KETIK, MALANG – Gempuran modernisasi dan pestanya perkembangan digital saat ini, tak menyurutkan semangat perajin mainan tradisional untuk terus berkreasi. Salah satunya adalah perajin layangan satu ini, karyanya tembus hingga mancanegara yaitu Prancis dan Malaysia.
Saat ditemui di tokonya yang dinamakan Ahoed DC di Jalan Lapangan Brawijaya, Lucky Maulana mengatakan bahwa layangan Sukhoi khas Malang sudah lama dikenal karena kualitas dan karakteristik terbangnya yang khas.
"Dulu sampai sekarang, Malang ini terkenal dengan layangan Sukhoi. Bahkan dikenal sampai mancanegara, dan pernah saya kirim layangan hingga ke Malaysia dan Prancis," jelasnya, Selasa, 9 Juni 2026.
Ia mengaku sekali pengiriman ke Prancis, bisa mencapai hingga 5.000 layangan. Produk yang dikirim umumnya merupakan kayangan dengan harga mulai Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per unit.
"Saat pengiriman ke Prancis, sekali kirim bisa 3.000 sampai 5.000 layangan sekaligus," tambahnya.
Dirinya mengungkapkan, kualitas layangan Sukhoi Malang menjadi salah satu alasan produk tersebut dapat bersaing di pasar internasional. Meski daerah lain seperti Bandung dan Pasuruan memiliki perajin layangan, namun Malang masih dianggap sebagai pelopor adanya layangan Sukhoi di Indonesia.
Lucky mengungkapkan, bahwa usaha pembuatan layangan Sukhoi ini telah dirintis oleh orang tuanya sejak tahun 1960 dan masih bertahan hingga kini. Selain pasar lokal, adanya penjualan secara daring juga turut membuka pemasaran hingga luar Jawa bahkan luar negeri.
"Kalau untuk kelas turnamen, pembeli justru lebih banyak dari luar Jawa. Pernah ada pemesanan online sampai Rp 30 juta sampai Rp 50 juta," tambahnya.
Meski begitu, penjualan layangan tetap dipengaruhi musim. Saat ini, pasar layangan sedang memasuki periode yang relatif sepi dibanding tahun sebelumnya.
Namun, ia tetap optimis permintaan akan kembali meningkat saat musim libur sekolah dan memasuki puncak musim layangan pada Juni hingga menjelang musim penghujan.
"Layanan ini musiman dan biasanya ramai di bulan Juni sampai jelang musim hujan. Kalau sudah musim, turnamen ada terus hampir setiap minggu," terangnya.
Lucky mengaku, eksistensi mainan layangan di Malang juga dibantu dan ditopang oleh kehadiran komunitas yang sangat masif. Ribuan pemain layangan tersebar di berbagai wilayah seperti Sawojajar, Gadang, Kepuh hingga kawasan Malang Selatan.
Bahkan setiap akhir pekan, setidaknya ada lima hingga enam turnamen layangan digelar bergantian di berbagai lokasi.
"Tiap ada lomba, pasti penuh peserta. Dan tiap akhir pekan, selalu ada turnamen layangan," imbuhnya.
Namun di balik itu, para perajin dan pemain layangan menghadapi tantangan. Berupa semakin berkurangnya lahan terbuka akibat pembangunan perumahan dan alih fungsi lahan.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat menyediakan area khusus untuk bermain layangan. Sehingga, mainan tradisional ini tetap eksis dan tidak tergerus era digital.
"Saya berharap adanya lahan terbuka yang lebar dan khusus anak-anak bermain layangan. Sekarang, lahan yang ada semakin berkurang karena tergerus pembangunan," pungkasnya. (*)
