KETIK, LUMAJANG – Belasan pendaki tampak duduk melingkar mengelilingi sebuah meja semen berlapis porselen di salah satu warung di kawasan Ranu Pani, akhir pekan lalu.
Dari atas meja, asap mengepul dari teko yang terus dipanaskan menggunakan kayu bakar di bawahnya.
Suara kayu yang terbakar dan percikan bunga api menghangatkan suasana malam yang dingin.
“Ya ini yang namanya pawon Tengger. Pawon seperti ini ada di semua rumah di sini,” ujar Joko, pemilik warung di salah satu jalur pendakian Gunung Semeru tersebut.
Bagi masyarakat Tengger, pawon bukan sekadar tungku untuk memasak atau menghangatkan tubuh. Pawon memiliki makna yang lebih dalam sebagai bagian dari kehidupan spiritual dan sosial masyarakat.
Dalam kepercayaan masyarakat Tengger, pawon dijaga oleh Kaki Thowok dan Nini Thowok yang diyakini sebagai roh leluhur pelindung. Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat menyiapkan sesaji yang diletakkan di area pawon.
Akademisi Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang, Purnawan Dwikora Negara, menjelaskan bahwa pawon menempati posisi penting dalam struktur budaya masyarakat Tengger.
“Tamu yang terhormat atau yang sudah dianggap saudara akan diterima di pawon,” kata Purnawan.
Menurut pria yang akrab disapa Pupung itu, pawon juga menjadi ruang komunal bagi masyarakat Tengger yang dikenal memiliki budaya kebersamaan kuat.
“Secara kultural, masyarakat Tengger itu komunal. Pawon menjadi tempat mereka untuk berdiskusi, ngobrol, dan menularkan nilai-nilai Tengger,” ujarnya.
Tak hanya itu, pawon juga mengandung nilai filosofis yang tercermin dalam praktik sehari-hari.
“Dalam memasukkan kayu bakar ke tungku misalnya, kita tidak bisa seenaknya. Harus ujungnya terlebih dahulu. Ini sebagai bentuk penghormatan kepada pohon yang telah menyediakan kayu,” tutur Pupung. (*)
.png)