Warga Karanglo Blitar Sindir Ekonomi Mencekik Lewat Gerak Jalan, Kostum Koboi hingga Yel-yel SKJ Pelari Kalcer

8 Agustus 2026 15:13 8 Agt 2026 15:13

Favan Abu R.

Editor
Thumbnail Warga Karanglo Blitar Sindir Ekonomi Mencekik Lewat Gerak Jalan, Kostum Koboi hingga Yel-yel SKJ Pelari Kalcer

Regu gerak jalan laki-laki dari warga RT 2 RW 13 Kelurahan Karanglo, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Sabtu 8 Agustus 2026. (Foto: Favan/Ketik.com)

KETIK, BLITAR – Keresahan terhadap kondisi ekonomi ternyata tak selalu harus disampaikan lewat aksi demonstrasi atau unjuk rasa.

Warga RT 2 RW 13 Kelurahan Karanglo, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, memilih cara yang jauh lebih jenaka namun sarat pesan.

Keresahan itu mereka tumpahkan lewat kostum, yel-yel, dan aksi baris-berbaris dalam agenda tahunan gerak jalan kategori umum yang digelar Pemerintah Kota Blitar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dua regu warga Karanglo, masing-masing beranggotakan perempuan dan laki-laki, tampil membawa tema yang berbeda.

Namun, keduanya memiliki benang merah yang sama: menggambarkan kehidupan masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang dinilai semakin menantang.

Ketua RT 2 RW 13 Karanglo, Dono Tri Susilo, mengatakan apa yang mereka tampilkan bukan semata-mata kritik kepada pemerintah.

Menurutnya, warga hanya ingin menyampaikan keresahan yang mereka rasakan sehari-hari dengan cara kreatif dan menghibur.

“Sebenarnya kita nggak murni mengkritik, tapi kita sebagai warga negara mengaku resah terhadap kondisi ekonomi yang mencekik masyarakat,” ujar Dono, Sabtu 8 Agustus 2026.

Dono yang sehari-hari merupakan pengusaha di bidang otomotif itu menyebut keresahan tersebut kemudian dikemas dalam bentuk kostum dan yel-yel agar pesan yang disampaikan tidak terasa kaku.

Regu perempuan misalnya, tampil mengenakan kostum koboi.

Bagi Dono, koboi bukan sekadar pilihan busana, tetapi simbol perempuan yang harus mampu bertahan dan bahkan menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga.

“Untuk para wanita atau ibu-ibu itu harus kuat. Selain mengurus rumah tangga, dalam ekonomi yang terjepit ini digambarkan dengan kostum koboi, yaitu gambaran wanita yang bisa mencari makan sendiri, mengurus suami, dan bisa bertahan di kondisi ekonomi seperti ini,” jelasnya.

Ia bahkan menyebut perempuan sebagai salah satu pusat kekuatan ekonomi keluarga.

“Karena jantung ekonomi sebuah keluarga itu ada di ibunya,” tegas Dono.

Sementara itu, regu laki-laki membawa tema yang tak kalah unik.

Mereka mengangkat konsep Senam Kesehatan Jasmani (SKJ) 1981 yang dipadukan dengan gaya pelari kekinian.

Tema tersebut mereka plesetkan menjadi “Pelari Kalcer”, permainan kata dari culture yang kini akrab digunakan anak muda.

Kostum pelari dipadukan dengan yel-yel bernuansa SKJ untuk membawa pesan bahwa masyarakat tetap harus menjaga kesehatan meski sedang menghadapi tekanan ekonomi.

“Pesannya, dalam kondisi ekonomi yang sekarang ini, kita masyarakat tidak usah resah. Kita harus tetap bekerja keras dan jangan sampai melewatkan kesehatan jasmani kita,” kata Dono.

Menurutnya, tekanan ekonomi jangan sampai membuat masyarakat kehilangan arah.

Terlebih bagi generasi muda, ia berharap persoalan ekonomi tidak menjadi alasan untuk terjerumus ke tindakan kriminal.

“Harapannya teman-teman masyarakat dan anak muda fokus kerja cari nafkah sembari menjaga kesehatannya dan menghindari hal-hal yang mengarah ke kriminalitas,” ujarnya.

Kemudian ia melontarkan kalimat yang membuat suasana menjadi lebih cair.

“Jangan sampai sakit di situasi yang sulit ini,” katanya sambil terkekeh.

Tak hanya membawa pesan melalui kostum, warga Karanglo juga mencoba menyelipkan aksi kecil untuk ikut menggerakkan ekonomi lokal.

Dono mengatakan rombongannya sengaja tidak membawa bekal makanan dari rumah.

Sebaliknya, mereka berniat membeli makanan dan minuman dari pedagang UMKM yang berjualan di sepanjang rute gerak jalan.

“Hari ini kami sengaja juga tidak membawa bekal. Kami niatkan untuk beli jajan teman-teman UMKM yang banyak berjualan di sepanjang jalan rute baris-berbaris ini,” ungkapnya.

Menurut Dono, langkah tersebut memang sederhana.

Namun jika dilakukan bersama-sama, ia berharap dapat memberikan tambahan penghasilan bagi pedagang yang menggantungkan hidup dari keramaian kegiatan masyarakat.

“Tujuannya agar meskipun cuma bantuan kecil, namun dapat mendorong perekonomian masyarakat, teman-teman para pedagang penjual makanan dan minuman serta jajanan di Kota Blitar ini,” tuturnya.

Bagi warga Karanglo, gerak jalan bukan sekadar agenda tahunan untuk memeriahkan kemerdekaan.

Sejak Dono dipercaya menjadi Ketua RT pada 2023, mereka rutin mengikuti kegiatan tersebut.

Setiap tahun, tema yang dibawa pun sengaja dibuat berbeda dan disesuaikan dengan situasi yang sedang dirasakan masyarakat.

“Kita rutin mengikuti acara ini tiap tahun dari tahun 2023, sejak saya jadi ketua RT,” katanya.

Dono ingin perayaan kemerdekaan tidak hanya menjadi panggung bagi mereka yang berada di balik meja pemerintahan.

Menurutnya, masyarakat di tingkat bawah juga memiliki hak yang sama untuk merayakan kemerdekaan dengan cara mereka sendiri.

“Kita terus mengisi kemerdekaan ini. Jangan hanya dengan huru-hara kalangan pejabat yang di atas sana, kita rakyat kecil di bawah ini juga harus meriah juga,” ujarnya.

Karena itu, setiap tahun warga Karanglo terus mencari cara untuk menerjemahkan kondisi sosial dan ekonomi ke dalam penampilan mereka.

“Tema baris-berbaris ini tiap tahun kami selalu berganti-ganti, mengikuti kondisi ekonomi Indonesia,” ungkap Dono.

Ia menegaskan, kreativitas tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kegelisahan tanpa harus kehilangan semangat merayakan kemerdekaan.

“Jadi itu bentuk ekspresi dan kegelisahan kami sebagai warga masyarakat, dan kami kreasikan dengan seindah-indahnya dalam balutan kostum dan yel-yel,” pungkasnya.

Sementara itu, pembina regu baris-berbaris, Retno Fenti Wijayani, mengatakan total peserta dari dua regu warga Karanglo mencapai 48 orang.

“25 dan 18, jadi totalnya hari ini peserta kita dari dua regu itu 48 orang,” ujar Retno yang merupakan istri Dono.

Bagi mereka, kemerdekaan tahun ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu.

Di tengah harga kebutuhan yang terus menjadi perhatian masyarakat, kemerdekaan juga dimaknai sebagai keberanian untuk tetap bekerja, menjaga kesehatan, membantu sesama, dan tetap tertawa meski hidup sedang tidak murah-murahnya.

Tombol Google News

Tags:

gerak jalan Baris Berbaris Kota Blitar Karanglo SKJ Koboi Sindir Ekonomi