KETIK, MALANG – Di tengah gelombang penolakan sopir angkutan kota (angkot), Trans Jatim Koridor 2 Malang Raya tetap ditargetkan beroperasi pada 29 Oktober 2026. Angkot di Kota Malang bakal diproyeksikan sebagai armada feeder (pengumpan).
Kepala Seksi Sarana Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur, Cito Eko Yuly Saputro, meminta Dishub Kota Malang segera menginventarisasi data para pengemudi. Langkah ini dilakukan menyusul keluhan 494 sopir angkot yang mengaku pendapatannya menurun akibat rencana kehadiran Trans Jatim.
"Maka dari itu saya minta tolong rekan-rekan Dishub Kota Malang untuk inventarisasi datanya. Syarat dan ketentuan berlaku. Kemarin konsepnya teman-teman mendaftarkan diri ke KIR, dicocokkan armada dan STNK, dan nomor rangka itu sama atau tidak, itu akan dicocokkan," ujarnya, Kamis 1 Oktober 2026.
Proses verifikasi tersebut kini berlanjut ke tahap penyerahan data ke Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Jatim guna memastikan kesesuaian kuota. Cito juga mendorong diadakannya pertemuan susulan untuk membahas detail teknis solusi penanganan masalah ini.
"Hari Rabu atau Kamis minggu depan nanti saya minta ada pertemuan teknis karena ini kan sudah tahu permasalahannya. Namun, yang dipanggil adalah sopir terdampak, yang persentasenya tinggi. Itu yang nanti akan diberikan feeder dan kuota driver," jelasnya.
Ia memastikan gejolak keluhan sopir angkot di Kota Malang tidak menghalangi peluncuran Trans Jatim Koridor 2. Rencananya, terdapat 15 armada yang mewarnai koridor 2 yang terdiri dari 14 unit untuk operasional dan 1 unit lain sebagai cadangan.
"Ini kan sebagai kombinasi dan inovasi teman-teman angkot supaya didengar dan diberdayakan. Kami pun masih kekurangan driver, maka dari itu kami butuh nanti kita campur. Pastinya proporsinya harus sesuai, makanya pendataan minggu depan semoga sudah finalisasi," tuturnya.
Selain itu, Cito menilai perlu dilakukan penataan ulang rute (rerouting) angkot untuk menyelaraskan skema operasional Trans Jatim di Malang. Dishub Kota Malang nantinya menyetorkan usulan rute baru tersebut ke Pemprov Jatim untuk ditindaklanjuti.
"Kami menganggarkan, kami yang berkontrak dengan teman-teman angkot. Kalau di jalan arteri itu nanti mungkin bus. Tapi kalau untuk yang masuk-masuk perumahan itu adalah feeder atau angkot. Sangat perlu sekali rerouting supaya demand juga terbentuk," pungkasnya. (*)
