Siang Terik Malam Menggigil, Kota Batu Dilanda Fenomena Mbediding hingga September 2026

10 Juli 2026 10:59 10 Jul 2026 10:59

Dafa Wahyu P., Fisca Tanjung

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Siang Terik Malam Menggigil, Kota Batu Dilanda Fenomena Mbediding hingga September 2026

Puncak suhu dingin fenomena mbediding di Kota Batu, diperkirakan terjadi pada bulan Juli hingga Agustus. (Foto: Dafa Wahyu Pratama/Ketik.com)

KETIK, BATU – Warga Kota Batu masih merasakan fenomena mbediding, yakni kondisi ketika udara terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari meski suhu siang hari tetap terik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu memastikan fenomena ini merupakan siklus tahunan yang lazim terjadi saat musim kemarau dan diperkirakan masih akan berlangsung hingga September 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Batu, Suwoko, mengatakan Kota Batu saat ini telah memasuki musim kemarau. Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah perbedaan suhu yang cukup mencolok antara siang dan malam.

“Memang benar, saat ini Kota Batu mulai memasuki musim kemarau. Salah satu dampak yang paling dirasakan masyarakat adalah turunnya suhu udara, terutama pada malam hingga pagi hari. Udara terasa lebih dingin dibandingkan beberapa bulan sebelumnya,” ujarnya, Jumat, 10 Juli 2026.

Menurut Suwoko, fenomena mbediding merupakan kondisi ketika suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya. Istilah bediding sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti udara dingin yang menusuk.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan termasuk cuaca ekstrem, melainkan fenomena alam yang rutin terjadi setiap musim kemarau.

“Mbediding merupakan fenomena tahunan yang wajar terjadi dan bukan termasuk cuaca ekstrem. Meski begitu, masyarakat tetap perlu menjaga kondisi tubuh, terutama bayi, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan,” katanya.

Suwoko menjelaskan, fenomena ini umumnya berlangsung mulai Juni hingga September, dengan puncak suhu dingin diperkirakan terjadi pada akhir Juli hingga Agustus. Di wilayah dataran tinggi seperti Kota Batu, suhu udara pada malam hingga dini hari dapat berkisar antara 16 hingga 19 derajat Celsius.

“Di bulan Juli, Agustus, hingga September memang hal yang wajar terjadi. Siklus tahunannya memang seperti ini karena kita berada di musim kemarau. Nanti pada akhir Juli sampai Agustus merupakan puncak musim kemarau sehingga udara akan terasa lebih dingin,” jelasnya.

Selain suhu malam yang lebih rendah, mbediding juga ditandai dengan kelembapan udara yang menurun, curah hujan yang sangat rendah, serta perbedaan suhu siang dan malam yang cukup besar.

BPBD Kota Batu mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dampak fenomena tersebut terhadap kesehatan maupun sektor pertanian dan peternakan. Bayi, lansia, serta penderita penyakit pernapasan dinilai lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat suhu dingin.

Di sektor pertanian, suhu yang terlalu rendah di kawasan dataran tinggi juga berpotensi memicu munculnya embun es (frost) yang dapat merusak tanaman tertentu. Sementara itu, ternak berisiko mengalami stres dingin apabila kandangnya tidak terlindungi dengan baik.

Untuk mengurangi dampak mbediding, BPBD mengimbau masyarakat mengenakan pakaian hangat saat malam dan pagi hari, menjaga daya tahan tubuh dengan makanan bergizi dan istirahat yang cukup, melindungi tanaman yang sensitif terhadap suhu rendah menggunakan naungan atau plastik mulsa, serta memastikan kandang ternak tetap tertutup dan hangat.

BPBD juga meminta masyarakat terus memantau informasi cuaca resmi yang dikeluarkan BMKG sebagai acuan menghadapi perkembangan kondisi cuaca selama musim kemarau. (*)

Tombol Google News

Tags:

Fenomena Mbediding Musim Kemarau Bpbd Kota Batu Info Kota Batu Berita Kota Batu