KETIK, PACITAN – Anggapan masyarakat terkait "nggak apa-apa gendut, yang penting sehat" adalah kurang tepat.
Hal tersebut disampaikan dokter spesialis penyakit jantung RSUD dr. Darsono Pacitan, dr. Setyo Utomo, Sp.JP, FIHA dalam segmen MEDIS (Media Info Sehat) yang digelar RSUD dr. Darsono Pacitan dalam rangka memperingati Hari Jantung Sedunia, Selasa, 29 September 2026.
dr. Setyo menjelaskan faktanya, kondisi tubuh yang masuk kategori gendut atau obesitas dapat berkaitan dengan sejumlah faktor risiko penyakit jantung.
Menurut dr. Setyo, kegemukan dalam dunia kedokteran dapat dikategorikan sebagai obesitas.
Kondisi tersebut dapat diukur melalui sejumlah indikator, di antaranya lingkar perut dan lingkar lengan.
"Pernyataan yang kurang tepat. Karena gemuk itu kalau di dalam kedokteran ada yang dinamakan obesitas. Obesitas itu bisa diukur dari lingkar perut, lingkar lengan, dan itu berbahaya sekali," kata dr. Setyo.
Ia mengatakan, orang dengan obesitas biasanya memiliki kondisi kesehatan yang juga berkaitan dengan kencing manis, kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi.
"Akibatnya apa? Kalau orang dengan obesitas, biasanya ada kencing manis, ada kolesterol yang tinggi, tekanan darah tinggi, yang mengakibatkan nanti akan terjadi penyakit jantung pada masa-masa selanjutnya," ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung.
Karena itu, menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit jantung menjadi hal yang penting.
"Oleh karena itu, kita harus menjaga jangan sampai terjadi penyakit jantung yang membahayakan dan akan terjadi serangan jantung yang akan bisa mematikan si penderita tersebut," katanya.
Penjelasan tersebut disampaikan dr. Setyo saat menjawab pertanyaan dr. Safrilia Syifa Dwi Agrnia selaku host mengenai mitos atau fakta anggapan "rapopo lemu sing penting sehat" atau "enggak apa-apa gendut yang penting sehat"
Sementara itu, Direktur RSUD dr. Darsono Pacitan, Johan Tri Putranto, mengatakan edukasi mengenai kesehatan jantung perlu terus dilakukan agar masyarakat tidak hanya memperhatikan kesehatan ketika sudah muncul keluhan.
“Peringatan Hari Jantung Sedunia menjadi momentum bagi kami untuk mengingatkan masyarakat bahwa kesehatan jantung perlu dijaga sejak dini. Pencegahan lebih baik dilakukan sebelum muncul penyakit atau komplikasi,” katanya.
dr. Johan mengatakan, pola hidup sehari-hari menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan masyarakat, termasuk menjaga berat badan, pola makan, serta aktivitas fisik.
“Menjaga berat badan bukan hanya berkaitan dengan penampilan. Dari sisi kesehatan, berat badan berlebih dapat berkaitan dengan munculnya sejumlah faktor risiko penyakit, sehingga masyarakat perlu memperhatikan pola hidupnya secara menyeluruh,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat juga perlu melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama apabila memiliki faktor risiko tertentu. Dengan harapan bahwa gangguan kesehatan dapat diketahui lebih awal begitu juga penanganan nya.
“Kami mengajak masyarakat untuk tidak menunggu sampai muncul gejala berat. Pemeriksaan kesehatan secara berkala dan konsultasi dengan tenaga medis penting untuk mengetahui kondisi tubuh serta faktor risiko yang mungkin dimiliki,” katanya.(*)
