UIN Malang Siapkan RS Pendidikan di Kota Batu, Wamenkes Dorong Fokus Rehabilitasi dan Kanker

7 Mei 2026 11:57 7 Mei 2026 11:57

Dafa Wahyu P., Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail UIN Malang Siapkan RS Pendidikan di Kota Batu, Wamenkes Dorong Fokus Rehabilitasi dan Kanker

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., saat menyerahkan proposal Rumas Sakit Pendidikan kepada Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

KETIK, BATU – Rencana pembangunan Rumah Sakit Pendidikan (RSP) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di Kampus 3 Tlekung, Kota Batu, mendapat dukungan dari Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus. 

Menurutnya, kawasan kampus yang berada di wilayah pegunungan dengan udara sejuk sangat potensial dikembangkan menjadi pusat layanan kesehatan sekaligus rumah sakit pendidikan unggulan.

Dukungan tersebut disampaikan saat Forum Group Discussion (FGD) Pengembangan Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit UIN Malang yang digelar di Kampus 3 UIN Malang, Desa Tlekung, Kota Batu, pada Kamis, 7 Mei 2026.

Dalam kesempatan itu, Wamenkes yang akrab disapa dr. Benny itu mengaku terkejut dengan capaian Fakultas Kedokteran UIN Malang yang dinilai memiliki kualitas lulusan sangat baik.

“Saya tadi cukup kaget karena Fakultas Kedokteran UIN Malang sudah meluluskan 173 mahasiswa dan semuanya lulus ujian kompetensi. Ini tentu pencapaian yang sangat baik,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan rumah sakit pendidikan menjadi kebutuhan penting bagi sebuah perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Kedokteran, terutama untuk menunjang proses pendidikan calon dokter secara optimal.

“Setiap Fakultas Kedokteran idealnya memang memiliki rumah sakit pendidikan sebagai sarana pembelajaran dan praktik mahasiswa kedokteran,” katanya.

Sebagai warga asli Kota Batu, dr. Benny juga menilai kondisi geografis dan kualitas udara di kawasan Kampus 3 UIN Malang sangat mendukung untuk pengembangan rumah sakit dengan layanan rehabilitasi dan penanganan penyakit katastropik.

“Saya memahami bagaimana kualitas udara dan suasana di Kota Batu. Lokasi ini sangat cocok untuk pembangunan rumah sakit pendidikan, khususnya yang menangani penyakit-penyakit yang membutuhkan perawatan jangka panjang,” jelasnya.

Menurutnya, rumah sakit yang direncanakan tidak hanya melayani penyakit dasar, tetapi juga perlu memiliki layanan unggulan yang spesifik agar dapat melengkapi fasilitas kesehatan lain di Malang Raya.

“Tempat seperti ini sangat baik untuk rehabilitasi pascastroke, penanganan kanker, fisioterapi, maupun penyakit komplikasi lainnya. Faktor lingkungan dan udara sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan pasien,” tambahnya.

Ia menegaskan, rumah sakit di suatu daerah sebaiknya memiliki kekhususan layanan agar tidak tumpang tindih dengan rumah sakit besar lainnya, seperti RSSA Malang.

“Kalau rumah sakit besar menangani hampir semua layanan kesehatan, maka rumah sakit pendukung seperti ini perlu memiliki layanan unggulan tertentu. Saya melihat kawasan ini cocok untuk layanan rehabilitasi dan penyakit katastropik,” tegasnya.

Selain mendukung pembangunan rumah sakit pendidikan, dr. Benny juga berharap UIN Malang dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembangunan sektor kesehatan nasional.

“Saya berharap UIN Malang terus berperan aktif mendukung program prioritas negara, termasuk mencetak generasi yang sehat, cerdas, berdaya saing, dan mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan kesehatan di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., mengatakan, kunjungan Wakil Menteri Kesehatan menjadi momentum penting untuk menunjukkan kesiapan UIN Malang dalam membangun rumah sakit pendidikan.

“Beliau sudah melihat langsung kualitas Fakultas Kedokteran kami. Tingkat kelulusan ujian nasional mencapai 100 persen tanpa ada mahasiswa yang mengulang, dan itu sangat jarang terjadi,” ungkapnya.

Menurut Prof Ilfi, hingga saat ini Fakultas Kedokteran UIN Malang telah meluluskan 173 dokter.

Selain itu, Program Studi Farmasi juga mencatat prestasi membanggakan dengan tingkat kelulusan 100 persen dan masuk peringkat tujuh nasional untuk nilai ambang kelulusan profesi apoteker.

“Artinya kualitas akademik kami tidak perlu diragukan lagi,” katanya.

Ia menambahkan, keberadaan rumah sakit pendidikan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas penerimaan mahasiswa kedokteran.

Selama ini, keterbatasan rumah sakit mitra menjadi kendala dalam penambahan kuota mahasiswa koas.

“Kalau memiliki rumah sakit sendiri, kami bisa menerima mahasiswa lebih banyak dan mencetak dokter-dokter muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki spiritualitas dan moralitas yang baik,” jelasnya.

UIN Malang sendiri telah menyiapkan lahan untuk pembangunan rumah sakit pendidikan tersebut. Area yang disiapkan untuk bangunan utama mencapai sekitar 6,5 hektare.

Ke depan, rumah sakit yang dirancang tidak hanya berfungsi sebagai layanan medis, tetapi juga dikembangkan dengan konsep rehabilitasi terpadu berbasis lingkungan.

“Konsepnya bukan rumah sakit emergensi, melainkan rumah sakit rehabilitasi. Nantinya akan ada area pendukung seperti edupark dan cottage agar pasien pasca stroke, kanker, maupun penyakit berat lainnya bisa menjalani pemulihan bersama keluarga dengan suasana yang nyaman,” pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Rumah Sakit Pendidikan UIN Malang Berita Kota Batu Info Kota Batu Wakil Menteri Kesehatan Rektor Uin Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Dr. Benjamin Paulus Octavianus