KETIK, JAKARTA – Penggunaan bahan bakar fosil yang memicu perubahan iklim disebut menjadi penyebab utama gelombang panas ekstrem yang memecahkan rekor suhu di berbagai negara Eropa sepanjang Juni 2026.
Kesimpulan tersebut disampaikan World Weather Attribution (WWA) dalam studi cepat (rapid study) yang dirilis pada Jumat, 26 Juni 2026.
Dalam laporannya, WWA menegaskan gelombang panas yang terjadi pada 18-29 Juni 2026 hampir mustahil terjadi apabila kondisi iklim masih seperti 50 tahun lalu.
Bahkan dibandingkan dua dekade lalu, peluang terjadinya fenomena serupa kini meningkat puluhan hingga ratusan kali lipat akibat pemanasan global.
WWA menyebut perubahan iklim yang dipicu emisi karbon dari pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam telah mengubah kondisi dasar iklim dunia. Akibatnya, pola cuaca yang sebelumnya hanya menghasilkan suhu tinggi kini mampu memicu panas ekstrem dengan intensitas yang jauh lebih besar.
"Penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap sangat penting jika kita ingin menghindari suhu yang lebih tinggi dan konsekuensinya di masa depan," tulis WWA dalam laporan resminya.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa apabila gelombang panas serupa terjadi pada kondisi iklim tahun 1976, suhu siang di Eropa akan sekitar 3,5 derajat Celsius lebih rendah.
Sementara jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2003, suhu siang diperkirakan sekitar 2 derajat Celsius lebih rendah.
Kenaikan suhu juga terjadi pada malam hari.
Para peneliti memperkirakan suhu malam selama gelombang panas Juni 2026 sekitar 2,4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan tahun 1976 dan sekitar 1,3 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan tahun 2003.
Menurut WWA, Eropa Barat menjadi salah satu kawasan yang mengalami pemanasan tercepat.
Bahkan, bulan Juni tercatat mengalami kenaikan suhu lebih cepat dibandingkan bulan lainnya.
Suhu maksimum harian meningkat sekitar tiga kali lebih cepat daripada rata-rata pemanasan global, sedangkan suhu malam meningkat sekitar dua kali lebih cepat.
Dampaknya, banyak ibu kota di Eropa mengalami periode tiga hari terpanas sejak pencatatan modern dimulai pada 1950.
WWA juga mengungkapkan gelombang panas kini menjadi bencana alam paling mematikan di Eropa. Korban jiwa akibat cuaca panas bahkan melampaui gabungan seluruh korban dari bencana alam lainnya.
Risiko tersebut semakin besar karena populasi lanjut usia terus meningkat, tingginya angka penderita penyakit kronis, serta belum meratanya akses terhadap pendingin ruangan dan hunian yang dirancang menghadapi suhu ekstrem.
Kelompok yang paling rentan meliputi lansia yang tinggal sendiri, masyarakat berpenghasilan rendah, penderita penyakit kronis, tunawisma, hingga para migran.
Selain suhu udara, para peneliti juga menganalisis Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), yakni indikator yang menggabungkan suhu dan kelembapan untuk mengukur tingkat stres panas pada tubuh manusia.
Hasilnya, sekitar 45 persen kota di Eropa melampaui ambang batas WBGT yang berpotensi membahayakan kesehatan selama periode 18 hingga 29 Juni 2026.
Menurut WWA, kondisi tersebut menunjukkan banyak kota di Eropa belum siap menghadapi perubahan iklim.
Bangunan, sekolah, transportasi publik, hingga infrastruktur energi sebagian besar masih dirancang berdasarkan kondisi iklim masa lalu yang jauh lebih sejuk.
Karena itu, para ilmuwan mendorong pemerintah mempercepat adaptasi melalui renovasi bangunan, pengembangan desain kota yang tahan panas, peningkatan ruang terbuka hijau, serta sistem pendinginan pasif yang lebih ramah lingkungan.
WWA menilai dunia kini telah memasuki fase ketika pemanasan global sekitar 1,4 derajat Celsius mulai mendorong munculnya gelombang panas yang melampaui kemampuan masyarakat untuk beradaptasi.
Lembaga tersebut mengingatkan bahwa tanpa pengurangan emisi karbon secara signifikan, kejadian serupa diperkirakan akan semakin sering terjadi dengan dampak yang lebih luas terhadap kesehatan, ekonomi, hingga infrastruktur.(*)
.png)