Kampanye Selamatkan Habitat Orangutan Tapanuli, Pesepeda Ini Tempuh 1.700 Kilometer

6 Agustus 2026 23:27 6 Agt 2026 23:27

M. Tohir, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Kampanye Selamatkan Habitat Orangutan Tapanuli, Pesepeda Ini Tempuh 1.700 Kilometer

Salah satu anggota komunitas Chemong, Fitri Utami menjalankan ekspedisi bersepeda sejauh 1.700 kilometer melintasi Sumatera untuk mengampanyekan penyelamatan habitat Orangutan Tapanuli dan pelestarian hutan. (Foto: M. Tohir/Ketik)

KETIK, PALEMBANG – Di tengah cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino, lima pesepeda yang tergabung dalam komunitas Chemong mengayuh sepeda sejauh 1.700 kilometer melintasi Pulau Sumatera.

Perjalanan panjang tersebut bukan sekadar ekspedisi olahraga, melainkan kampanye untuk mengajak masyarakat menjaga habitat Orangutan Tapanuli yang kini semakin terancam.

Ekspedisi yang digelar bersama organisasi lingkungan Satya Bumi itu mengusung tema "No Second Home, Restore Their Forest".

Tim menargetkan tiba di kawasan Batang Toru, Sumatera Utara, pada 19 Agustus 2026, bertepatan dengan Hari Orangutan Internasional.

Komunitas Chemong yang beranggotakan Jawahir, Fadlan, Fitri Utami, Very Sanovri, dan Mario telah menempuh sekitar 600 kilometer sejak berangkat dari Jakarta.

Sepanjang perjalanan, mereka mendokumentasikan berbagai persoalan lingkungan yang ditemui di Pulau Sumatera, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, hilangnya tutupan hutan alami, hingga meluasnya kawasan tanaman industri yang menggantikan vegetasi asli.

Menurut mereka, kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan habitat satwa endemik, khususnya Orangutan Tapanuli yang hanya hidup di kawasan Batang Toru.

"Harapan kami sederhana yakni bisa melihat orangutan langsung di habitatnya. Tapi lebih dari itu, kami ingin masyarakat tahu bahwa jika hutan Batang Toru hilang, orangutan Tapanuli tidak punya rumah kedua. Mereka akan punah," ujar Fitri Utami.

Berdasarkan berbagai kajian konservasi, populasi Orangutan Tapanuli diperkirakan tersisa kurang dari 800 individu di alam liar sehingga menjadikannya salah satu spesies kera besar paling langka di dunia.

Karena itu, tim ekspedisi ingin menjadikan perjalanan tersebut sebagai media edukasi agar masyarakat lebih peduli terhadap pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Selain menyoroti nasib Orangutan Tapanuli, para pesepeda juga mengajak masyarakat memulai kepedulian terhadap lingkungan dari kebiasaan sederhana.

"Kita membuang sampah pada tempatnya atau puntung rokok kita biasakan juga di tempat yang aman," kata Fadlan.

Selama melintasi Sumatera, mereka mengaku masih sering menjumpai kebakaran lahan serta berkurangnya hutan alami yang berganti menjadi kawasan industri.

"Kita jarang melihat yang benar-benar pohon induk. Kita hanya melihat pohon-pohon industri yang umurnya beberapa tahun atau beberapa bulan yang akan dipanen kembali," ujarnya.

Di sisi lain, cuaca panas ekstrem akibat El Nino menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta. Mereka harus menghadapi risiko dehidrasi yang cukup tinggi selama mengayuh sepeda di jalan raya.

Mario mengatakan, misi utama ekspedisi bukan sekadar mencapai garis finis di Batang Toru, tetapi membangun kesadaran publik bahwa kerusakan hutan akan berdampak langsung terhadap kehidupan manusia.

"Isu lingkungan harus kita kedepankan. Perilaku sehari-hari menentukan masa depan hutan. Kami ingin masyarakat sadar bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah, tapi kepedulian kita semua," katanya.

Komunitas Chemong juga menyoroti berbagai aktivitas yang dinilai memberi tekanan terhadap kawasan Batang Toru, seperti pertambangan emas, proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA), dan pengembangan energi panas bumi.

Mereka berharap pemerintah lebih serius memperkuat perlindungan kawasan hutan agar habitat Orangutan Tapanuli tetap terjaga.

"Kami ingin pemerintah serius menegakkan perlindungan hutan. Jangan hanya cabut izin, tapi benahi masalah dari akar. Hutan adalah benteng terakhir. Restore their forest, no second home," pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Chemong Satya Bumi Orangutan Tapanuli Batang Toru Hutan Sumatera Deforestasi El Nino Lingkungan Hidup Berita Nasional Info Nasional