Harga Kedelai Impor Naik, Pakar Sebut Pengrajin Tahu dan Tempe Makin Tertekan

6 Juli 2026 01:00 6 Jul 2026 01:00

Thumbnail Harga Kedelai Impor Naik, Pakar Sebut Pengrajin Tahu dan Tempe Makin Tertekan

Produsen tempe di Desa Beji mengeluhkan kenaikan harga kedelai impor. (Foto: Pemdes Beji)

KETIK, BOGOR – Kenaikan harga kedelai impor kembali memberi tekanan kepada industri tahu dan tempe di Indonesia. Lonjakan biaya bahan baku membuat banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus mencari cara agar usahanya tetap bertahan tanpa kehilangan pelanggan.

Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Dr Tanti Novianti, mengatakan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor membuat pengrajin tahu dan tempe sangat rentan terhadap gejolak ekonomi global, terutama ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Tempe dan tahu merupakan sumber protein rakyat yang bahan bakunya hingga saat ini masih didominasi impor, sekitar 90–95 persen. Ketika dolar AS menguat atau rupiah melemah, harga kedelai impor otomatis menjadi lebih mahal dalam rupiah meskipun harga kedelai dunia relatif tetap,” ujarnya, Minggu, 5 Juli 2026.

Menurut Dr Tanti, kenaikan harga bahan baku secara langsung meningkatkan biaya produksi. Sementara itu, ruang untuk menaikkan harga jual sangat terbatas karena sebagian besar konsumen tahu dan tempe berasal dari kelompok masyarakat yang sensitif terhadap perubahan harga.

Akibatnya, pengrajin dihadapkan pada pilihan sulit. Mereka dapat menaikkan harga dengan risiko kehilangan pembeli, mempertahankan harga tetapi mengecilkan ukuran produk atau mengurangi keuntungan, hingga memangkas produksi yang akhirnya berdampak pada pendapatan pekerja.

“Pelemahan rupiah membuat biaya produksi naik lebih cepat dibanding kemampuan UMKM menyesuaikan harga jual. Inilah yang membuat banyak pengrajin merasa terimpit,” katanya.

Dr Tanti menilai persoalan tersebut tidak terlepas dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor. Hingga kini sekitar 90–95 persen kebutuhan bahan baku industri tahu dan tempe masih dipenuhi dari luar negeri karena produksi dalam negeri belum mampu mengejar kebutuhan nasional yang mencapai sekitar 2,5–2,7 juta ton per tahun.

Produktivitas kedelai lokal juga masih tertinggal dibandingkan negara-negara produsen utama. Kondisi tersebut membuat industri pangan nasional sangat rentan terhadap fluktuasi kurs maupun dinamika perdagangan global.

Sebagai solusi jangka panjang, Dr Tanti mendorong pemerintah memperkuat produksi kedelai lokal melalui pemberian insentif kepada petani, pengembangan benih unggul, kepastian harga, hingga modernisasi industri tahu dan tempe.

Ia juga menilai penguatan koperasi pengrajin, stabilisasi harga kedelai, serta perluasan akses pembiayaan murah melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi langkah penting agar usaha tahu dan tempe tetap bertahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal beras, tetapi juga protein rakyat seperti tempe dan tahu. Karena itu, kebijakan yang melindungi pengrajin sekaligus memperkuat produksi kedelai lokal perlu terus didorong agar usaha tetap berkelanjutan dan pangan tetap terjangkau bagi masyarakat,” pungkasnya.

 

Tombol Google News

Tags:

Harga Kedelai Impor Kedelai Impor IPB University Dr Tanti Novianti Harga Tahu Harga Tempe UMKM