KETIK, PACITAN – RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan melatih 50 tenaga penyelenggara makanan untuk mencegah risiko kontaminasi dan penyakit akibat pangan di lingkungan rumah sakit.
Pelatihan Keamanan Pangan Olahan Siap Saji bagi Jasa Boga Rumah Sakit tersebut digelar di Ruang Pertemuan Lantai III RSUD dr. Darsono Pacitan.
Kegiatan dilaksanakan dalam dua gelombang, yakni Selasa, 11 Agustus 2026 dan Rabu, 9 September 2026.
Puluhan peserta yang mengikuti pelatihan terdiri dari ahli gizi, pengolah makanan, hingga pramusaji.
Mereka merupakan tenaga yang terlibat langsung dalam proses penyediaan makanan di lingkungan rumah sakit.
Direktur RSUD dr. Darsono Pacitan, dr. Johan Tri Putranto, mengatakan keamanan pangan menjadi bagian penting dalam pelayanan rumah sakit.
"Makanan yang diberikan kepada pasien harus dipastikan aman dan diolah dengan memperhatikan prinsip higiene serta sanitasi," ungkap dr. Johan kepada Ketik.com, Rabu, 12 Agustus 2026.
Peserta pelatihan keamanan pangan olahan siap saji bagi jajaran ahli gizi hingga pramusaji RSUD dr. Darsono Kabupaten Pacitan berfoto bersama usai mengikuti kegiatan pelatihan di lingkungan RSUD dr. Darsono Pacitan.
Karena itu, peningkatan kompetensi tenaga penyelenggara makanan diperlukan agar potensi kontaminasi dapat dicegah sejak proses persiapan bahan hingga makanan disajikan.
"Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya RSUD dr. Darsono Pacitan dalam menjaga mutu pelayanan melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia yang terlibat dalam penyediaan makanan," imbuhnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai kebijakan keamanan pangan, pembersihan dan sanitasi peralatan, cemaran pangan dan penyakit bawaan makanan.
Selain itu, peserta dibekali pemahaman mengenai tahapan produksi pangan siap saji, pemeliharaan lingkungan kerja, serta pengendalian vektor pembawa penyakit.
Penerapan higiene dan sanitasi yang baik menjadi salah satu langkah untuk mencegah makanan terkontaminasi selama proses pengolahan, penyimpanan, maupun penyajian.
"Materi tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari, terutama untuk memastikan seluruh proses penyediaan makanan berlangsung sesuai standar keamanan pangan," pintanya.(*)
