA – Di dalam Gedung Olahraga (GOR) Universitas Pertamina (UPER), garis-garis pembatas dan sketsel lapangangan basket siang itu beralih fungsi.
Gulungan karpet tebal terbentang rapi, mimbar kayu berdiri tegak di tengah, dan deretan instalasi pengeras suara serta titik kran air untuk wudhu jamaah telah disiapkan.
Menjelang waktu salat Jumat, ratusan mahasiswa mulai memadati arena olahraga tersebut, mengubah lantai lapangan basket menjadi saf-saf salat yang rapat dan hening.
Pemandangan ini bukan sekadar siasat teknis mengatasi kapasitas masjid kampus yang terbatas, melainkan panggung unjuk tanggung jawab generasi muda.
Bayangkan, dari bilal, khatib, hingga imam sholat jumat, seluruh prosesinya dipimpin langsung oleh mahasiswa aktif UPER.
Adzan dikumandangkan oleh Rizqy Arista, mahasiswa yang menempuh pendidikan menengahnya di SMP Bhayangkari Medan dan SMA Al Azhar 1 Medan. Di atas mimbar, Alfian Arzqi Ramdhan berdiri menyampaikan khutbah.
Mahasiswa semester 3 Program Studi Teknik Perminyakan asal Tangerang ini memiliki latar belakang pendidikan di SMP Tahfiz As Syukriya dan SMAN 3 Tangerang.
Sementara itu, posisi imam diamanahkan kepada Nasyif Furqonutama, mahasiswa Teknik Perminyakan semester 3 yang pernah menempuh pendidikan pesantren di Batam dan menyelesaikan program tahfiz 30 juz semasa SMA.
Semua rangkaian ibadah mingguan ini dirajut dan dikelola oleh Majelis Ilmu Remaja Agama Islam (MIRAI) Universitas Pertamina, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kerohanian Islam yang berdiri sejak 2016.
Ditempa Pesantren, Memimpin di Kampus Teknik
Di balik konsistensi pengelolaan ruang ibadah dan kegiatan dakwah kampus, estafet kepemimpinan MIRAI saat ini dinakhodai oleh Ziyad, mahasiswa semester 5 Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Eksplorasi dan Produksi.
Ziyad, yang menamatkan pendidikan SMP dan SMA di Pesantren Dar el-Qalam 4 Tangerang, menjalankan mandat kepengurusan yang berganti setiap satu tahun sekali.
Menurut Ziyad, keterlibatan mahasiswa berlatar belakang pesantren dan tahfiz dalam struktur operasional salat Jumat bukanlah kebetulan, melainkan upaya mempertemukan kompetensi keilmuan agama yang telah dimiliki mahasiswa dengan kebutuhan riil komunitas kampus.
Nilai-nilai dasar teknik perminyakan dan kimia yang menuntut presisi dan disiplin turut tecermin dalam tata kelola kegiatan harian mereka.
Pengurus MIRAI Universitas Pertamina menyulap GOR menjadi tempat salat Jumat (Foto: Muhsin Budiono/Ketik.com)
Namun, menggerakkan organisasi mahasiswa di kampus berorientasi sains dan teknik bukan tanpa kendala.
"Tantangan terberat saat ini adalah mencari pengurus yang benar-benar aktif dan menjaga keberlanjutan proses kaderisasi," ungkap Ziyad.
Dengan beban akademik studi teknik yang padat, menjaring komitmen jangka panjang menjadi ujian tersendiri. Saat ini, roda organisasi MIRAI digerakkan oleh 49 pengurus aktif.
Formasi ini memikul tanggung jawab yang tidak kecil: memastikan ritus ibadah rutin berjalan lancar sekaligus menjaga denyut program eksternal tetap hidup.
Mengalirkan Spiritualitas dan Kesalehan Ritual ke Ruang Sosial
Bagi MIRAI, aktivitas keislaman tidak berhenti saat sajadah di lapangan basket digulung kembali. Kesalehan ritual di dalam kampus diarahkan agar bertransformasi menjadi kesalehan sosial di tengah masyarakat.
Di bawah struktur kepengurusan yang kini menjalankan program kerjanya, MIRAI mengintegrasikan pembinaan internal dengan kontribusi publik. Program unggulan seperti Mirai Mengabdi menjadi jembatan langsung antara mahasiswa dan lingkungan sekitar.
Melalui inisiatif ini, para pengurus dan relawan turun ke panti asuhan—seperti kegiatan edukasi dan penyaluran bantuan di Panti Yauma—menghadirkan sesi literasi interaktif, pendampingan belajar, dan santunan.
Selain program advokasi sosial, organisasi ini juga menguji kapasitas manajerial para anggotanya melalui Mirai Islamic Festival (MIF), ajang kompetisi dan edukasi keislaman berskala nasional yang mencakup musabaqah tilawatil Quran, lomba public speaking, hingga seminar publik.
Transformasi lapangan olahraga menjadi rumah ibadah setiap hari Jumat di Universitas Pertamina pada akhirnya mencerminkan karakter MIRAI: organisasi yang lahir dari kebutuhan mahasiswa, dikelola mandiri oleh anak-anak muda berlatar pendidikan pesantren dan umum, serta berupaya menjaga agar syiar keagamaan tetap membumi dalam aksi sosial kemasyarakatan.(*)
