KETIK, SURABAYA – Ratusan jamaah Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) mengikuti Salat Istisqa’ yang dilaksanakan setelah Salat Jumat di masjid setempat sebagai bentuk ikhtiar menyikapi kondisi cuaca dan fenomena kemarau panjang yang melanda wilayah Jawa Timur.
Salat Istisqa’ dilaksanakan di ruang utama MAS setelah Salat Jumat. Salat tersebut dipimpin oleh imam MAS KH Abdul Hamid Abdullah, M.Si., sementara khatib adalah Prof. Dr. K.H.M. Ali Azis, M.Ag. Salat Istisqa’ dilaksanakan dua rakaat dengan tujuh takbir pada rakaat pertama dan lima takbir pada rakaat kedua.
Dalam khutbahnya, Prof. Dr. K.H.M. Ali Azis, M.Ag., menegaskan bahwa Salat Istisqa’ dalam bahasa Arab merupakan salat untuk memohon turunnya hujan. Pelaksanaannya dapat dilakukan dengan beberapa cara, yakni dilaksanakan di luar Salat Jumat, bersamaan dengan Salat Jumat, atau melalui doa dalam setiap salat.
“Mengapa ada Salat Istisqa’? Ada dua alasan. Pertama, sunnah Rasulullah untuk meminta, tetapi soal dikabulkan adalah kehendak Allah dan manusia tidak bisa turut campur. Kedua, ikhtiar batiniah untuk mengiringi ikhtiar lahiriah sebagai bentuk taubat kepada Allah atas ulah dan dosa manusia. Yang penting, manusia tidak diam karena ada hewan yang kesulitan, tanaman yang kering, dan masyarakat yang kesulitan air,” katanya.
Secara lahiriah, pemerintah dapat melakukan operasi modifikasi cuaca dengan hujan buatan yang membutuhkan biaya ratusan juta rupiah, bahkan lebih apabila dilakukan beberapa kali.
“Cara lahiriah yang juga penting adalah ikhtiar batiniah sebagai sarana taubat yang harus diiringi dengan ikhtiar lahiriah sebagai evaluasi, di antaranya tidak melakukan illegal logging, melakukan penghijauan, dan sebagainya,” katanya.
Sebelumnya, pelaksanaan Salat Istisqa’ merupakan imbauan dari Pimpinan Wilayah (PW) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Timur sebagai bentuk respons terhadap kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut.
“Surat imbauan Nomor 192/PW-DMI/JTM/IX/2026 tertanggal 21 September 2026 itu menginstruksikan pelaksanaan Salat Istisqa’ sebelum atau sesudah Salat Jumat pada 25 September 2026,” kata Sekretaris PW DMI Jatim, Drs. H. Suhadi.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan berlangsung hingga pertengahan atau akhir Oktober 2026 akibat fenomena El Niño yang berpengaruh hingga awal 2027. Awal musim hujan diperkirakan terjadi pada November atau Desember 2026. (*)
