Air Isi Ulang Bisa Tercemar Bakteri hingga Logam Berat, Ini Sumber Risikonya

20 September 2026 03:05 20 Sep 2026 03:05

Thumbnail Air Isi Ulang Bisa Tercemar Bakteri hingga Logam Berat, Ini Sumber Risikonya

Pengawasan usaha isi ulang air minum dalam galon di Tangerang. (Foto: Pemkot Tangerang)

KETIK, SURABAYA – Proses penyaringan tidak selalu mampu menghilangkan seluruh jenis pencemar dari air minum isi ulang. Karena itu, kualitas air baku dan efektivitas teknologi pengolahan menjadi dua hal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui potensi kontaminasi.

Pakar Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University, Prof. Etty Riani, mengatakan tingkat risiko air isi ulang dapat berbeda-beda. Kondisi sumber air, teknologi pengolahan, fasilitas, kebersihan operator, dan penanganan setelah pengisian turut menentukan kualitas air yang dikonsumsi masyarakat.

“Risikonya bisa berbeda-beda, dari mulai rendah sampai tinggi. Besarnya risiko sangat bergantung pada kualitas sumber air, pengolahannya, efektif atau tidak, kondisi fasilitasnya bagaimana, kehigienisan operator seperti apa, dan bagaimana penanganannya setelah pengisian,” ujar Prof Etty.

Menurut Prof. Etty, persoalan dapat dimulai sejak air masih berada di sumbernya. Air baku yang tercemar limbah domestik, septic tank, aktivitas pertanian, industri, atau pertambangan dapat membawa berbagai jenis pencemar.

“Jangan sampai sumber air tercemar oleh limbah domestik dan septic tank, aktivitas pertanian seperti pupuk dan pestisida, limbah industri, pertambangan, dan sebagainya. Teknologi penyaringan belum tentu mampu membuang semua jenis pencemar tersebut karena kemampuan dan keterbatasannya yang berbeda-beda,” jelasnya.

Jenis kontaminan dalam air isi ulang dapat terbagi menjadi pencemar mikrobiologis dan kimia. Pencemar mikrobiologis dapat berupa bakteri, virus, dan protozoa.

Sementara itu, pencemar kimia dapat mencakup arsen, timbal, kadmium, kromium, nitrat, nitrit, besi, mangan, aluminium, pestisida, hingga hidrokarbon.

Beragamnya jenis pencemar tersebut membuat teknologi pengolahan tidak dapat dipandang sebagai jaminan bahwa seluruh kontaminan pasti hilang. Kemampuan setiap teknologi berbeda dan perlu disesuaikan dengan karakteristik pencemar yang terdapat dalam air baku.

Risiko kontaminasi juga dapat muncul setelah proses pengolahan. Air yang telah memenuhi persyaratan dapat kembali tercemar ketika depot tidak menjaga kebersihan fasilitas dan peralatan.

Selang, keran, tangki, filter, galon, hingga tangan operator dapat menjadi titik kritis kontaminasi apabila tidak dirawat dan digunakan secara higienis.

“Kondisi galon, tangki, selang, dan peralatan sangat penting karena tahap ini dapat menjadi titik kritis kontaminasi,” kata Prof Etty.

Karena itu, pengendalian kualitas air perlu dilakukan sepanjang rantai pengolahan. Depot tidak cukup hanya memperhatikan proses penyaringan, tetapi juga perlu menjaga peralatan, melakukan perawatan filter, menerapkan disinfeksi, dan mencegah kontaminasi ulang.

Pemeriksaan laboratorium juga menjadi bagian penting dalam pengendalian risiko. Masyarakat dapat menanyakan hasil pemeriksaan tersebut ketika memilih depot air minum isi ulang.

Konsumen juga dapat mengurangi risiko dengan memilih depot yang memiliki kondisi lingkungan bersih, peralatan terawat, serta operator yang menjaga kebersihan diri. Informasi mengenai sumber air baku dan kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) juga dapat menjadi pertimbangan.

Pada akhirnya, keberadaan pencemar dalam air isi ulang sangat berkaitan dengan kualitas sumber air dan kemampuan proses pengolahannya. Karena itu, air isi ulang tidak bisa dinilai aman atau berbahaya hanya berdasarkan anggapan umum.

Masyarakat perlu melihat pengendalian risiko secara menyeluruh, mulai dari sumber air hingga proses pengisian. Pemilihan depot yang menerapkan pengendalian risiko sepanjang rantai air minum menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan konsumen. (*)

Tombol Google News

Tags:

Air Isi Ulang Air Minum Isi Ulang Depot Air Minum Keamanan Air Minum Kualitas Air Pencemaran Air kesehatan