Suara Kadir Ikram dari IAIN Ternate: Iqra, Jalan Menuju Generasi Pemikir

26 Agustus 2026 22:35 26 Agt 2026 22:35

Thumbnail Suara Kadir Ikram dari IAIN Ternate: Iqra, Jalan Menuju Generasi Pemikir

Kadir Ikram Presiden DEMA IAIN Ternate (Foto: Bhasten For Ketik.com)

KETIK, MALUKU UTARA – Ada perubahan kecil yang perlahan menjadi pemandangan biasa di lingkungan kampus. Rak-rak buku masih berdiri di tempatnya, tetapi tak selalu ramai disentuh. Pada saat yang sama, layar ponsel hampir tak pernah padam. Jempol terus bergerak, berpindah dari satu video ke video berikutnya.

Pemandangan itulah yang mengusik Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate, Kadir Ikram. Bagi Kadir, persoalannya tak sesederhana mahasiswa malas membaca. Ada pergeseran yang lebih dalam tentang bagaimana generasi muda mencari, menerima, bahkan memperlakukan pengetahuan.

Kadir merupakan mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara (HTN) atau Siyasah Syar'iyyah, salah satu program studi strata satu di bawah Fakultas Syariah IAIN Ternate. Kegelisahan tentang perubahan budaya membaca itu ia bawa ke hadapan ratusan calon mahasiswa baru dalam Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Ternate 2026.

PBAK yang berlangsung di Auditorium IAIN Ternate itu dibuka Rektor IAIN Ternate Dr. Adnan Mahmud dan diikuti 503 calon mahasiswa baru.

Di tengah gegap gempita kehidupan digital yang menawarkan segala sesuatu dalam hitungan detik, Kadir meminta mahasiswa baru tidak kehilangan kebiasaan mendalami sesuatu secara utuh. Menurutnya, kampus tetap membutuhkan generasi yang bersedia berhenti sejenak dari derasnya arus informasi untuk membaca, berpikir dan menguji pengetahuan.

Potret keseharian mahasiswa yang ia saksikan menjadi titik mula kegelisahan tersebut. Buku perlahan tersisih dari waktu luang, sementara telepon genggam mengambil ruang yang semakin besar.

"Saya saya memotret keseharian mahasiswa di lingkungan kampus, gambaran yang muncul cukup mengkhawatirkan. Buku-buku di rak perpustakaan semakin sepi disentuh, sementara layar ponsel nyaris tak pernah lepas dari genggaman. Scroll TikTok telah menggantikan lembar demi lembar buku sebagai aktivitas utama mengisi waktu luang," ungkap Kadir dalam keterangan persnya, Rabu 26 Agustus 2026.

Bagi Kadir, berkurangnya intensitas mahasiswa membuka buku baru satu sisi persoalan. Hal yang jauh lebih serius muncul ketika membaca tak lagi dipandang sebagai kebutuhan dasar seorang mahasiswa, melainkan aktivitas berat yang sebisa mungkin dihindari.

Ia menilai perubahan itu menyentuh jantung kehidupan akademik. Sebab, mahasiswa selama ini tidak hanya dikenali dari ruang kuliah yang mereka masuki, tetapi juga dari kemauan membaca, mempertanyakan sesuatu dan mengembangkan gagasan.

"Yang paling menyayat, membaca yang semestinya menjadi identitas melekat seorang mahasiswa, bahkan menjadi syarat mutlak status “kaum intelektual” kini justru diperlakukan seperti sesuatu yang asing. Alergi. Sesuatu yang bila didekati membuat gelisah, cepat bosan, dan buru-buru ingin dihindari," tuturnya.

Bukan Sekadar Mahasiswa yang Malas Membaca

Kadir tak ingin krisis literasi berhenti sebagai tudingan terhadap individu mahasiswa. Menurutnya, kebiasaan intelektual tidak tumbuh dalam ruang kosong. Ia dibentuk oleh lingkungan, pergaulan, ruang diskusi, hingga organisasi tempat mahasiswa menjalani proses pembentukan diri.

Karena itu, sorotannya juga diarahkan kepada organisasi kemahasiswaan, baik yang berada di dalam kampus maupun di luar struktur kampus. Organisasi, menurutnya, seharusnya menjadi salah satu dapur utama lahirnya tradisi berpikir.

Dalam proses kaderisasi, budaya membaca semestinya hadir sebagai fondasi, bukan sekadar agenda tambahan yang muncul sesekali.

“Karena berbicara soal tanggung jawab mahasiswa hari ini tidak terlepas dari budaya organisasi, baik internal maupun eksternal. Ketika organisasi kemahasiswaan gagal menanamkan tradisi literasi dalam proses kaderisasinya, maka wajar jika generasi yang dihasilkan pun jauh dari budaya baca,” ujarnya.

DEMA, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas hingga unit kegiatan mahasiswa (UKM), kata Kadir, tidak cukup hanya menjadi ruang penyelenggaraan kegiatan. Organisasi mahasiswa juga harus menjadi tempat bertemunya buku, gagasan, perdebatan dan keberanian untuk menguji suatu pemikiran.

Ia menginginkan organisasi kembali menjadi ruang tempat mahasiswa belajar menyusun argumentasi, berbeda pendapat secara sehat dan menemukan perspektif baru melalui bacaan.

Pandangan serupa ia arahkan kepada organisasi ekstra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Kadir mengingatkan, perjalanan panjang gerakan mahasiswa Indonesia selalu memiliki hubungan kuat dengan tradisi membaca dan diskusi.

Di balik berbagai babak gerakan mahasiswa, menurutnya, ada ruang-ruang intelektual yang lebih dahulu membentuk cara berpikir para aktivisnya.

“Di sisi lain, organisasi eksternal seperti HMI, PMII, IMM, dan organisasi ekstra kampus lainnya turut memegang peran strategis, sebab sejarah panjang gerakan mahasiswa Indonesia selalu lahir dari tradisi membaca dan berdiskusi yang kuat di tubuh organisasi-organisasi tersebut," katanya di hadapan ratusan calon mahasiswa baru.

Kekhawatiran Kadir sederhana tetapi serius. Jika organisasi yang selama ini menjadi tempat pembentukan kader ikut meninggalkan tradisi intelektual, kampus berisiko melahirkan mahasiswa yang aktif berorganisasi tetapi kehilangan kedalaman berpikir.

Pada titik itu, budaya menggulir layar bukan lagi sekadar kebiasaan pribadi. Ia bisa menjadi tanda bahwa ruang yang seharusnya menumbuhkan pembaca dan pemikir mulai kehilangan fungsinya.

“Ketika budaya organisasi baik internal maupun eksternal mulai kehilangan ruh literasinya, maka jangan heran bila mahasiswa hari ini lebih akrab dengan scroll TikTok ketimbang membuka lembar buku,” tambahnya.

Tak Perlu Memusuhi Dunia Digital

Meski melontarkan kritik tajam terhadap kebiasaan digital mahasiswa, Kadir tidak menempatkan teknologi sebagai musuh. Ia justru melihat media sosial dapat dipakai sebagai pintu masuk untuk membawa mahasiswa kembali kepada buku.

Konten digital, menurutnya, dapat diisi dengan ringkasan buku, kutipan reflektif hingga diskusi singkat yang merangsang rasa ingin tahu. Media sosial tidak harus berhenti sebagai ruang hiburan, tetapi dapat diarahkan menjadi jembatan menuju bacaan yang lebih utuh.

Di lingkungan kampus, Kadir juga mendorong DEMA bersama organisasi mahasiswa lain menghidupkan kembali ruang membaca kolektif melalui bedah buku dan klub baca.

Membaca perlu dikeluarkan dari kesan sebagai aktivitas sunyi yang membosankan. Ia bisa menjadi kegiatan sosial, ruang bertukar pikiran dan pintu menuju diskusi yang lebih luas.

Kadir juga menginginkan literasi ditempatkan lebih serius dalam proses kaderisasi organisasi mahasiswa. Kajian, diskusi dan bedah buku semestinya menjadi bagian penting dalam membentuk kader, bukan sekadar pelengkap di tengah padatnya agenda organisasi.

Gagasan lain yang ia dorong adalah gerakan "Iqra Kampus", sebuah upaya menghidupkan kembali semangat membaca dengan menariknya sekaligus ke akar tradisi keislaman dan intelektual.

Melalui DEMA, ruang kolaborasi dengan organisasi ekstra kampus juga dinilai perlu dibuka. Dengan begitu, gerakan literasi tidak berjalan dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah, tetapi tumbuh menjadi budaya bersama di lingkungan mahasiswa.

Namun Kadir menyadari, program sebanyak apa pun akan kehilangan daya jika para pengurus organisasi tidak memulainya dari diri sendiri.

Baginya, seruan membaca tak cukup ditempel dalam poster, disampaikan dalam pidato atau dimasukkan ke agenda kaderisasi. Mahasiswa perlu melihat secara langsung bahwa para pemimpin organisasi membaca, berdiskusi dan menggunakan pengetahuan sebagai dasar dalam bersikap maupun mengambil keputusan.

Bagi Kadir, persoalan literasi bukan sekadar soal perpustakaan yang semakin sepi. Jika mahasiswa kehilangan kebiasaan membaca, yang dipertaruhkan juga kemampuan membangun argumen, mempertanyakan keadaan dan melahirkan gagasan.

Karena itu, krisis literasi menurut Kadir menjadi tanggung jawab bersama seluruh ekosistem mahasiswa, mulai dari organisasi, kampus hingga individu mahasiswa.

Ia mengingatkan, jika "alergi" terhadap buku dibiarkan, kampus bukan hanya akan kehilangan pembaca. Lebih jauh, kampus bisa kehilangan generasi pemikir.

Tombol Google News

Tags:

Dema Iain Ternate Kadir Ikram Literasi Membaca kampus Maluku Utara