Lagu Sunda yang Diperkenalkan Bupati Purwakarta Viral Dianggap Rendahkan Perempuan, Begini Liriknya

2 Juli 2026 08:59 2 Jul 2026 08:59

M. Rifat, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Lagu Sunda yang Diperkenalkan Bupati Purwakarta Viral Dianggap Rendahkan Perempuan, Begini Liriknya

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein (FotoL Humas Pemkab Purwakarta)

KETIK, PURWAKARTA – Lagu berbahasa Sunda berjudul "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" yang diperkenalkan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, akrab disapa Om Zein, menjadi perbincangan hangat media sosial. Bukan karena unsur musikalitasnya, melainkan isi lirik yang dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan hingga memicu kritik. 

Lagu tersebut pertama kali diperdengarkan dalam rangkaian acara Hajat Bumi di Lingga Mukti. Awalnya, karya itu disebut sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Namun, setelah potongan liriknya tersebar luas di berbagai platform media sosial, muncul gelombang kritik yang menilai isi lagu justru mengandung candaan sensitif terkait pengalaman biologis perempuan.

Beberapa bagian lirik dianggap menampilkan sudut pandang yang mengagungkan laki-laki dengan cara membandingkannya terhadap kondisi yang dialami perempuan. Hal itu kemudian memunculkan perdebatan mengenai batas antara humor, ekspresi seni, dan penghormatan terhadap perempuan.

Berikut lirik lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejat" yang menjadi sorotan publik:

Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)

Cacak mun jadi awewe (Andai saja jadi perempuan)

ES-Em-Pe kelas tilu (SMP kelas tiga)

Tos Karuron tujuh kali (Sudah keguguran tujuh kali)

Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)

Teu Kudu Meuli Kutang (Tidak usah membeli bra)

Nu busana leuwih gede batan susu (Yang busanya lebih besar daripada payudara)

Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)

Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek (Tidak usah keluyuran mencari apotek)

Alatan telat bulan (Karena telat bulan datang bulan)

Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)

Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)

Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata (Tidak usah melukis alis dan bulu mata)

Sakalina ngiceup hese beunta (Yang sekali berkedip susah melek)


Lalaki langit (Lelaki langit) Lalanang bejad (Lelaki bejat) Lirik tersebut menjadi bahan diskusi publik karena dinilai menyinggung persoalan biologis perempuan, mulai dari kehamilan, menstruasi, hingga penggunaan atribut perempuan sebagai materi humor. Sejumlah warganet menilai penyampaian pesan seperti itu berpotensi memperkuat stereotip gender dan tidak mencerminkan penghormatan terhadap perempuan.(*)

Tombol Google News

Tags:

bupati purwakarta Lagu Bupati Purwakarta Lagu Sunda