KETIK, SURABAYA – Pada periode masa pancaroba Oktober 2026, suhu udara semakin terasa panas dan gerah pada malam hari.
Menurut Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda, Sidoarjo menyebut fenomena tersebut terjadi karena tutupan awan masih banyak pada malam hari.
Prakirawan BMKG Juanda, Bhirda menjelaskan bahwa awan bisa menghambat pelepasan radiasi panas dari permukaan bumi. Akibatnya suhu pada malam hari tidak cepat turun.
“Kondisi gerah pada malam hari terjadi ketika langit tertutup awan dan suhu serta kelembaban udara masih terasa relatif tinggi” ujarnya ketika dihubungi Ketik.com, Rabu, 7 Oktober 2026.
Menurut dia, sebagian wilayah di Jatim bulan Oktober masih dalam musim kemarau. Peralihan ke musim hujan ditandai dengan meningkatnya dinamika cuaca lokal.
“Siang hari terasa sangat panas. Namun dalam waktu singkat berubah menjadi mendung, hujan dan angin kencang,” kata Bhirda.
Namun, kondisi gerah pada malam hari tidak selalu berarti suhu udara sangat tinggi. Terjadinya gerah merupakan kombinasi antara suhu dan kelembaban udara.
Pada saat kelembaban tinggi, penguapan keringat dari tubuh menjadi lambat. Akibatnya keringat dalam tubuh lebih sulit dilepas dan udara terasa lebih pengap.
Menurut Bhirda, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai pada musim pancaroba. Diprediksi terjadi hujan lebat secara tiba-tiba.
Wilayah yang pagi atau siang panas dan cerah dapat mengalami perubahan awan konvektif pada siang hingga sore hari.
Pertumbuhan awan Cumulonimbus juga bisa menghasilkan petir, hujan lebat dan embusan angin kencang dalam waktu relatif singkat.
“Perlu diwaspadai kemungkinan angin kencang dan puting beliung,” kata Bhirda. (*)
