KETIK, BITUNG – Aktivitas galian C di Kelurahan Pinokalan, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, yang menjadi sorotan setelah viral di media sosial, mendapat tanggapan dari pihak pengelola.
Bambang, selaku pengelola lokasi, mengakui kegiatan tersebut hingga kini belum mengantongi izin, namun dia menyebut aktivitas yang dilakukan merupakan pekerjaan pematangan lahan.
“Izin memang belum ada. Lokasi itu merupakan pekerjaan pematangan lahan. Sebelum melakukan kegiatan, kami sudah berkoordinasi terlebih dahulu,” terang Bambang, kepada wartawan saat dikonfirmasi, Kamis 8 Oktober.
Menurutnya, pihak pengelola tidak bermaksud mengabaikan ketentuan yang berlaku. Ia bahkan menyatakan siap menghentikan aktivitas apabila aparat penegak hukum (APH) memberikan perintah untuk menutup lokasi tersebut.
“Kalau memang diperintahkan untuk ditutup, ya kami tutup. Tetapi kami ingin menyelesaikan pembicaraan terlebih dahulu dengan pemilik lahan,” katanya.
Bambang juga menanggapi keluhan warga terkait abu atau debu yang disebut muncul akibat aktivitas di lokasi. Ia meminta persoalan tersebut tidak serta-merta dikaitkan hanya dengan kegiatan di lokasi galian.
“Soal debu, kita tahu bersama bukan hanya di Pinokalan. Hampir di seluruh wilayah Kota Bitung juga banyak debu. Itu juga dampak dari kondisi El Nino dan cuaca yang kering,” ungkapnya.
Selain persoalan debu, Bambang membantah dugaan bahwa lahan tersebut sengaja dibakar untuk memperluas area kegiatan.
“Untuk masalah pembakaran, kita tahu bersama bahwa sebelum kegiatan galian dilakukan, lokasi itu sudah terbakar. Tidak mungkin kami yang membakar hanya untuk perluasan kegiatan galian C,” tegasnya.
Ia berharap apabila pemerintah maupun APH melakukan penertiban terhadap aktivitas galian C di Kota Bitung, langkah tersebut dilakukan secara adil dan tidak tebang pilih.
“Kalau memang harus dihentikan, kami siap. Tapi jangan hanya kami yang diberhentikan untuk berkegiatan, harus berlaku untuk semuanya,” ujarnya.
Bambang mengaku penghentian aktivitas secara tiba-tiba juga dapat berdampak kepada para sopir angkutan material yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan tersebut.
“Kasihan juga para sopir kalau tidak ada muatan. Istri dan anak mereka mau makan apa,” katanya.
Seorang sopir yang ditemui di lokasi turut berharap adanya solusi bagi pekerja. “Kalau ditutup, kami mau makan apa. Di lokasi bukan cuma sopir orang Bitung, bahkan ada sopir dari luar daerah yang datang mencari nafkah di Bitung,” keluhnya.
Para sopir berharap pengusaha bersama pihak berwenang dapat mencari jalan keluar yang tetap memperhatikan ketentuan hukum sekaligus nasib masyarakat yang bergantung pada pekerjaan angkutan material. (*)
